Muhammad Fauzi Bangun Karakter Dari Kecil

Muhammad Fauzi Bangun Karakter Dari Kecil

Lahir di Jakarta. Ayah Aceh. Ibu Betawi. Tetapi Muhammad Fauzi memilih mengabdikan diri di Sulsel.

 

Bacaan Lainnya

Penulis : Jusuf Wahid

MENJADI anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulsel III, dipilihnya menjadi sarana memperjuangkan kepentingan rakyat yang di wakilinya; Kabupaten Sidenreng Rappang, Pinrang, Enrekang, Luwu, Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu Utara, dan Kota Palopo.

Bemodal perolehan suara 63.076 pada pemilihan legislatif lalu, Abang, sapaan Muhammad Fauzi berhasil duduk menjadi Anggota DPR RI, Periode 2019 – 2024.

Sejak saat itu, Abang terus bergerak memperjuangkan kepentingan rakyat. Mendedikasikan diri kepada negara. Memperjuangkan kepentingan masyarakat untuk mencapai tatanan hidup yang lebih baik lewat tugas, fungsi, dan kewenangan dewan.

 

Suami dari Bupati Kabupaten Luwu Utara, Indah Putri Indriani ini, memang dikenal humanis dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Tak heran jika menelusuri jejak digital yang ada. Orang akan menemukan banyak aktivitas yang dilakukannya untuk membantu warga yang sangat membutuhkan. Salah satu aktivitas terbaru Muhammad Fauzi yang bisa ditemukan. Berita tentang memfasilitasi pemberian bantuan kepada Pesantren Darul Arqam Balebo. Bantuan Rusun Senilai Rp7 M.

Di lain waktu, Abang memberi apresiasi respon cepat Balai Jalan Sulsel Tangani Jembatan Cilellang.

Dia mengaku, apa dimiliki dan dilakukannya sekarang adalah buah dari pendidikan yang telah diperolehnya sejak masih kecil dari kedua orang tuanya.

Muhammad Fauzi lahir pada malam hari. Di Kelurahan Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Bertepatan Senin 6 September 1968.

“Saya tumbuh di lingkungan yang penuh kompleksitas. Tempat segala ragam masyarakat berinteraksi. Dari urusan sajadah hingga haram jaddah,” tulis Abang dalam personal websitenya, saat menerangkan jati dirinya.

Dikatakan, dirinya punya kehidupan kecil di tengah lingkungan masyarakat Betawi. Orang-orang yang akhirnya harus takluk pada kehendak zaman. Tersisih dari moderenisasi dan tergusur urbanisasi.

“Ayah saya berasal dari Aceh dan Ibu dari Jakarta. Saya anak paling bungsu dari delapan bersaudara. Kakak nomor dua kini telah menyusul Ayah. Saudara yang lain, Alhamdulillah masih bersama,” katanya.

“Ayah saya meninggal saat saya masih umur 10 tahun. Hari di mana Ayah saya dipanggil Allah SWT bertepatan dengan tanggal dan bulan saya dilahirkan ke dunia,” ungkapnya.

Ayah berprofesi Polisi. Dia selalu bangga dengan pekerjaannya hingga ajal. Dan ayahnya istirahat selamanya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Setelah pensiun dari Polisi Ayahnya bekerja pada Perusahaan Swasta CTC, nama pada waktu itu. Selain itu, Ayah juga memulai usaha sendiri, yaitu pembuatan sepatu di Bogor dan Jakarta.

Hasil produksinya banyak dipasarkan di daerah Bogor dan Jakarta, khususnya di Proyek Senen dan Pasar Baru. Abang kecil cukup sering diajak Ayahnya mengantarkan sepatu di Proyek Senen dan Pasar Baru.

“Saya girang sekali bila diajak Ayah. Sebab saat urusan sepatu usai, kami pasti melahap sate padang yang ada di Proyek Senen. Momen itu cukup berkesan karena Ayah melakukannya rutin hingga dipanggil Yang Mahakuasa,” katanya.

Masa setelah itu, Abang bersaudara dibesarkan dari sentuhan kasih yang tidak terbatas seorang Ibu. Ibu membesarkan mereka bermodal peninggalan ayah. Sebab Ibu hanya seorang Ibu rumah tangga yang paripurna. Tapi itu sudah lebih dari cukup buat kami bersaudara.

Ibu sangat gigih membesarkan kami. Paling tidak dari sektor pendidikan kami semua menyandang sarjana. Dengan banyak keterbatasan, kami lalui hidup dengan saling menyokong. Agama menjadi salah satu titik berat pendidikan Ibu. Dia akan marah besar jika anaknya tak salat, mengaji atau bolos sekolah.

“Puji Syukur. Sebagai anak paling bungsu saya yang paling dekat dengan Ibu. Waktu saya lebih banyak sama Ibu. Apalagi saya dapat giliran paling belakangan berumah tangga,” katanya.

Kedekatan itu membuat ibu tetap bersamanya bahkan setelah dia menikah. “Ibu memang senang tinggal bersama saya. Sebelum dia meninggal pun dia meminta agar dikubur dekat dengan rumah tempat tinggal saya,” paparnya lagi.

Sosok ibu sangat menginspirasi keluarganya. Selain Ayah tentunya. Perjuangannya dan perannya sebagai Ibu sekaligus Ayah benar-benar mereka rasakan.

“Untuk urusan Ibu, saya memang sangat prioritas. Saat hampir selesai SMA. Saya bertanya, kepada seorang Ustaz, bagaimana bisa hidup baik atau sukses dunia akhirat,” kata Abang.

Ustaz itu lalu menceritakan beberapa cerita sejarah nabi-nabi. Singkat cerita ada dua hal yang ditekankan. Pertama, usahakan orang tua kita jadikan Keramat Dunia (dalam arti yang positif).

Artinya kita harus tempatkan orang tua, apalagi Ibu harus sangat kita hormati dan layani sebagaimana Ia membesarkan kita. Meski sekuat apa pun kita tidak bisa membalasnya, paling tidak berusaha mendekatinya. Ibu harus kita jadikan sumber inspirasi atau motivasi hidup.

Kedua, berusaha setiap hari, sesuai kemampuan kita untuk bersedekah, terutama untuk rumah Ibadah, masjid dan musalah.

“Sejak saat itulah, dengan sekuat tenaga saya coba terapkan petuah itu dalam kehidupan sehari-hari saya,” katanya.

Saat ini sejumlah amanah yang pernah dan sedang diembannya diantaranya sebagai Anggota DPR RI Periode 2019 – 1999, kemudian menjadi anggota Fraksi PBB DPR RI pada tahun 2004 – 2009. Saat ini menjadi anggota DPR RI periode 2019 – 2024. Pengurus DPP Partai Golkar 2019 – 2024.

Sementara itu Abang juga menjadi accounting proyek PT Kokoh Semesta, sejak tahun 1996 sampai sekarang. Direktur Utama PT Ayashi Jafana. Tahun: 2010 – sekarang.

Muhammad Fauzi juga aktif di sejumlah organisasi kemasyarakatan, seperti di NU Luwu Utara sebagai Wakil Ketua. MW KAHMI Sulsel Presidium. Periode 2022 – 2027. Dan Pengcab Perbakin Luwu Utara, sebagai ketua. Tahun 2018 – Sekarang. (***)