Tahun Ajaran Baru Segera Tiba, Kenali Risiko Penghambat Persiapan Dana Pendidikan Anak

  • Whatsapp
Tahun Ajaran Baru Segera Tiba, Kenali Risiko Penghambat Persiapan Dana Pendidikan Anak

JAKARTA, UPEKS.co.id — Menjelang tahun ajaran baru, dana pendidikan merupakan salah satu hal terpenting yang perlu dipersiapkan. Walaupun tren kesadaran orangtua untuk menyiapkan dana pendidikan anak kian meningkat, faktanya biaya pendidikan yang diperlukan juga semakin meningkat.

Oleh karena itu, persoalan menyiapkan pendidikan tidak hanya sekadar memilih institusi pendidikan yang sesuai dengan karakter anak, namun perlu diimbangi dengan kemampuan finansial agar tidak mengganggu aspek finansial keluarga lainnya termasuk memperhitungkan faktor risiko yang bisa
menghambat persiapan dana pendidikan anak.

Bacaan Lainnya

Menyambut tahun ajaran baru yang akan dimulai pada Juli mendatang, PT Asuransi Jiwa Astra (Astra Life) mengajak masyarakat untuk mengenali sejumlah risiko yang bisa menghambat persiapan dana pendidikan anak.

VP, Head of Marketing & Branding and Digital Channel Astra Life, Windy Riswantyo mengatakan, dana pendidikan bisa mencakup persiapan jangka pendek yang dianggarkan setiap tahun ajaran baru, maupun persiapan jangka panjang seperti untuk dana masuk perguruan tinggi. Keduanya memiliki risiko
yang perlu untuk diantisipasi dengan baik agar tidak mengganggu kestabilan finansial dan berdampak pada persiapan dana pendidikan anak.

Berikut ini adalah beberapa risiko yang kerap kali menjadi hambatan dalam menyiapkan dana pendidikan anak secara optimal:

Risiko Perencanaan Pendidikan yang Kurang Matang

Saat memutuskan untuk menikah dan memiliki anak, dana pendidikan anak adalah hal yang penting untuk diperhitungkan dan disepakati bersama pasangan.

Penghitungan ini meliputi besaran biaya pendidikan anak mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi yang nantinya akan dialokasikan secara rutin.

Pastikan perencanaan alokasi biaya sudah dipertimbangkan, termasuk memilih sekolah mana yang tepat.

Tidak ada salahnya mencari tahu lebih awal besaran biaya iuran sekolah, biaya kursus, bahkan hingga biaya membeli keperluan sekolah seperti seragam, buku pelajaran, hingga estimasi biaya yang diperlukan
untuk transportasi ke sekolah.

Selain itu, perlu diantisipasi juga biaya pendidikan yang disesuaikan dengan
jenjang pendidikan, karena semakin tinggi tingkatan pendidikannya, maka biaya yang dipersiapkan juga akan semakin besar. Tidak kalah penting, alokasi biaya pendidikan anak juga perlu dibuat ke dalam pos tabungan yang terpisah dengan pos tabungan lainnya agar bisa digunakan secara tepat sesuai
perencanaan.

Risiko Inflasi Biaya Pendidikan Anak

Selain perencanaan keuangan dengan alokasi dana pendidikan secara rutin, faktor lainnya yang harus diperhitungkan adalah besaran inflasi kebutuhan pendidikan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, rata-rata inflasi biaya pendidikan di tingkat sekolah dasar hingga menengah atas adalah 10-15% per tahun dan di tingkat perguruan tinggi sebesar 30-45% per tahun.

Agar tidak semakin terpaut jauh dengan besarnya nilai inflasi, dana tabungan pendidikan anak bisa dialokasikan ke dalam berbagai instrumen investasi untuk mendapatkan manfaat bunga, mulai dari deposito, emas, hingga reksadana.

Perlu diingat bahwa pendidikan anak adalah kebutuhan utama yang perlu untuk dipenuhi. Oleh karena itu, sebisa mungkin hindari mengalokasikan dana pendidikan pada instrumen investasi dengan risiko yang
tinggi agar dana pendidikan tetap aman.

Risiko Penanggung Dana Pendidikan Anak

Faktor lainnya yang perlu diperhatikan adalah risiko penanggung biaya pendidikan anak yang umumnya adalah orangtua.

Tidak dapat dipungkiri bahwa orangtua juga memiliki peran besar sebagai pencari nafkah
keluarga, termasuk untuk pemenuhan kebutuhan biaya pendidikan anak.

Jika penanggung dana pendidikan anak mengalami hambatan dalam mencari nafkah misalnya karena sakit, catat tetap atau tutup usia, maka besar kemungkinan pendidikan anak juga ikut terhambat. Oleh karena itu, penting untuk memitigasi risiko yang bisa terjadi kapan saja agar anak tetap bisa melanjutkan pendidikannya.

Mitigasi risiko ini bisa dilakukan melalui proteksi diri dan keluarga yang didapatkan dari produk asuransi jiwa, misalnya Flexi Life yang memberi perlindungan terhadap risiko tutup usia.

Dengan memiliki Flexi Life, ahli waris akan menerima sejumlah uang yang disebut uang pertanggungan bila tertanggung atau nasabah
tutup usia, yang bisa digunakan bagi keluarga yang ditinggalkan untuk melanjutkan hidup, termasuk untuk memenuhi kebutuhan dana pendidikan.

Flexi Life juga memberikan kemudahan dalam mengatur manfaat asuransi dan dapat diatur secara online, sesuai dengan perubahan gaya hidup maupun kebutuhan di setiap tahap kehidupan sehingga nasabah bisa lebih fleksibel untuk memilih uang pertanggungan, masa pertanggungan, serta masa pembayaran
premi.

Informasi lebih lanjut mengenai Flexi Life dapat mengunjungi ilovelife.co.id serta menghubungi Hello Astra Life Call Center 24 jam di nomor 1 500 282, serta nomor WhatsApp 08952-1500282 dan layanan e-mail [email protected] yang tersedia dari Senin-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB.

“Kami berharap tahun ajaran baru dapat menjadi penyemangat bagi para orangtua yang menanggung biaya pendidikan anak untuk mempersiapkan dana pendidikan secara matang serta memperhitungkan berbagai faktor risiko yang bisa terjadi agar pendidikan anak bisa berjalan sesuai dengan perencanaan finansial,” tutup Windy. (rls)

 

Pos terkait