Kisah Dimulai dari Sini

Kisah Dimulai dari Sini

–foto: int–

Kiprah Sosial Politik Anggota DPR RI Muhammad Fauzi SE

Bacaan Lainnya
 

 

Namanya Muhammad Fauzi. Lengkapnya Muhammad Fauzi, S.E. Politikus Indonesia. Humanis. Peka terhadap masalah sosial. Dekat dengan rakyat.  Gemar bersedekah. Sekarang menjabat anggota DPR-RI periode 2019–2024. Sebelumnya, sudah duduk di Senayan 2004–2009.

Laporan: Syamsuddin Yoko

Sosok berkacama. Yang biasa disapa Abang ini. Dalam salah satu tulisan, mengaku sangat terbantu dengan peran istrinya. Yang tak lain Indah Putri Indriani. Terutama dalam hal pemahaman politik.

“Kebetulan saya dapat istri yang secara teori pemahaman politiknya jauh dari saya. Mungkin karena basic-nya memang dosen politik. Makanya, bicara politik bagi kami bukan hal baru,” ungkap pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar ini.

Indah Putri Indriani saat ini adalah Bupati Kabupaten Luwu Utara dua periode. Seperti diketahui, sebelum memutuskan terjun ke kancah politik, Indah dikenal di kalangan akademis sebagai salah satu staf pengajar program Sarjana (S1), program ekstensi dan program pasca-sarjana Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia (UI).

Di samping itu, Indah juga tercatat sebagai staf pengajar Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial pada dua universitas lain di Jakarta, Universitas Bung Karno dan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Selain mengajar, nama Indah Indriani juga pernah tercatat sebagai salah seorang Tenaga Ahli untuk Komisi II DPR RI Bidang Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah.

“Kami menyatukan visi dan misi dalam berumah tangga. Baik dalam dunia usaha maupun politik yang menjadi pilihan kami saat ini. Namun sebelumnya, ketika saya membuka usaha, istri menjadi dosen. Dan, pada akhirnya kami berdua masuk ke ranah politik,” ungkap Fauzi, yang juga Wakil Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Luwu Utara ini.

Dalam personal website-nya, Fauzi memberi porsi lebih banyak dalam mengungkap perjalanan hidupnya dari kecil. Yang berasal dari keluarga sederhana. Dengan harapan dapat menginspirasi setiap pembacanya.

Salah satunya, adalah tentang selalu ada perempuan tangguh di balik kehebatan seorang pria. Itu pun diakui Anggota DPR RI asal Dapil Sulsel III, Muhammad Fauzi.

Dalam perjalan hidup dan karienya di pentas politik Indonesia, Muhammad Fauzi mengaku ada dua sosok perempuan yang selalu membantu dan mendukungnnya.

“Ada dua perempuan hebat dalam perjalanan hidup dan karier saya. Pertama, sosok ibu yang merupakan sebuah stimulus atau motivasi saya dalam menjalani kerasnya kehidupan. Kedua, istri yang paling tahu perjuangan saya, baik di dunia politik maupun di bidang usaha,” sebut Legislator Partai Golkar ini, kepada wartawan, Senin (14/11/2022).

Menurut Fauzi, generasi hebat tentu tidak akan terwujud begitu saja, akan tetapi melalui peran ibu yang hebat pula. Tidak ada yang bisa mengesampingkan peran ibu di keluarga hingga anak-anaknya sukses meniti karier yang cemerlang.

“Sosok ibu sangat menginspirasi kami sekeluarga. Selain ayah tentunya. Ibu sangat berperan setelah ayah saya meninggal. Perjuangannya sebagai ibu sekaligus ayah benar-benar kami rasakan,” sambung Abang Fauzi–sapaan akrab Muhammad Fauzi.(*)

***

Berikut tulisan lengkap perjalanan hidup Muhammad Fauzi yang dikutip dari laman https://muhammadfauzi.id/ :

SAYA lahir di kampung padat penduduk. Tepatnya di Kelurahan Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Bertepatan Senin 6 September 1968, malam.

Saya tumbuh di lingkungan yang penuh kompleksitas. Tempat segala ragam masyarakat berinteraksi. Dari urusan sajadah hingga haram jaddah.

Kehidupan kecil saya di tengah lingkungan masyarakat Betawi. Orang-orang yang akhirnya harus takluk pada kehendak zaman. Tersisih dari moderenisasi dan tergusur urbanisasi.

Ayah saya berasal dari Aceh dan Ibu dari Jakarta. Saya anak paling bungsu dari delapan bersaudara. Kakak nomor dua kini telah menyusul Ayah. Saudara yang lain, Alhamdulillah masih bersama.

Ayah saya meninggal saat saya masih umur 10 tahun. Hari di mana Ayah saya dipanggil Allah SWT bertepatan dengan tanggal dan bulan saya dilahirkan ke dunia.

Ayah berprofesi Polisi. Dia selalu bangga dengan pekerjaannya hingga ajal dan Ayah istirahat selamanya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Pangkat Ayah memang tidak hebat, tapi Bintang Jasanya cukup banyak. Sebab Ayah jadi Polisi dari zaman muda di saat kemerdekaan dulu. Walaupun bangga dengan profesinya, Ayah tidak pernah mengharapkan anak-anaknya mengikuti jejaknya.

Di perjalanan kariernya, Ayah terpaksa harus mengundurkan diri. Musababnya, ayah tak bisa hadir di banyak momen bahkan saat ibu genting antara hidup dan mati. Tiga kali persalinan ibu tanpa Ayah mendampingi.

