Bahasa Pembentuk Karakter Anak Menuju Generasi Emas

  • Whatsapp

Bahasa Pembentuk Karakter Anak Menuju Generasi Emas

Oleh: Muhammad Akhir
(Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unismuh Makassar)

Bacaan Lainnya

 

Pendidikan Karakter
Salah satu sarana dalam membangun dan mencerdaskan bangsa adalah dengan melalui pendidikan. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan pendidikan dalam menciptakan generasi bangsa yang berkualitas, hasil dari pendidikan tersebut berdampak pada masyarakat dalam mencapai pembangunan bangsa Indonesia.

Realitas sosial yang terkait dengan pendidikan dihiasi dengan berbagai permasalah yang sangat kompleks membawa masyarakat/ bangsa atau Negara Indonesia masih belum mencapai kemajuan yang signifikan seperti yang diharapkan. Salah satu permasalahan yang sangat krusial terkait dengan pendidikan itu sendiri seperti demoralisasi, tawuran antar pelajar, seks bebas dikalangan remaja, kecurangan saat ujian Nasional, bolos, menyontek, hura-hura, tata karma yang mulai ditinggalkan, kriminalitas anak, kekerasan yang dilakukan oleh anak, remaja atau mahasiswa, bullying di dalam sekolah atau kampus dan lain sebagainya.

Semua masalah tersebut merupakan masalah yang terkait langsung dengan karakter siswa, peserta didik ataupun anak bangsa. Meskipun untuk merubah semua itu tidak semudah membalik telapak tangan, karena diperlukan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat, keluarga, pemerintah ataupun elemen pendidikan itu sendiri sebagai pusat dari berbagai permasalah pendidikan.

Sehingga masyarakat, bangsa ataupun Negara Indonesia dapat keluar dari krisis moral, krisis akhlak, krisis etika yang merupakan krisis multidimensi yang melanda bangsa Indonesia bagai badai yang siap membumihanguskan seluruh manusia yang ada dimuka bumi, lebih khusus generasi bangsa Indonesia dan mewarnai sejarah kelam bangsa Indonesia.

Menurut Tilaar, H. A. R. (1998) krisis yang melanda masyarakat Indonesia bukan hanya krisis moneter yang berkepanjangan namun juga krisis pendidikan. Sama halnya yang dikemukakan Astuti, Siti Irene. (2010) tentang krisis moral dan kepercayaan. Sedangkan dalam analisis ESQ dijelaskan adanya tujuh krisis moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia antara lain adalah krisis kejujuran, krisis tanggung jawab, tidak berpikir jauh ke depan, krisis disiplin, krisis kebersamaan, krisis keadilan (Zuchdi dalam Astuti, Siti Irene. (2010).

Afandi, Rifki. (2011) Saat ini Indonesia mengalami krisis multi dimensi, diantaranya permasalahan-permasalahan yang timbul di Negara Indonesia ini adalah penyimpangan moral seperti seks bebas, tawuran pelajar, kebut-kebutan dijalan para pelajar, pengguna narkoba, minuman keras, perjudian, kasus korupsi, perampokan, bom bunuh diri teroris, dan baru-baru ini yang paling mencengangkan kasus video porno pelakunya adalah seorang artis idola di masyarakat, serta seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) nonton video porno saat sidang di gedung DPR.

Semua fenomena tersebut mengindikasikan bahwa bangsa Indonesia berada pada krisis karakter yang menjadi pondasi yang fundamental dalam membangun bangsa Indonesia. Namun demikian kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena masalah karakter, merupakan masalah kita bersama sehingga, yang perlu dipikirkan bagaimana bangsa Indonesia dapat keluar dari berbagai permasalahan tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah membentuk karakter melalui bahasa Indonesia.

Bahasa Pembentuk Karakter Anak
Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi manusia menjalani sendi kehidupan baik secara langsung maupun secara tidak langsung, sehingga bahasa merupakan instrumen penting dalam kehidupan manusia, lebih khusus lagi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. Bahasa Indonesia memiliki peranan yang strategis membentuk karakter anak, karena bahasa merupakan produk budaya Indonesia. Budaya memiliki pengaruh yang sangar besar membentuk kepribadian anak.

Selain itu bahasa adalah salah satu faktor mendasar yang membedakan manusia dengan hewan, bahasa merupakan suatu sistem simbol untuk berkomunikasi dengan orang lain, meliputi daya cipta dan sistem aturan. Dengan daya cipta tersebut manusia dapat menciptakan berbagai macam kalimat yang bermakna dengan menggunakan seperangkat kata dan aturan yang terbatas.

