Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas , dikukuhkan Guru Besar ke 488

Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas , dikukuhkan Guru Besar ke 488

Prof Safruddin SPi MP PhD. foto: istimewa

 

Bacaan Lainnya
 

MAKASSAR, Upeks.co.id — Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas), Safruddin SPi MP PhD, resmi dikukuhkan sebagai guru besar atau profesor di Ruang Senat Lantai 2 Gedung Rektorat Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Selasa (24/10/2023).

Safruddin dikukuhkan sebagai guru besar ke-488 Unhas pada Pidato Pengukuhan dan Penerimaan Jabatan Profesor dalam Bidang Ilmu Oseanografi Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas dengan judul ‘Pengaruh Oseanografi Perikanan terhadap Pembentukan Fishing Ground Ikan Pelagis di WPPNRI 713 Berbasis Teknologi Remote Sensing untuk Mendukung Pencapaian SDGs’.

Dalam pidatonya sebagai guru besar, Safruddin menyampaikan sebagaimana diketahui bersama, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar yang terdiri atas lebih dari 17.500 pulau-pulau dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah negara Kanada yaitu lebih dari 95.181 Km dengan wilayah perairan sekitar 70 persen dari total wilayah Republik Indonesia (Dahuri, 2019).

“Dengan kondisi geografis yang sangat strategis ini, negara kita memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar, bahkan melimpah ruah. Total nilai ekonomi kita pada tahun 2014 yang bersumber dari sektor kelautan dan perikanan saja diperkirakan mencapai 1,2 triliun USD/tahun, atau sekitar 1,2 kali PDB (Produk Domestik Bruto) dan 8 kali APBN, dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 40 juta orang (Dahuri, 2015). Besarnya potensi tersebut, hanya termanfaatkan sebesar 22 persen per tahun (Dahuri, 2015),” ujarnya.

Safruddin mengatakan, berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) No. 19 Tahun 2022, potensi perikanan tangkap di perairan Indonesia dapat mencapai 12,01 juta ton per tahun dengan estimasi Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB) untuk menjaga keberlanjutan kelestarian sumber daya ikan, yaitu sebesar 9,61 juta ton per tahun. Namun, demikian, tingkat pemanfaatan dari potensi tersebut masih di kisaran 6,60 juta ton (2017), sehingga masih dapat ditingkatkan dalam batas kelestarian sumber daya ikan sebanyak 3,01 juta ton per tahunnya.

“Hal ini menunjukkan perlunya kebijakan dan strategi, tidak hanya dalam optimalisasi pemanfaatan sumber daya ikan, tetapi juga kebijakan dan strategi yang efektif dan efisien untuk menjangkau seluruh Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Indonesia (WPPNRI) yang sustainably exploitable (dapat dieksploitasi secara berkelanjutan) dan berdaya saing produktif,” katanya.

Safruddin menjelaskan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia kemudian menerjemahkan SDG 14 dengan lima pilar Kebijakan Ekonomi Biru (Blue Economy), yaitu (1) memperluas kawasan konservasi, (2) penangkapan ikan terukur berbasis kuota, (3) pembangunan budidaya laut, pesisir dan daratan yang berkelanjutan, (4) pengawasan dan pengendalian kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, dan (5) pembersihan sampah plastik di laut melalui gerakan pastisipasi nelayan atau Program Bulan Cinta Laut.

Salah satu yang menjadi perhatian SDG 14 dalam hal optimalisasi pemanfaatan sumber daya perikanan adalah penerapan penangkapan ikan yang ramah lingkungan yang didukung penyediaan data dan informasi oseanografi perikanan.

Di era digitalisasi saat ini, pendekatan remote sensing (penginderaan jauh) melalui analisis data citra satelit oseanografi perikanan telah digunakan untuk penentuan fishing ground (daerah potensial penangkapan ikan), sehingga memudahkan para pelaku usaha perikanan dalam operasional penangkapan ikan agar efektif dan efisien.

Menurutnya, Wilayah Pengelolaan Perikanan Negeri Republik Indonesia 713 yang meliputi wilayah Selat Makassar, Laut Flores, Laut Bali, dan Teluk Bone dengan luas perairan terpetakan sekitar 8.927,3 km2, perlu mendapat perhatian khusus dikarenakan potensi dan kontribusi produksi yang menjanjikan (significant) untuk mendukung produksi ikan nasional.

Potensi sumber daya ikan laut yang didominasi ikan pelagis harus dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat (pencapaian SDGs).

“Pemanfaatan ini mutlak membutuhkan teknologi satellite and acoustical remote sensing. Peta tematik berbasis data citra satelit oseanografi tentang potential fishing ground ikan pelagis secara spatial dan temporal telah dikembangkan di Laboratorium Sistem Informasi Perikanan dan Geospatial Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas,” jelasnya.

“Informasi ini dapat dimanfaatakan stakeholder terutama pelaku usaha perikanan tangkap, sehingga dapat mengatur kalender penangkapan dan memilih jenis alat penangkapan ikan yang sesuai dengan target tangkapan,” tambahnya.

Dikatakan, data citra satelit oseanografi resolusi tinggi dapat diperoleh melalui kolaborasi dengan mitra strategis seperti: Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) termasuk pula dengan mitra kolaborasi luar negeri di antaranya dengan Marine Technology Cooperation Research Center (MTCRC) Korea-Indonesia yang telah memiliki Momerandum of Understanding dan perjanjian kerja sama dengan FIKP Unhas.
Dukungan kapal riset dan perlengkapan alat hidroakustik (seperti scientific SONAR, echosounder, dan ROV) dan peralatan oseanografi (seperti CTD dan current meter) wajib dimiliki untuk mendukung ketersediaan data in-situ dan informasi tentang kondisi stok dan kondisi oseanografi di WPPNRI 713 dalam siklus tahunan.

Teknologi hidroakustik akan lebih memudahkan peneliti untuk memahami sebab-akibat perubahan yang terjadi pada ekosistem laut, misalnya pengaruh eksploitasi dari spesies ikan tertentu terhadap perubahan populasi sumber daya perairan lainnya termasuk fungsi dan strukturnya dalam ekosistem.

Informasi stok ikan yang akurat sangat diperlukan dan merupakan kunci dalam pengelolaan sumber daya ikan pelagis menuju pencapaian SDGs.

Pemanfaatan operasional Kapal Riset Unhas Explorer, dan kolaborasi riset dengan berbagai mitra dalam dan luar negeri merupakan harapan baru untuk mewujudkan pengelolaan perikanan tangkap berbasis pendekatan ilmiah yang dapat diandalkan.

Guru besar (profesor) yang disandang Safruddin mendapatkan ucapan selamat dari rekan sejawat dan keluarga, salah satunya Kabag Humas Universitas Islam Makassar (UIM), dr Wachyudi Muchsin SKed SH MKes CMed, yang hadir langsung dalam pengukuhan guru besar Safruddin.

“Semoga ilmunya bermanfaat untuk masyarakat dan kampus mendukung tridharma perguruan tinggi, khususnya dunia kesehatan, sebab ikan kaya akan kandungan omega 3, jika dikonsumsi sangat bermanfaat untuk kesehatan,” kata Dokter Koboi, sapaan akrab Wachyudi Muchsin. (***)