Operasi Pekat, Polres Ungkap Judi Online

Operasi Pekat, Polres Ungkap Judi Online

MAJENE,UPEKS.co.id Polres Majene berhasil mengungkap berbagai kasus dari hasil operasi pekat yang berlangsung selama 14, diantaranya kasus jambret dan judi online.

Hal ini diungkapkan oleh Wapolres Majene, Kompol Ujang Saputra saat menggelar press release, di aula Mapolres Majene, Selasa (30/8/22).

Bacaan Lainnya
 

Menurut Ujang, dari operasi pekat (Penyakit Masyarakat) ada beberapa kasus kejahatan yang berhasil diungkap  diantaranya jambret dan judi online. 

‘Untuk kasus jambret ada 3 pelaku yang diamankan sementara kasus judi online ada 1 pelaku dan saat ini dalam penyelidikan lebih lanjut,” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, semua tersangka diamankan pihak kepolisian dari laporan dan informasi warga di lapangan. Intinya selama operasi seluruh tim terus sisir wilayah yang disinyalir terdapat indikasi gangguan kamtibmas. 

“Meskipun Operasi sudah usai,  jajaran Polres Majene akan tetap terus melanjutkan operasi sebagai upaya untuk membasmi penyakit masyarakat di Kabupaten Majene,” tegasnya. 

Sementara itu Kasat Reskrim Iptu Eru Reski mengatakan, dari dua kasus yang berhasil diungkap ini ada 4 tersangka yang diamankan tiga diantaranya pelaku judi dengan identitas AS (26) warga Dusun Lombok Desa Galung Lombok Tinambung, MT (24) warga Dusun Pure II Desa  Sinyonyoi Kalukku dan AL (29) warga Dusun Malolo Kalukku Barat (penada). 

“Ketiganya dijerat dengan pasal 363 Ayat 1 ke-4 Jo pasal 480 ayat 1 KUH. Pidana dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 7 tahun penjara,” terang Eru.

Eru juga mengungkapkan, Satu pelaku judi online dengan identitas JS (34) warga lingkungan teppo Majene. Dari pemeriksaan yang dilakukan diamankan barang bukti berupa uang tunai dengan pecahan 50.000 sebanyak dua lembar, 20.000 sebanyak satu lembar, 10.000 sebanyak lima lembar, 5.000 sebanyak 6 lembar dan 2.000 sebanyak 6 lembar. 

“Barang bukti lainnya yang ikut diamankan berupa ATM atas nama pelaku dan sebuah handphone. Atas perbuatannya JS dijerat dengan Pasal 45 Ayat 2 Jo Pasal 27 Ayat dua atas perubahan UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi informasi serta pasal 303 KHU.Pidana pidana penjara paling lama Enam tahun dan denda paling banyak 1 Miliar,” pungkasnya. (Ali)