Dengan demikian, bahasa pada manusia merupakan upaya kreatif yang tidak pernah berhenti. Secara linguistik bahasa adalah Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri (Chaer, A. (1994). Bahasa sebagai alat komunikasi antar manusia untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan dengan menggunakan simbol-simbol komunikasi, baik yang berupa suara, gestur, maupun tanda-tanda bahasa berupa tulisan, termasuk dalam komunikasi antar manusia membentuk karakter, lebih khusus karakter anak.

Bahasa Indonesia juga mempunyai kekuatan dalam pembentukan manusia Indonesia yang berkarakter Indonesia.

Bahasa mempunyai kekuatan yang dahsyat dalam pembentukan kepribadian karena di dalam bahasa terdapat energi positif yang mampu membentuk kristal indah dalam tubuh manusia (Pamungkas, 2012).

Untuk menumbuhkan dan membentuk karakter anak atau generasi bangsa Indonesia, maka perlu adanya pendidikan karakter yang ditanamkan sejak dini, melalui media bahasa
Menurut Hidayat, O. S. (2014) menyampaikan bahwa pada usia dini merupakan saat yang tepat mengajarkan moral, moralitas, etika kepada anak. Karena usia tersebut sangat tepat untuk pembentukan watak, akhlak, atau karakter melalui media bahasa Indonesia.

Melalui media bahasa, etika, moralitas, akhlak diajarkan kepada setiap anak, baik dilakukan oleh orang tua, tetangga, guru, masyarakat, media massa dan pemerintah. Oleh karena itu, untuk mewujudkan atau membentuk karakter anak bangsa maka para generasi-generasi penerus bangsa perlu diberikan pembelajaran tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik secara lisan maupun tertulis. Lebih dari itu harus mengajarkan bahasa Indonesia bukan hanya teori saja tetapi juga harus memberi contoh berbahasa yang baik, dalam situasi formal, informal dan nonformal.

Bisa dikatakan berbahasa yang baik itu yaitu mampu menggunakan bahasa Indonesia sesuai situasi dan kondisi. Jika setiap anak atau generasi bangsa mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, tentu juga berpengaruh dalam tingkah etika, moral, akhlak atau karakter yang baik.

Selain itu bangsa Indonesia akan bermartabat apabila masyarakatnya mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik, bangga terhadap bahasanya, dan selalu menggunakan bahasa Indonesia dengan santun, berarti sudah mampu menunjukkan karakter bangsa Indonesia sebagai wujud kebudayaan Nasional, yang dapat membedakan dengan karakter bangsa lain.

Kendala pembentukan karakter anak melalui bahasa Indonesia

Pembentukan karakter melalui bahasa Indonesia, bukan tanpa kendala atau tantangan. Berbagai tantangannya mulai dari tantangan dari dalam atau internal maupun dari luar atau eksternal.

Tantangan internalnya adalah (1) Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai bahasa dan budaya, sehingga mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dan hasil kebudayaan Nasional, tanpa melenyapkan bahasa daerah dan kebudayaan daerah. Realitasnya sudah banyak bahasa daerah yang sudah punah atau hampir punah karena generasi bangsa Indonesia selalu menggunakan bahasa Indonesia, namun melupakan bahasa daerahnya. Menjadi tantangan tersendiri bagaimana melestarikan bahasa Indonesia namun tetap melestarikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu, nenek moyang atau generasi dahulu.

(2) Generasi sekarang ini sangat sedikit yang mau mempelajari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, salah satu alasannya karena bahasa Indonesia merupakan bahasa sehari-hari yang tidak perlu dipelajari (3) Kesadaran dari pemerintah, media, dan masyarakat terhadap konsep bahasa persatuan masih rendah. Sedangkan tantangan dari luar atau eksternalnya adalah hegemoni bahasa asing seperti bahasa Inggris, yang terus memberikan pengaruhnya kepada generasi bangsa Indonesia, agar lebih bangga, lebih suka belajar bahasa Inggris daripada belajar bahasa Indonesia.

Kedua tantangan tersebut memerlukan partisipasi berbagai pihak untuk mengatasi tantangan tersebut baik dari pemerintah, lembaga sosial, pendidikan, keluarga, media massa dan masyarakat pada umumnya, karena dengan membina dan menanamkan bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka akan terwujud karakter bangsa Indonesia yang berkualitas, yang mampu menyaring budaya dari luar yang tidak sesuai dengan kebudayaan Nasional bangsa Indonesia untuk mencapai ‘generasi emas’ yang berkarakter. (*)