Buku ‘Panglima Damai Poso’ Menjadi Inspirasi Pencegahan Radikalisme

  • Whatsapp
Buku 'Panglima Damai Poso' Menjadi Inspirasi Pencegahan Radikalisme

MAKASSAR,UPEKS.co.id– Buku  Muhammad Adnan Arsal dengan judul “Panglima Damai Poso” dengan penulis Khoirul Anam dibedah di Makassar di Hotel Mercure, Jl AP Pettarani Makassar, Rabu (9/2/22).

Dalam bedah buku itu diisi lima pembedah yakni Staf Khusus Kemenag RI Mohammad Nuruzzaman, Pengurus MUI Pusat Muh Najih Arromadloni, DDI Muammar Muhammad Bakry dan tokoh Perempuan Majdah M Zain.

Bacaan Lainnya

Sementara bertindak sebagai keynote speaker yakni Gurutta, H.M Alwi Nawawi dan dipandu oleh Muhammad Shuhufi.

Penulis buku Panglima Damai Poso, Khoirul Anam mengatakan, 

tujuan buku ini dibedah di Makassar adalah salah satu apresiasi, karena di Makassar masih minim radikalisme dan terorisme termasuk toleransi bergama masih sangat tinggi. 

“Kami berharap buku ini bisa menjadi masukan sekaligus inspirasi tentang bahaya aksi ekstrimisme, kemudian juga untuk pencegahan dimasa yang akan datang, ” kata Khoirul Anam.

Saat ini lanjutnya, sedang mengerjakan buku yang kedua, temanya pun berbeda. Buku itu yang sedang ditulis tentang mantan Punggawa ISIS di Syuriah.

“Sekarang menjadi salah tokoh yang paling getol melakukan deradikalisasi, terutama terhadap orang-orang yang belum bergabung dengan ISIS dan ada yang indikasi akan kesana, ” lanjutnya.

Menurutnya, pihaknya ke sini (Makassar) atas undangan Darud Dakwah Wal-Irsyad (DDI) dan buku ini sudah dibedah dibanyak kota dan tidak menyangka mendapat sambutan yang luar biasa.

“Ini murni, karena mungkin kita memiliki kegelisahan yang sama tentang merebaknya ajaran agama yang lebih condong kepada kekerasan dari pada persaudaraan.

Jadi saya pikir buku ini terbit di waktu yang tepat, ” ucapnya.

Khoirul Anam menyebut, buku ini hanya menggunakan konsep Poso sebagai latar untuk menjelaskan dualisme beragama. Nilai pokok dalam buku ini adalah pentingnya menjaga perdamaian. Dan kalau konflik sudah ada, itu harus menjaga perdamaian.

Disebutkan juga, ada kesulitan sendiri untuk menembus narasumber, mulai dari perbedaan gaya tutur bahasa. Tapi yang paling menantang dari proses buku ini adalah mendapat kepercayaan dari narasumber.

“Mereka bersedih meski bersedia kembali menggali memori buruk yang mereka alami selama konflik dan itu tidak mudah,” sebutnya.

Khoirul Anam juga mengakui, wawancara saja itu lama sekali. Kadang pada saat wawancara harus berhenti karena narasumber menangis, karena mungkin bersedih saat cerita masa lalu. Diakuinya, sekitar satu tahun lebih pulang balik di Poso. (Jay)