Zulfikah Nekat Rombak Ruang Guru Jadi Development Competency Teacher Room

  • Whatsapp
Zulfikah Nekat Rombak Ruang Guru Jadi Development Competency Teacher Room

Kisah Inspiratif Founder Madrasah Digital Indonesia, Zulfikah Nur

 

Bacaan Lainnya

Makassar, Upeks.co.id–Pembelajaran digital 0dinilai menjadi jawaban dari tantangan revolusi industri 4.0. Kepala MTsN 1 Makassar, Zulfikah Nur, S.Pd.I, M.Pd.I, menilai pembelajaran digital memberikan kemudahan, murah, praktis, cepat dan berkualitas.

“Kami punya agen perubahan, yakni madrasah digital untuk menjawab tantangan revolusi industri 4.0,” Zulfikah Nur, S.Pd.I, M.Pd.I yang juga Founder Madrasah Digital Indonesia ini, dalam podcast Upeks, baru-baru ini.

Ide Zulfikah lahir sejak 2018 lalu. Diawali dengan anugerah juara 1 nasional sebagai kepala madrasah berprestasi. Atas prestasi itu, Zulfikar menjadi salah satu yang diutus belajar singkat ke luar negeri.

Selama dua pekan, ia menimba ilmu di Korea Selatan (Korsel). “Korea Selatan ketika itu yang paling bagus pengelolaan pendidikannya,” kata Zulfikah.

Ia mengunjungi sekolah-sekolah di Korsel. Melihat pengelolaan pendidikan yang berbeda antara Korsel dan Indonesia. Zulfikah pun merasakan sistem pendidikan Indonesia jauh tertinggal dari Korsel.

“Kami merasa tidak ada apa-apa dibanding dengan guru di sana. Bukan soal SDM tapi program pendidikan yang mengalami ketertinggalan. Itu yang saya rasakan,” katanya.

Semua sekolah menerapkan sistem pendidikan multimedia. Semua serba digital. Meski buka paket tetap ada
sebagai referensi. Usai belajar singkat, ia mencetuskan madrasah digital mulai Januari 2020. Kala itu, Zulfikah
masih menjabat Kepala MTsN Gowa.

Ia memberikan pelatihan-pelatihan kepada guru. Sistem pembelajaran konvensional diminimalisir. Prosesnya
harus kontekstual yang dilengkapi dengan sistem digital. “Awalnya teman-teman guru pusing juga,” katanya.
Guru mendapat pelatihan ruang pengembangan kompetensi guru. Ruangan ini menjadi miniatur dari Balai
Diklat. Ruang pengembangan kompetensi guru berasal dari ruangan guru sendiri.

“Ruang guru disekolahnya dihilangkan diganti menjadi development competency teacher room,” terangnya.

Guru dilatih membuat bahan ajar secara digital. Semua pokok bahasan dan materi ajar harus siap saji. Zulfikah
juga membentuk tim revolusi pembelajaran. Ia menggaet guru yang mahir dalam IT. Guru harus diberi ruang untuk terus berkembang. “Teknologi sangat mempengaruhi perkembagan dan kompetensi guru dan siswa,” tandasnya.

Zulfikah pun meminta guru yang sudah mahir membimbing guru lain yang masih kurang. “Pasti banyak
tantangan dalam melakukan pembelajaran digital. Namun, kuncinya hanya 3 huruf: MAU. Kalau kita sudah
punya kemauan, Insyaa Allah, semua pasti bisa,” tandasnya. (*)

 

#rungguru