Buka Pelatihan Peningkatan Lembaga Perlindungan Perempuan, Bupati Beberkan Faktor Pemicu Kekerasan

Buka Pelatihan Peningkatan Lembaga Perlindungan Perempuan, Bupati Beberkan Faktor Pemicu Kekerasan

ENREKANG,UPEKS.co.id— Dalam rangka Penguatan dan pengembangan Lembaga Penyedia Layanan Perlindungan Perempuan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Enrekang menggelar pelatihan peningkatan kapasitas sumber daya Lembaga Penyedia Layanan Penanganan bagi perempuan korban kekerasan.

Acara ini digelar selama dua hari, yakni 31 Juli hingga 1 Agustus 2023 di Pendopo Rujab Bupati, dan dibukan langsung Bupati Enrekang Muslimin Bando.

Bacaan Lainnya

Hadir sebagai Pemateri Meisy Papayungan, MSc.PH  Kabid PPPA Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sul Sel.

Selain pemateri dari Provinsi, DP3A Kabupaten Enrekang juga menggandeng  Kanit PPA Polres Enrekang, Dinas Pengendalian Penduduk dan KB, Dinkes dan Pol PP sebagai pemateri.

Bupati Enrekang dalam sambutannya menjelaskan kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga kadang dipicu oleh pasangan yang egois, tidak memiliki ilmu pengetahuan yang cukup, tidak memiliki agama yang bagus, tidak punya karakter yang baik sebagai kepala rumah tangga.

“Sehingga seenaknya saja menjadi otoriter kemudian memperlakukan istrinya sebagai pembantu rumah tangga, sebagai budak apalagi kalau istrinya tidak punya penghasilan sehingga selalu di hina”. Ujar Bupati.

Lanjut Bupati, Kadang kekerasan juga terjadi karena suami menutupi kesalahan yang dilakukan diluar rumah. Itulah yang disebut faktor moral.

“Boleh saja kepala rumah tangga bertingkah tidak positif dirumah karena sesungguhnya ada pelanggaran yang dilakukan. Karena mau melindungi dirinya jadi selalu lebih dulu marah-marah “. Kata Bupati.

Untuk itu dalam kesempatan ini, Bupati meminta agar semua Lembaga layanan kekerasan perempuan yang hadir pada pelatihan tersebut agar mengikuti kegiatan ini hingga akhir agar dapat bersama-sama dengan Pemerintah untuk meminimalisir terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk apapun.

Dia juga mengingatkan kepada para perempuan agar selalu bergaul dengan orang-orang yang berada dilingkungan yang positif.

Gaya hidup dan selera tinggi juga kadang memicu konflik dalam rumah tangga karena kemampuan ekonomi yang belum mumpuni dan ini cenderung dilakukan oleh para perempuan yang kadang memiliki sifat yang selalu ingin tampil berbeda setiap hari, sementara penghasilan suami pas-pasan.

“Pada akhirnya agama tetap menjadi pondasi utama dalam rumah tangga di ikuti oleh pendidikan karakter dan perekonomian yang baik”. Pungkas Bupati.

Pelatihan ini di ikuti oleh Para Camat, Kepala Desa, Kepala Puskesmas, Organisasi Perempuan,  LSM, Toko Masyarakat, Toko Agama, Pengawas TK, Pengawas SD, Kepala TK, Kepala SD, Kepala SMP, SMA dan perwakilan Masyarakat. (Sry)