Jadi Narasumber PBAK UIN Makassar, Pandam XIV Hasanuddin Beri Penguatan Moderasi Beragama

Jadi Narasumber PBAK UIN Makassar, Pandam XIV Hasanuddin Beri Penguatan Moderasi Beragama

Samata, Upeks- Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki, S H M H didaulat mengisi orasi ilmiah pada Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK) 2022.

Dalam kesempatan itu, Jenderal berdarah asli Sulawesi Selatan itu membawakan orasi dengan judul Moderasi Beragama Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bacaan Lainnya

Di hadapan kurang lebih 5 ribu Mahasiswa Baru, Mayjen Andi mengajak agar semangat menjalankan perintah agama baik itu yang bersifat wajib maupun sunnah sesuai dengan ajaran Agama Islam dengan ajaran tuntunan baik dalam Al-quran maupun Hadits.

“Saat ini kultur Indonesia dalam beragama sangat moderat di dalam kalangan ormas-ormas Islam saat ini, tetapi kita harus waspada terhadap kultur yang sifatnya dimana banyak yang terjadi pemahaman kultur konvensional diberbagai Provinsi yang ada di Indonesia ini mungkin termasuk di Sulawesi Selatan,” ujarnya di Masjid Agung Sultan Alauddin, Kampus II UIN.

Jenderal bintang dua ini juga mengingatkan kembali mengenai sejarah tentang intoleran dan radikal yang terjadi setelah kemerdekaan Indonesia diantara tahun 40-an menuju 60-an, dimana banyak goncangan yang dihadapi oleh bangsa ini terutama masalah pemberontakan yang diantaranya pemberontakan DI – TII, PKI dan PRRI permesta.

“Ancaman nyata terhadap bangsa kita ini terkait dengan terorisme, radikalisme bahkan separatisme, saat ini sering terjadi seperti bencana alam, penyebaran obat-obat narkotika, termasuk berita-berita hoax yang bisa merontokkan persatuan dan kesatuan anak bangsa, kemudian akan terjadi rentang atas konflik SARA termasuk akan menjadi ancaman yang separatisme maupun pemberontakan bersenjata,” tuturnya.

Di akhir orasinya, orang nomor satu di Kodam Hasanuddin itu mengajak Maba menghargai sesama dalam berbangsa dan bernegara dan juga tidak bersikap ekstrem terhadap agama-agama lain.

“Ekstrem dalam arti meyakini secara mutlak kebenaran satu tafsir agama dan menganggap tafsir sesat agama lain,” pungkasnya. (rls)