Bahtiar: Sulsel Pernah Jadi Pusat Dagang Dunia

Bahtiar: Sulsel Pernah Jadi Pusat Dagang Dunia

MAKASSAR, UPEKS.co.id — Sulawesi Selatan pernah tercatat dalam sejarah. Sebagai pusat dagang dunia. Jika menelisik catatan sejarah. Sulsel dulu semasa Pemerintahan Hindia Belanda disebut Jong Celebes. Punya catatan sejarah sebagai pusat dagang dunia.

Ini tercermin dari meningkatnya lalu lintas barang melalui jalur laut Selat Makassar. Meliputi Pelabuhan Soekarno-Hatta di Makassar dan Pelabuhan Nusantara di Kota Parepare. Di masa datang, perlu dikembangkan jalur laut melalui Teluk Bone.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut diungkapkan Pj Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin, saat berbicara di hadapan 400 mahasiswa Universitas Bosowa (Unibos).

Pada seminar nasional yang mengangkat tema Inovasi Kolaborasi yang Inklusif Menuju Sumber Daya Manusia Unggul dan Kompetitif, Rabu (4/10/2023).

“Dulu Jong Celebes sebagai pusat dagang dunia ditandai lalu lintas barang melalui Selat Makassar, maka di masa datang dikembangkan lalu lintas barang melalui Teluk Bone,” paparnya.

Pj Gubernur Bahtiar menjelaskan, penduduk Sulsel sekitar 9 juta jiwa punya potensi Sumber Daya Alam (SDA) melimpah untuk dikelola secara baik dan berkelanjutan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di daerah ini.

“Sulawesi Selatan punya SDA yang melimpah sehingga mesti ditunjang dengan SDM yang profesional dari beragam profesi dapat diberdayakan untuk meningkatkan produktifitas potensi SDA di daerah ini,” ujarnya saat menghadiri serangkaian kegiatan Dies Natalis ke 37 Tahun Universitas Bosowa (Unibos).

Ia menambahkan, sampai saat ini nikel dan komoditi biota laut seperti ikan dan udang menjadi komoditi ekspor unggulan yang mampu menopang perekonomian Sulsel, yang tumbuh diatas 5 persen pada triwulan ketiga tahun 2023.

“Biota laut dan Nikel menjadi komoditi unggulan ekspor daerah ini, kita berharap ke depan tanaman holtikultura melalui budidaya pisang juga menjadi komoditi ekspor unggulan,” paparnya.

Olehnya itu, Pj Gubernur Bahtiar pun mengimbau pada mahasiswa Universitas Bosowa untuk turut mengembangkan budidaya komoditi holtikultura seperti tanaman pisang. Lahan yang tidak produktif dapat diberdayakan dan dijadikan sumber penghasilan utama.

“Kami mengajak perguruan tinggi, khususnya mahasiswa Universitas Bosowa untuk turut mengembangkan budidaya pisang. Berdayakan lahan tidur menjadi produktif,” pungkasnya.

Prof Agus Pramusinto sebagai Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), Prof Haeruddin Saleh sebagai Vice 1 Rektor Universitas Bosowa, dan Didik Iskandar sebagai Moderator dan Dosen Unibos turut hadir pada Seminar Nasional tersebut. (*)