Peran Perpustakaan “LONTARA “Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Meningkatkan Literasi Khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan

Peran Perpustakaan “LONTARA “Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Meningkatkan Literasi Khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan

 

Penulis : Mardiana M. Kamarullah

Bacaan Lainnya

Kondisi TUNA (Turbulence, Uncertainty, Novelty and Ambiguity) yang kini dihadapi menjadi tantangan multidimensi yang membutuhkan peningkatan literasi masyarakat. Literasi kini telah menjadi prasyarat resiliensi suatu bangsa, terutama untuk memberdayakan potensi ekonomi serta meningkatkan kompetensi yang produktif, sekaligus menjaga daya beli sehingga diharapkan dapat meminimalisir berbagai kemungkinan dampak penurunan ekonomi.

Dalam rangka menjadikan Perpustakaan BI sebagai center of literacy. Peran pustakawan BI sebagai frontliner sangat dibutuhkan, khususnya dalam memfasilitasi kebutuhan koleksi dan referensi terkait keilmuan ekonomi maupun dunia kebanksentralan yang dapat berkontribusi nyata dan inklusif untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sesuai Visi dan Misi BI mewujudkan bank sentral berbasis digital dalam kebijakan dan kelembagaan melalui penguatan organisasi, perpustakaan Lontara BI Prov. Sulsel juga berusaha meningkatkan peran dan bertransformasi menuju digital library 4.0.

Bersinergi dengan Undang-undang No 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan sebagai bentuk kesungguhan dalam membangun dan mengembangkan perpustakaan di negeri tercinta ini. Dalam undang-undang tersebut, perpustakaan diartikan sebagai suatu institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka (baca: pengguna perpustakaan).

Adapun tujuan perpustakaan adalah untuk memberikan layanan prima kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan dalam rangka mencerdaskan bangsa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perpustakaan merupakan tempat yang mampu memberikan informasi yang relevan bagi penggunanya melalui koleksi bahan pustaka yang dimilikinya.

Jika ditelisik lebih dalam, perpustakaan dapat dipandang sebagai refleksi peradaban dari suatu negara. Dalam perkembangannya, perpustakaan di banyak negara saat ini tidak hanya menjadi tumpukan buku saja tapi juga menjadi tumpukan informasi dan pusat kegiatan masyarakat. Sebut saja Multimedia Library di Auneau, Prancis yang selain menawarkan buku juga menyediakan video, musik, bahkan games terkini dengan akses free wifi yang sangat memadai.

Selanjutnya, ada Perpustakaan Umum Cedar Rapids di Amerika Serikat yang dengan cepat menjadi pusat kebudayaan masyarakat karena berbagai kegiatan yang diadakan dan dirancang khusus untuk menghidupkan masyarakat setempat.

Selain itu, ada pula Perpustakaan Umum Nothern Onondaga yang selain memiliki jutaan buku, jurnal, dan manuscript, juga menyediakan sebidang tanah yang dapat digunakan pemustaka untuk belajar praktik penanaman tanaman organik.

Mencengangkan bukan! Sejalan dengan perkembangan peranan perpustakaan, ternyata pergeseran juga mulai terjadi pada peranan pustakawan. Saat ini pustakawan tidak hanya sekedar book keeper, tetapi juga menjadi knowledge worker sehingga perannya amatlah krusial dalam memberikan literasi kepada masyarakat.

Pustakawan dewasa ini dituntut memiliki pribadi yang berjiwa muda, kreatif, melek teknologi, dan tingkat kepedulian yang tinggi sehingga mampu berkontribusi langsung dalam meningkatkan literasi masyarakat. Misalnya ketika pemustaka menanyakan suatu data atau informasi, pustakawan dituntut mampu memberikan data yang relevan.

Dengan adanya perkembangan teknologi di era digital ini, masyarakat memiliki ekspektasi lebih besar terhadap perpustakaan. Adanya layanan wifi seperti merupakan suatu kewajiban yang harus dimiliki oleh sebuah perpustakaan sehingga pemustaka dapat memperoleh keleluasaan dalam mengakses informasi di internet.

Selain itu, penyediaan komputer dengan spesifikasi yang mumpuni, literatur berbentuk e-book, aplikasi yang memudahkan pemustaka, video edukatif, dan layanan lainnya juga tidak kalah pentingnya untuk disediakan oleh perpustakaan.

Membaca tantangan hal ini, Bank Indonesia menyiapkan diri dalam menghadapi disrupsi ini dengan mengadakan berbagai penyempurnaan di segala lini pelaksanaan tugasnya yaitu di bidang kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan.

Peranan perpustakaan Bank Indonesia tentu memiliki kaitan yang sangat erat dengan pelaksanaan tugasnya, mengingat fungsi Bank Indonesia sebagai pendukung kegiatan riset dan kebijakan berbasis pengetahuan melalui kelengkapan koleksi yang sesuai dengan tugas Bank Indonesia.

Selain itu, perpustakaan Bank Indonesia juga dituntut aktif dalam melakukan diseminasi kebijakan melalui infrastruktur dan perangkat IT yang memadai. Sebagai bentuk implementasi Program Strategis 11 Bank Indonesia yaitu membangun sistem informasi Bank Indonesia yang sesuai dengan era digital, perpustakaan Bank Indonesia memperlihatkan komitmen penuhnya dalam memasuki era digital dengan menyediakan aplikasi perpustakaan bernama aplikasi iBi Library yang dapat diunduh lewat Google Play Store.

