Pemakalah Utama SENASBASA, Dr. Munirah Paparkan Presentasi Teks Pada Media Sosial Kajian Linguistik Forensik

  • Whatsapp
Pemakalah Utama SENASBASA, Dr. Munirah Paparkan Presentasi Teks Pada Media Sosial Kajian Linguistik Forensik

MAKASSAR, UPEKS — Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Dr. Munirah menjadi Pembicara Utama pada Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia (SENASBASA) 5 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (10/11/2021).

SENABASA tersebut menghadirkan 4 pemakalah utama masing-masing dari Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan kegiatan tersebut menjadi tindak lanjut kerjasama Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan desiminasi hasil penelitian.

Bacaan Lainnya

Seminar yang mengangkat tema “Tantangan Bahasa, Sastra dan Pembelajaran di Era Disrupsi” ini.
Dr. Munirah mempresentasikan hasil penelitiannya dengan judul “Presentasi Teks Pada Media Sosial Kajian Linguistik Forensik”

Ia mengatakan media sosial sebagai salah satu bentuk penyampaian informasi ternyata tidak hanya memiliki dampak yang positif, tetapi juga memberikan dampak yang negatif.

Untuk sekarang ini media sosial yang marak digunakan oleh masyarakat yaitu whatsapp, facebook, dan instagram. Ketiga media sosial tersebut menjadi sarana masyarakat mengeluarkan pendapat, ide, dan kritikannya terhadap situasi yang terjadi saat ini.

“Akan tetapi, kenyataannya media sosial menjadi sarana untuk mengutarakan maksud yang terkadang tidak lagi menunjukkan etika kesantunan berbahasa,” ungkap Munirah.

Munirah menegaskan peran bahasa dalam dunia hukum sudah menjadi hal yang sangat vital. Hal tersebut dapat terlihat dari mulai banyaknya para ahli bahasa yang dilibatkan untuk menangani sebuah kasus. Para ahli bahasa menggunakan ilmu kebahasaan (linguistik) untuk membantu menangani kasus hukum. Ilmu kebahasaan yang digunakan adalah ilmu linguistik forensik.

“Makalah ini berfokus pada pemaparan materi mengenai representasi teks pada media sosial kajian linguistik forensik. Tujuan dari makalah ini adalah memaparkan kajian linguistik forensik dalam berbagai kasus pidana dalam penggunaan akun media sosial diantaranya teks ujaran kebencian, pencemaran nama baik, dan berita hoax yang berfokus pada media sosial whatsapp, facebook, dan instagram,”ungkap Munirah.

Kata Munirah, ujaran kebencian yang diidentifikasi dari status media sosial sangatlah beragam. Jenis ujaran yang diutarakan ini akan berdampak berbeda-beda terhadap pembacanya. Dampak-dampak struktur, makna, dan dampak negatif menjadi ciri dari setiap ujaran tersebut dan inilah yang lantas membawa pelaku ujaran kepada wilayah hukum. Karena masuk ke wilayah hukum, fenomena bahasa ini kemudian menjadi kajian linguistik forensik.

“Sebagai bagian dari linguistik terapan, linguistik forensik, adalah pendatang baru dalam dunia hukum yang tengah “naik daun” setidaknya untuk berbagai kasus di tanah air yang sangat menyita perhatian masyarakat,” tukas Munirah.

Menurut dia, linguistik forensik mampu menjelajah pada wilayah; bahasa dari dokumen legal, bahasa dari polisi dan penegak hukum, interview dengan anak-anak dan saksi-saksi yang rentan pada sistem hukum. Juga interaksi pada ruang sidang, bukti-bukti linguistik dan kesaksian ahli pada persidangan, Kepengarangan dan plagiarism, fonetik forensik dan identifikasi penutur, serta ujaran kebencian di media sosial.

“Sebagai komunikan yang bijak, dalam berkomunikasi melalui media sosial harus memahami berbagai penggunaan bahasa. Masyarakat pengguna media sosial sebagai komunikan memang memiliki kebebasan untuk berekspresi sebagai bagian dari interaksi sosial. Namun, harus ada upaya memilih diksi (pilihan kata) dan menghindari penyebutan nama pihak untuk menghindari dari potensi masuknya ujaran tersebut kepada delik hukum,” tutup Munirah. (Rasak)