Dr Ilham Kadir Pimpinan Baznas Enrekang Bawakan Materi dalam Acara MoU dan FGD di IAIN Parepare

Dr Ilham Kadir Pimpinan Baznas Enrekang Bawakan Materi dalam Acara MoU dan FGD di IAIN Parepare

ENREKANG, UPEKS.co.id — Institut Agama Islam Negeri Parepare dan Badan Amil Zakat Nasional Parepare mengadakan perjanjian kerjasama yang dituangkan dalam Memorandum of Understanding yang dikenal dengan istilah MoU. Penandatanganan berlangsung di Rektorat IAIN Parepare, Jl. Amal Bhakti, Sorean Parepare, (30/8/2022).

Kegiatan tersebut dihadiri  rektor  IAIN Parepare, Dr.Hannani,M.Ag, Wakil Rektor III Muhammad Dr. Kamal Zubair, Ketua Baznas Provinsi Sulawesi Selatan Dr. dr. Muhammad Khidri Alwi, serta para pimpinan Baznas dari Kabupaten Soppeng, Enrekang, Sidrap, Barru, Pinrang dan Pangkep serta BPJS Ketenagakerjaan Kota Parepare. Perwakilan dari Baznas Enrekang, dihadiri oleh Wakil Ketua Bagian SDM, Umum, dan Administrasi, Dr Ilham Kadir, MA.

Bacaan Lainnya
 

Selain penandatangan nota kesepahaman, juga dirangkaikan dengan acara Focus Group Discussion (FGD) yang dipandu langsung oleh Warek III, Dr. Kamal Zubair.  Dalam acara tersebut, tampil dua narasumber utama, Pimpinan Baznas Enrekang, Dr. Ilham Kadir, MA, yang membawa materi dengan tema, “Literasi Zakat”,  dan Ketua Baznas Propinsi, Dr. dr. Muhammad Khudri Alwi, “Amil Sebagai Profesi Berbasis SKKNI”.

Ilham Kadir, yang memang merupakan kader Baznas Pusat memaparkan dengan runut terkait permasalahan internal Baznas.

“Secara sederhana dapat dipetakan masalah utama Baznas, yaitu, rendahnya literasi zakat, SDM yang kurang mumpuni, regulasi zakat belum merata di daerah, dan minimnya dukungan fasilitas dan dana hibah untuk Baznas di berbagai Baznas daerah/kota. Inilah masalah utama para amil di berbagai daerah,” papar Dosen Universeitas Muhammadiyah Enrekang ini.

Selain itu, Ilham Kadir juga memaparkan antara potensi zakat dan realita yang terjadi di Indonesia, bahwa potensi zakat tahun 2021 menurut Pusat Kajian Strategis Baznas RI sebanyak 330 triliun, sementara pengumpulan berkisar di angka 17 triliun. Artinya potensi dan realitas terlalu jomplang.

“Masalah utama kenapa potensi dan realita jauh berbeda karena literasi yang sangat rencah. Masyarakat kita belum paham terkait zakat secara runut dan kompehensif,” ujarnya.

Guru Pondok Pesantren Darul Falah Enrekang ini memaparkan terkait apa itu literasi zakat.

“Literasi zakat, jika merujuk kepada indeksliterasi zakat maka ada dua tingkatan, pertama, pemahaman zakat secara dasar, seperti memahami zakat secara umum, paham asnaf, atau  delapan golongan penerima zakat, paham terkait cara membayar zakat, objek zakat dan perhitungan zakat,” papar Ilham Kadir.

Ada pun literasi tahap lanjutan menurut ayah dua putri ini meliputi, pengetahuan tentang institusi zakat, dampak zakat, regulasi zakat, program penyaluran, dan sistem digitalisasi zakat.

Selain itu, tujuan diadakan MoU dan FGD yang difasilitasi oleh IAIN Parepare adalah untuk memperkenalkan bahwa telah ada program studi Zakat dan Wakaf di IAIN Parepare. Dan diharapkan agar terjalin kerjasama pengabdian terkait. Juga terkait sosialisasi ke masyarakat bahwa prodi zakat wakaf sangat menjanjikan bagi para mahasiswa lulusan tersebut.

“Kalau Baznas Enrekang, selama ini telah menerima mahasiswa prodi zakat wakaf untuk magang, dan terasa manfaatnya,” tutup Ilham Kadir. (Sry)