Perpustakaan Bank Indonesia menganut konsep library without wall yang dapat diakses 24 jam dan 7 hari dalam seminggu tanpa hari libur. Hal yang membuat iBi Library berbeda dengan perpustakaan digital lainnya adalah kekayaan konten lokal di bidang ekonomi moneter, sistem keuangan, dan sistem pembayaran yang berkualitas. Sudah barang pasti, literatur yang disediakan disana dapat menjadi sumber informasi yang kredibel bagi pemustaka mengingat sumber informasinya yang berasal dari bank sentral Republik Indonesia. Tidak hanya iBi Library yang mampu menawarkan koleksi digital, perpustakaan Bank Indonesia yang berlokasi di menara syafruddin Prawiranegara, Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta Pusat juga menyediakan berbagai koleksi online seperti JSTOR, Emerald, Asian Wall Street Journal, Financial Times, Orbis Bank Focu, BMI Research, Proquest dan masih banyak lagi.

Segala layanan ini tentunya mengikuti standar yang ditetapkan oleh lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan di bidang perpustakaan. Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia senantiasa berkoordinasi dan bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) untuk mendiskusikan pengembangan perpustakaan Bank Indonesia terutama dalam menghadapi era digital. Hal ini dibukti dengan akreditasi yang telah berhasil diraih oleh beberapa perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Sulawesi Selatan (Perpus Lontara BI Sulsel) yang berhasil dianugerahi akreditasi A dari Perpusnas RI pada tahun 2019 lalu. Disamping akreditasi tersebut, Perpustakaan BI Sulsel juga telah mendapatkan Sertifikasi ISO 9001:2015 pada tahun 2022.

Keberhasilan Perpus BI Sulsel tersebut tentunya dapat diraih berkat kesungguhannya dalam memberikan literasi kepada pegawai dan masyarakat secara umum. Kenapa pegawai? karena tidak dapat dipungkiri bahwa Perpus BI Sulsel merupakan perpustakaan khusus yang memiliki kewajiban utama untuk meningkatkan literasi pegawai BI terhadap segala informasi yang berhubungan dengan tugasnya sebagai pegawai BI.

Perpus BI Sulsel juga selangkah lebih maju dalam mengiplementasikan visi BI yaitu “Menjadi bank sentral digital terdepan yang berkontirbusi nyata terhadap perekonomian nasional dan terbaik di antara negara emerging markets untuk Indonesia maju” dengan menjalankan berbagai program berbasis IT yang user friendly seperti adanya fasilitas Digital Library berbasis website (Perpustakaan Lontara Digital BI Sulsel) yang menyediakan layanan berupa Absensi via website, News, Artikel, Ebook, dan Pembuatan katalog online seluruh koleksi buku Perpustakaan Lontara.

Melalui fitur ini, para pengunjung perpustakaan bisa melihat halaman sampul buku dan mengetahui rincian judul, pengarang, penerbit, tahun penerbitan, dan sinopsis dari seluruh buku yang menjadi koleksi Perpustakaan Lontara. Hal ini mempercepat dan mempermudah proses peminjaman buku, serta meminimalisir waktu interaksi antara petugas dan pengunjung perpusatakaan Lontara. Serta Informasi kegiatan BI Sulsel, Mengingat situs www.lontaralibrary.com bisa diakses oleh publik eksternal, keberadaan fitur/menu informasi kegiatan BI Sulsel pada situs dimaksud akan memberikan manfaat tambahan, baik bagi internal maupun eksternal BI Sulsel.

Dari perspektif internal, situs Perpustakaan Lontara bisa sekaligus difungsikan sebagai tambahan kanal komunikasi resmi BI Sulsel.

Selanjutnya, PerpusBI Sulsel juga menciptakan inovasi berupa Aplikasi Online yang dapat diinstal dan diakses pada masing-masing handphone pengguna menggunakan link lontaralibrary.com, selain itu juga akan diakses ke perpustakaan yang menerima bantuan Bank Indonesia berupa Pojok Baca BI atau disebut dengan “BI Corner”.

Pengunjung BI Corner dapat mengakses ketersediaan dan meminjam buku yang terdapat di Perpus BI Sulsel melalui BI Corner di perguruan tinggi/ atau sekolahnya masing-masing, sehingga diharapkan penerima fasilitas BI Corner di berbagai perguruan tinggi dan sekolah dimaksud dapat memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan seoptimal mungkin untuk mendukung kelancaran studi para mahasiswa dan siswanya.

Selain itu, komitmen untuk selangkah lebih maju di era digital juga tercermin dari keseriusan BI Sulsel menggarapa website yang melayani masyarakat umum khususnya di daerah Provinsi Sulsel.

Wajah perpustakaan Bank Indonesia terus bertransformasi guna memberikan dan meningkatkan literasi masyarakat di tengah era digital ini sehingga cita-cita mulia untuk mencerdaskan bangsa dapat diraih. So, Ayo ke Perpustakaan Lontara BI Sulsel.(rls)