Rokok Ilegal Marak Beredar di Soppeng

  • Whatsapp
Rokok Ilegal Marak Beredar di Soppeng
Rokok ilegal yang beredar di Soppeng

SOPPENG, UPEKS.co.id — Selain merugikan negara dari sektor penerimaan cukai, peredaran rokok ilegal juga dinilai merugikan masyarakat.

Pasalnya, rokok ilegal berpotensi untuk meningkatkan jumlah perokok dan perokok pemula karena murahnya harga rokok di pasaran.

Bacaan Lainnya

Dari informasi yang berhasil dihimpun, peredaran rokok ilegal di Kabupaten Soppeng marak dan bahkan penjual masih melakukan jual beli rokok tanpa pita cukai.

Seperti rokok filter cigarrettes merek Panther yang di produksi PR. DPT Soppeng – Indonesia tidak miliki pita cukai, dan juga tidak miliki kode produksi.

Salah satu pekerja di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Kabupaten Soppeng saat ditemui mengaku bahwa rokok merek Panther tanpa pita cukai tidak pernah di produksi.

“Rokok (Panther-red) tidak di produksi disini,” katanya, Senin (25/10/2021).

Sementara salah satu petugas Bea Cukai Parepare yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa rokok ilegal baik itu tanpa pita cukai maupun yang lain, pihaknya akan melakukan penindakan terkait barang kena cukai ilegal tersebut.

“Teman-teman bea cukai akan melakukan penindakan, karena hal ini selalu dilakukan termasuk pada saat kegiatan operasi pasar dan kegiatan gempur rokok ilegal,” ucapnya.

Sekedar diketahui, pengedar atau penjual rokok ilegal termasuk melakukan pelanggaran yang dapat berpotensi sebagai pelanggaran pidana.

Sanksi untuk pelanggaran tersebut mengacu pada Undang-Undang RI Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai, yang berbunyi sebagai berikut:

Pasal 54 berbunyi: “Setiap orang yang menawarkan, menyerahkan, menjual, atau menyediakan untuk dijual barang kena cukai yang tidak dikemas untuk penjualan eceran atau tidak dilekati pita cukai atau tidak dibubuhi tanda pelunasan cukai lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar”.

Pasal 56 berbunyi: “Setiap orang yang menimbun, menyimpan, memiliki, menjual, menukar, memperoleh, atau memberikan barang kena cukai yang diketahuinya atau patut harus diduganya berasal dari tindak pidana berdasarkan undang-undang ini dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar”. (Min)