Andi Sukri: Arah Perjalanan bangsa Ini Berada di Tangan Generasi Milenial

  • Whatsapp
Andi Sukri: Arah Perjalanan bangsa Ini Berada di Tangan Generasi Milenial
Wakil Rektor II Unismuh Makassar, H. Andi Sukri Syamsuri

MAKASSAR, UPEKS .co.id — Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum didapuk sebagai narasumber pada webinar nasional Sumpah Pemuda yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (HMPI) Wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), Minggu (31/10/2021).

Kegiatan yang mengusung tema “Refleksi dan Aktualisasi Nilai-nilai Sumpah Pemuda Kekinian” juga turut menghadirkan narasumber Kepala Bagian Hukum, Humas, Sistem Informasi Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora RI, Dr. H. Mustadin Tagala, Ketua Umum DPP HMPI, Dr. Andi Fajar Asti.

Bacaan Lainnya

Andi Sukri: Arah Perjalanan bangsa Ini Berada di Tangan Generasi Milenial

Andi Sukri Syamsuri dalam pemaparannya mengatakan Ir. Soekarno pernah mengatakan “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

“Maksud dari 10 bukanlah jumlah sepuluh pemuda melainkan penggambaran betapa dahsyat apa yang bisa dilakukan pemuda dalam melakukan perubahan,” ungkap Andi Sukri.

Menurut Andi Sukri pemuda adalah mereka yang memiliki keinginan kuat, semangat tinggi, cita-cita setinggi langit dan semangat yang terus berkobar, juga pemuda adalah mereka yang berjuang dengan semangat menggapai nilai-nilai luhur bangsa dan agamanya.

Pemuda adalah mereka yang memiliki cita-cita yang bersungguh sungguh untuk mewujudkannya, dan pemuda adalah mereka yang terus melakukan perubahan, mulai dari diri, keluarga
masyarakat, bangsa, negara dan agama serta pemuda adalah generasi penerus, generasi pengganti dan generasi pembaharu pendahulu mereka.

“Generasi pemuda akan yang menjadi tonggak perubahan suatu bangsa. Baik buruknya suatu bangsa dapat dilihat dari Generasi Penerusnya,” tegas Andi Sukri.

Kata Andi Sukri, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menunjukkan bahwa Pemuda Indonesia memiliki, berbagai hal. Mulai dari potensi dimana pemuda menjadi bagian terpenting dari masyarakat yang memiliki potensi untuk melakukan perubahan karena pemuda memiliki keinginan kuat untuk belajar dan berubah menjadi lebih baik.

Tanggung jawab. Muncul dari kesadaran dan keinginan untuk melakukan perubahan. Hak, pemuda memiliki hak, hak itu sendiri diikuti dengan kewajiban termasuk didalamnya bela negara. Karakter, pemuda yang melakukan perubahan adalah pemuda yang memilki karakter berani, menyukai tantangan, kreatif, pekerja keras dan inovatif.

“Termasuk aktualisasi diri, bagaimana ketepatan seseorang dalam menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan yang ada di dalam dirinya, bukan untuk kepentingan pribadi melainkan kepentingan bangsa dan negara serta cita-cita, pemuda memiliki cita-cita yang tinggi, untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Andi Sukri.

Sementara refleksi Sumpah Pemuda. Sambung Andi Sukri, kesadaran dan kepedulian kondisi Nusantara, menjunjung sikap musyawarah dan mufakat, komitmen untuk berjuang, dilandasi sikap bersatu, menjunjung tinggi perbedaan, bangkit dengan penuh ketulusan dan keiklasan, serta bertumbuh dengan perkembangan kehidupan seperti penguasaan kehidupan 4.0.

Kata Andi dengan penguasaan kehidupan 4.0 ini, maka lahirlah generasi alpha atau generasi milenial. Generasi ini lahir tahun 2010-2025, lahir sesudah generasi Z, lahir dari generasi X akhir dan Y. Generasi ini sangat terdidik karena masuk sekolah lebih awal dan banyak belajar. Akan menjadi lebih materialistis. Fokus mereka adalah gaya hidup berteknologi tinggi.

“Generasi Milenial adalah generasi yang selalu bersikap reseptif ketika menghadapi sesuatu. Mereka selalu terbuka akan inovasi. Itu sebabnya mereka cepat beradaptasi dengan dunia digital. Generasi milenial memang dinilai sebagai generasi yang memiliki sikap, nilai, dan ciri khas tersendiri,” ungkap Andi Sukri.

Sementara aktualisasi Sumpah Pemuda memasuki era generasi milenial ada beberapa poin yang harus dipahami. Pertama arsitektural yakni pola pikir yang harus dibangun adalah kesadaran bahwa generasi milenial adalah subyek dan pelaku utama dalam peradaban. Sebagai pelaku utama maka bertanggung jawab dalam membuat grand design atau operating system yg akan menjadi flatform untuk segala aktivitas kehidupan. Kemampuan arsitektur dalam desain dan imajinasi dan desain sebuah bangunan dari tiada menjadi ada sekaligus merespon ruang yang terhampar di hadapannya.

“Setelah proses arsitektural, langkah selanjutnya adalah mewujudkannya. Proses perwujudan ini bergantung kepada kemampuan kita dalam menilik segala yang ada di sekitar kita sebagai kesempatan dan sumber daya yang dapat difungsikan untuk mewujudkan desain itu. Selalu mencari fungsi dan faedah dari lingkungan di sekitar,” jelas Andi Sukri.

Ketiga adalah eksperimental. Menurut Andi Sukri, tingginya kompleksitas dan perubahan yang sangat cepat berimplikasi sulitnya melakukan prediksi dan betapa setiap solusi yang ditemukan memiliki waktu kadaluwarsa sangat pendek.

“Mau tidak mau, kita harus memiliki pola pikir yang selalu terbuka dan berani mengambil resiko. Berani membuat eksperimen dan mengakui setiap solusi sifatnya temporer,” jelas Andi Sukri.

Dan yang terakhir. Sambung Andi Sukri, generasi milenial kreatif. Adakalanya jalan buntu tetap menghadang meskipun segala daya upaya telah dikerahkan. Perlu kreativitas untuk memulai ketika yang lainnya terhenti. Kreativitas dianggap sebagai kemampuan dalam menggabungkan hal-hal yang sudah ada sebelumnya menjadi sebuah entitas baru.

“Generasi milenial harus berada di depan, memegang obor untuk mencegah paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila sehingga masa depan pendidikan dan nasib generasi penerus bangsa ke depan tidak berada di jalan yang salah. Arah perjalanan bangsa ini berada di tangan generasi milenial, yang akan menerima tongkat estafet pembangunan,” tutup Andi Sukri. (Rasak)

 

Pos terkait