Alasan itulah yang kami tahu Ayah harus memilih keluarga dibanding karier. Mungkin juga ada alasan lain yang tak sempat ia ceritakan ke kami.

Setelah pensiun dari Polisi Ayah bekerja pada Perusahaan Swasta CTC, nama pada waktu itu. Selain itu, Ayah juga memulai usaha sendiri, yaitu pembuatan sepatu di Bogor dan Jakarta.

Hasil produksinya banyak dipasarkan di daerah Bogor dan Jakarta, khususnya di Proyek Senen dan Pasar Baru. Waktu saya kecil saya cukup sering diajak Ayah mengantarkan sepatu di Proyek Senen dan Pasar Baru.

Saya girang sekali bila diajak Ayah. Sebab saat urusan sepatu usai, kami pasti melahap sate padang yang ada di Proyek Senen. Momen itu cukup berkesan karena Ayah melakukannya rutin hingga dipanggil Yang Mahakuasa.

Masa setelah itu, saya bersaudara dibesarkan dari sentuhan kasih yang tidak terbatas seorang Ibu. Ibu membesarkan kami bermodal peninggalan ayah. Sebab Ibu hanya seorang Ibu rumah tangga yang paripurna. Tapi itu sudah lebih dari cukup buat kami bersaudara.

Ibu sangat gigih membesarkan kami. Paling tidak dari sektor pendidikan kami semua menyandang sarjana. Dengan banyak keterbatasan, kami lalui hidup dengan saling menyokong. Agama menjadi salah satu titik berat pendidikan Ibu. Dia akan marah besar jika anaknya tak salat, mengaji atau bolos sekolah.

Puji Syukur. Sebagai anak paling bungsu saya yang paling dekat dengan Ibu. Waktu saya lebih banyak sama Ibu. Apalagi saya dapat giliran paling belakangan berumah tangga.

Kedekatan itu membuat Ibu tetap bersama saya bahkan setelah saya menikah. Ibu memang senang tinggal bersama saya. Sebelum dia meninggal pun dia meminta agar dikubur dekat dengan rumah tempat tinggal saya.

Sosok ibu sangat menginspirasi kami sekeluarga. Selain Ayah tentunya. Perjuangannya dan perannya sebagai Ibu sekaligus Ayah benar-benar kami rasakan.

Untuk urusan Ibu, saya memang sangat prioritas. Saat hampir selesai SMA. Saya bertanya, Pak Ustaz bagaimana bisa hidup baik atau sukses dunia akhirat.

Ustaz itu lalu menceritakan beberapa cerita sejarah nabi-nabi. Singkat cerita ada dua hal yang ditekankan. Pertama, usahakan orang tua kita jadikan Keramat Dunia (dalam arti yang positif).

Artinya kita harus tempatkan orang tua, apalagi Ibu harus sangat kita hormati dan layani sebagaimana Ia membesarkan kita. Meski sekuat apa pun kita tidak bisa membalasnya, paling tidak berusaha mendekatinya. Ibu harus kita jadikan sumber inspirasi atau motivasi hidup.

Kedua, berusaha setiap hari, sesuai kemampuan kita untuk bersedekah, terutama untuk rumah Ibadah, masjid dan musalah.

Sejak saat itulah, dengan sekuat tenaga saya coba terapkan petuah itu dalam kehidupan sehari-hari saya.

Awalnya memang berat. Apalagi terkadang manusia ingin sesuatu instan. Jika tidak sabar, akan sulit kita amalkan. Begitu juga saya yang sangat manusiawi mengalami. Menuntut segala pengorbanan dengan kemudahan dalam hidup. Walaupun sebenarnya pengorbanan itu adalah bagian dari mata rantai kewajiban.

Kalau lah ada dampaknya dari pengorbanan kita itu, tidak lebih karna Allah Mahatahu. Karena itu, pengorbanan ada dampaknya atau tidak, kita serahkan saja kepada-Nya. Semakin kita tidak menuntut, justru semakin cepat datangnya. Dengan bingkai ikhlas dan usaha yang tekun tentunya.

Dalam hal bersedekah ini saya disiplin jalankan. Setiap masuk masjid atau musalah, saya sisipkan uang sesuai kemampua. Kadang hanya Rp 100 atau Rp 50. Begitulah kemampuan saya saat itu. Bahkan kadang tidak ada sama sekali saat memang tak mampu.

Sebab, sewaku sekolah dan kuliah saya hanya bersedekah dari sisa uang saku. Uang saku pun masih harus saya pakai makan, transpor, atau keperluan kuliah seperti fotocopy. Sisanya baru jadi jatah masjid atau musalah.

Aktivitas itu rutin saya lakukan setiap menjalankan kewajiban lima waktu. Paling tidak bersedekah satu hari sekali. Kebiasaan ini pun melekat sejak saya SMA hingga sekarang.

Hal ini saya ceritakan karena sangat berarti buat saya. Saya merasa Allah terlalu sangat baik pda hidup saya. Hampir semua yang saya jalankan berbuah baik.

Jika ditelisik ke belakang, siapa sih saya ini? Tidak lahir dari keluarga hebat, kemampuan pun terbatas.

Saya memaknai, jika pencapaian saya adalah karena dua hal yang disampaikan ustaz kampung saya. Tentu dengan hidayah dan kehendak Allah SWT.

Kisah ini saya beri porsi cukup panjang bukan untuk riya dan sombong. Tetapi didasari niat ikhlas agar sepenggal cerita kecil ini bisa menginspirasi orang lain yang membacanya. Termasuk pengingat buat diri saya sendiri agar bisa berbuat lebih baik lagi di kemudian hari.
                                                                                                   

                                                                                                       ***