Produksi Sampah Di Enrekang 100 Ton Perhari, Dinas LH Hanya Mampu Mengangkut 40 Ton

Produksi Sampah Di Enrekang 100 Ton Perhari, Dinas LH Hanya Mampu Mengangkut 40 Ton
ENREKANG, UPEKS.co.id — Sampah adalah salah satu masalah yang tak pernah dapat diselesaikan secara tuntas di Enrekang. Hal tersebut disebabkan berbagai faktor yang sangat kompleks seperti armada angkutan sampah yang belum memadai, tempat pembuangan akhir (TPA) yang sangat jauh, tempat sampah dibeberapa titik tertentu yang tak tersedia, minimnya edukasi tentang pengelolaan sampah di masyarakat dan kurangnya kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Enrekang, Gaswan mengatakan, saat ini pihaknya sementara menyusun proposal yang akan diajukan ke Bank Sulselbar untuk mendapatkan bantuan pengadaan bak sampah melalui program CSR.
Selain itu pihaknya akan intens melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait permasalahan dan penanganan sampah di masing-masing rumah tangga.
Kadis LH menjelaskan saat ini, pihaknya baru menangani sampah di 6 Kecamatan dari 12 Kecamatan yang ada di Enrekang yakni Kecamatan Maiwa, Cendana, Enrekang, Anggeraja, Baraka dan Alla.
” Enam Kecamatan ini, memang produksi sampahnya paling banyak. Kalau di Kecamatan lain masyarakat masih bisa menangani sampahnya sendiri karena produksi sampah mereka masih sedikit”. Ujar Gaswan.
Dia menjelaskan, produksi sampah di Kabupaten Enrekang setiap hari berkisar 100 ton, sementara yang mampu ditangani oleh Dinas Lingkungan Hidup baru sekitar 30 sampai 40 ton perhari. Menurutnya yang paling banyak produksi sampahnya adalah pasar.
” Rata-rata masyarakat kita memproduksi sampah 0, 5 kilagram perhari. Untuk itu kita akan mengedukasi masyarakat bagaimana cara mengelola sampah basah dan sampah plastik”. Tambahnya.
Menurutnya, jika saja masyarakat mau memisahkan antara sampah basah dan sampah plastik akan jauh lebih baik.
” Sampah plastik kan bisa di kumpul kemudian dijual. Bisa menghasilkan uang. Jadi memang yang harus digenjot adalah sosialisasi dan edukasi, termasuk jika ambil makanan secukupnya di piring, jangan terlalu banyak sehingga nanti tidak ada lagi sisa makanan yang tertinggal di piring. Sisa makanan itukan jadi sampah lagi”. Pungkasnya.
Begitu banyak hal yang akan dilakukan oleh Kadis LH terkait penanganan sampah, Namun perlu diketahui Gaswan dilantik sebagai Kadis LH baru sekitar sebulan lebih jadi wajar jika dirinya masih dalam proses identifikasi apa saja yang menjadi permasalahan dan bagaimana solusinya. (Sry)