Layanan Sosial Sentra Pangurangi Takalar Utamakan Pendekatan Kekeluargaan

Layanan Sosial Sentra Pangurangi Takalar Utamakan Pendekatan Kekeluargaan

TAKALAR,UPEKS.co.id— Layanan sosial Sentra Pangurangi Kementerian Sosial Kementerian Sosial yang terletak di desa Pattopakang, Kecamatan Mangara Bombang, Kabupaten Takalar, kini sudah  meliputi empat klaster. Mulai dari klaster anak, disabilitas, lansia hingga klaster kelompok rentan.

Termasuk melayani korban kebencanaan dan kedaruratan pada beberapa daerah yang meliputi Kabupaten Bone, Soppeng, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Kepulauan Selayar, Bulukumba dan Sinjai.

Bacaan Lainnya
 

Khusus untuk kelompok rentan, terdapat berbagai macam permasalahan sosial yang dilayani, seperti korban penggunaan napza, orang dengan HIV AIDS, gelandangan, pengemis, hingga perempuan yang rawan dari sisi sosial dan ekonomi.

Saat mengunjungi Sentra Pangurangi Takalar, Upeks bersama sejumlah media lain sempat bercengkrama dengan beberapa masyarakat penerima manfaat. Mereka dominan ada korban penggunaan napza.

Selama menjalani rehabilitasi sosial, para korban penggunaan napza mengaku mendapat layanan berbeda. Di Sentra Pangurangi Takalar, mereka mendapat layanan dengan pendekatan kekeluargaan. Terlebih, setiap Jumat ada jadwal kunjungan keluarga, dimana mereka bisa saling bercengkrama.

“Sudah hampir tiga bulan saya menjalani rehabilitasi. Semua pendamping kami sangat baik. Layanannya bagus, kalau sakit respon pendamping kami sangat cepat,” ungkap Rangga Firmansah di sela pertemuannya dengan kedua orang tuanya.

Pria berusia 22 tahun itu juga menceritakan dirinya yang terjerat penyalahgunaan narkoba. Awalnya dari pergaulan dengan teman sebayanya, kemudian memilih coba-coba hingga akhirnya ketergantungan. “Sampai akhinya saya masuk kesini. Pertama kali masuk, saya linglung. Tetapi sekarang sudah nyaman dan mulai bisa hidup normal. Apalagi disini kami rutin menjalankan salat lima waktu,” katanya.

Selain itu, pria berprofesi sebagai sopir barang lintas daerah ini juga mengaku diberikan pelatihan vokasional. “Saya selama disini mengikuti pelatihan menjahit. Sekarang masih proses belajar,” kata anak ketiga dari lima bersaudara itu.   

Sementara korban penyalahgunaan narkoba lainnya, Mahendra (28), saat mendapat kunjungan dari istri dan anaknya menjelaskan, dirinya menjalani rehabilitasi di Sentra Pangurangi Takalar atas permintaan keluarganya, yang tidak ingin dirinya terus-terusan kecanduan narkoba.

“Alhamdulillah, selama saya disini hampir dua bulan. Banyak sekali bedanya hidup saya ini. Selain dilatih keterampilan, kami juga diajarkan salat lima waktu dan setiap hari mendapat nasihat. Sekarang sdah tidak ada dipikiran mau pakai narkoba lagi,” kata Pria asal Lamongan Jawa Timur itu. 

Selama masa rehab, Mahendra yang mempersunting dara asal Bantaeng ini mengaku telah mengikuti beberapa pelatihan keterampilan, mulai dari tata boga, fotografer hingga menjadi barista.

Penyusun Laporan Program Rehabilitasi Sosial, Sentra Pangurangi Takalar, Kemensos, Ronald U Bau mengatakan, para penerima manfaat secara umum menjalani jadwal rutin setiap hari, termasuk latihan sesuai dengan keterampilan yang mereka minati.

Rutinitas setia harinya mulai dari bangun salat subuh, membersihkan tempat tidur, terapi fisik pagi, mandi dan sarapan, pelatihan vokasional sampai jam 11. Kemudian lanjut persiapan salat duhur dan makan siang, terapi mental spiritual, terapi fisik sore, salat dan makan malam, serta kegiatan mandiri sebelum istirahat pukul 21.00 wita.

“Dominan korban penggunaan napza yang terjerat itu karena empat faktor, mulai dari keinginan sendiri, keluarga, teman sebaya dan lingkungan. Kalau dari sisi pelayanan, disini kami utamakan pendekatan sosial,” katanya.

Selain korban narkoba, Sentra Pangurangi Takalar saat ini juga merawat beberapa lansia dan orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ. Merawat mereka tentu bukanlah hal mudah, butuh minimal kesigapan dan kesabaran.

Nur Ellitha Yulianingsih, Perawat Lansia dan ODGJ di Sentra Pangurangi menceritakan suka dukanya selama menjalani tugasnya, termasuk dengan orang dengan HIV AIDS.  Selama dua tahun menjalani tugasnya, Nur Ellitha mengaku jika pelayanan yang diberikan tidak hanya dari sisi medis saja, tetapi juga dengan pendekatan sosial kekeluargaan.

“Banyak pengalaman luarbiasa selama saya disini. Saya jadi tahu kehidupan para lansia, termasuk bagaimana kebutuhannya. Selain itu, untuk ODGJ kami juga selalu memberikan pelayanan kebutuhan dasar dari sisi medis. Mereka ini harus rutin kita perhatikan obatnya, tidak boleh terputus,” urainya. (eky)