Sikapi Pidato Megawati Soal Pengajian, Ulama Serukan Prasangka Baik

Sikapi Pidato Megawati Soal Pengajian, Ulama Serukan Prasangka Baik

JAKARTA,UPEKS.co.id— Salah satu upaya untuk bisa menjaga persatuan NKRI utamanya di tahun politik 2023 menjelang 2024, semua pihak harus bisa menghindari adanya prasangka buruk termasuk kepada narasi yang disampaikan oleh siapapun agar bangsa ini tidak mudah dipecah belah.

Mengenai adanya polemik dari pidato Megawati beberapa waktu lalu terkait ibu-ibu pengajian, Ketua DPC PDIP Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo mengungkapkan bahwa memang sejatinya pidato itu sama sekali tidak ada tendensi untuk menjelekkan agama. Terlebih, Megawati merupakan seorang Muslim.

Bacaan Lainnya
 

“Nggak ada maksud melecehkan, nggak ada. Kalau melecehkan di mana? Nggak ada tendensi yang lain menurut saya,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (Waketum MUI), Marsudi Syuhud juga menjelaskan bahwa pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati tidak dapat ditelan mentah-mentah, sehingga penafsiran sebenarnya ada pada yang bersangkutan.

“Kalo saya liat itu begini, bahwa tujuan orang ngomong pada satu statemen atau lafalnya adalah orang yang mengungkapnya, nah jika ada orang yang menanggapi statemen itu mungkin ada pasnya dan mungkin ada tidak pasnya” kata Kyai Marsudi dalam wawancara di sebuah stasiun televisi, Jumat (24/2).

Wakil Menteri Agama (Wamenag) KH Zainut Tauhid Sa’adi juga mengaku bahwa dirinya terus memiliki prasangka baik atas pidato Megawati.

“Saya berprasangka baik (husnudzon) terhadap apa yang disampaikan oleh ibu Megawati terkait dengan pernyataan beliau tentang ibu-ibu pengajian,” katanya.

Menurut Kyai Zainut, pidato mengenai ibu-ibu pengajian yang disampaikan oleh Ketum PDIP tersebut sama sekali bukan terkait dengan larangan pengajian.

Dia menjelaskan bahwa pidato tersebut berkaitan dengan imbauan kepada ibu-ibu untuk bisa lebih proporsional dalam mengatur waktu mereka, untuk mengurus rumah serta anak mereka. (ris)