Adat Mappacci, Pemenang I Kompetisi Film Pendek Islami Kemenag Sulsel

Adat Mappacci, Pemenang I Kompetisi Film Pendek Islami Kemenag Sulsel

Makassar, Upeks–Film berjudul “Adat Mappacci” menjadi pemenang I pada ajang Kompetisi Film Pendek Islami (KFPI) yang digelar Kanwil Kementerian Agama Sulsel. Pengumuman pemenang berlangsung Selasa, 19 September 2023, di Aula Kanwil Kemenag Sulsel.

Selain Adat Mappaci (karya Randa Librianto/asal Soppeng) yang berhasil menyisikan 30 judul film lainnya, juga diumumkan pemenang kedua, dengan judul Napak Tilas Datuk Patimang dan Andi Pattiwari (Rahmat Aries/Luwu Utara), pemenang ketiga, Tradisi Adat Rongkong: Pembagian Harta Warisan Mana’ Simanai (Rahmat Aries/Luwu Utara), dan pemenang keempat (favorit), diraih film berjudul Jejak Islam di Bulukumba: Perjalanan Cinta dan Kebijaksanaan (Rahmawati/Bulukumba). Pemenang I mendapat hadiah uang tunai Rp6 juta.

Bacaan Lainnya
 

Penyerahan nama pemenang film pendek islami dengan genre film dokumenter terbaik 1 hingga 4, oleh Dewan Juri yang terdiri dari Muhammad Arief Sutisna (Akademisi dari Jakarta), Drs. Asri Hidayat Mahulauw (Budayawan Sulsel), Apt. Alwiyah Nur Syarif, M.Si (Moderat Milenial Agent) Sulsel, dan Andi Rezal Juhari (Penggiat Film Dokumenter), kepada Kabid Penaiszawa, H. Abdul Gaffar, disaksikan Kabag TU, H. Ali Yafid, mewakili Kakanwil Kemenag Sulsel.

Ajang KFPI yang bertema “Agama dan Budaya 2023”, diikuti sebanyak 31 film. Penilaian berlangsung 18 hingga 19 September 2023. Film yang dilombakan secara keseluruhan berasal dari karya anak daerah, dari berbagai kabupaten dan kota di Sulsel.

Kabag TU H Ali Yafid dalam sambutannya, mengapresiasi kegiatan KFPI, terlebih antusiasme peserta yang telah mengirimkan karya karyanya yang menunjukkan minat para peserta, dalam memproduksi film dokumenter sangat baik.

“Ini guna mendorong kreasi anak muda menghasilkan karya seni dalam bentuk film pendek sesuai dengan kearifan budaya lokal masing masing, dengan tetap mengutamakan prinsip prinsip ajaran agama,” ujarnya.

Kabid Penaiszawa, H. Abdul Gaffar berharap, eksistensi film dokumenter yang bertema agama dan budaya dapat dipertahankan di tengah-tengah msyarakat, untuk dapat menjadi media dakwah, penyampai informasi kepada khalayak, akan pentingnya norma agama dan budaya lebih dijunjung tinggi, sebagaimana karakter dan kepribadian masyarakat.

Penyelenggara kegiatan, Wahyadi melaporkan kompetisi ini bertujuan menyiarkan agama Islam kepada masyarakat, mengembangkan, melestarikan, dan menggali potensi dalam berkreatifitas dengan menggunakan teknologi, melestarikan seni budaya serta menjaga kearifan lokal yang bernuansa Islam, meningkatkan rasa cinta dan bangga terhadap seni budaya Islam, dan memberikan kesempatan berkreatifitas, dan menyuarakan agama Islam pada generasi muda.

“Antusiasme peserta dalam even ini terlihat meningkat, dibuktikan dengan banyaknya film yang masuk, sebanyak 31 film, dari tahun lalu hanya 10 film yang masuk,” ungkapnya.

Meski demikian, lanjutnya, masih disayangkan karena banyak film yang masuk, tidak sesuai dengan genre film dokumenter, kebanyakan dalam bentuk fiksi. Semoga ke depan film-film yang dikirim lebih bersifat kepada dokumenter. (rls)