5 Peserta Seleksi CPNS di Enrekang Diduga Curang, Ini Tanggapan Sekretaris Panitia

  • Whatsapp
5 Peserta Seleksi CPNS di Enrekang Diduga Curang, Ini Tanggapan Sekretaris Panitia

ENREKANG, UPEKS.co.id – Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Panitia Seleksi telah mengumumkan laporan dugaan kecurangan dalam pelaksanaan SKD CPNS 2021 dan tindak lanjutnya.

Dalam laporan tersebut disebutkan terdapat 225 peserta dari 9 titik lokasi (Tilok) tes SKD CPNS 2021 yang diduga lakukan kecurangan.

Bacaan Lainnya

Dari 225 peserta yang disebutkan tersebut terdapat lima peserta yang berasal dari Tilok Kabupaten Enrekang.

Hal itu dibenarkan oleh Kabid Pengadaan, Pemberhentian, Pembinaan Kinerja dan Kesejahteraan (P3K) BKPSDM Enrekang, Budiman S Fatah saat dikonfirmasi beberapa awak Media, Rabu sore (27/10/2021).

Budiman mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan informasi terkait laporan dugaan kecurangan tersebut dari BKN.

“Iya betul kita sudah dapat informasinya. Memang dari laporan itu ada lima peserta yang diduga melakukan kecurangan,” kata Budiman yang juga Sekretaris Pansel daerah Kabupaten Enrekang.

Namun Budiman mengaku belum mendapatkan nama peserta yang dimaksud tersebut.

Ia menjelaskan, untuk mengetahui lebih jelas  terkait langkah yang akan dilakukan, Pansel daerah Kabupaten Enrekang telah dijadwalkan bertemu dengan panitia seleksi nasional (BKN).

Pertemuan itu akan dilakukan di Kanreg IV Makassar pada Senin (1/11/2021) untuk membahas hal tersebut.

“InshaAllah usai pertemuan itu, kami akan sampaikan hasilnya sebagai bahan pertanggungan jawaban ke publik,” ujar Budiman.

Ia juga mengatakan, dalam pertemuan itu nantinya akan dijelaskan terkait bagaimana modus dan sistem kecurangannya serta pembuktian dari dugaan kecurigaan itu.

Yang akan menyampaikan hasil temuan dugaan kecurangan itu adalah tim dari Badan Siber dan Sandi Negara.

Jika memang kelima peserta tersebut terbukti lakukan kecurangan maka secara otomatis akan didiskualifikasi dari kepesertaannya dalam pelaksanaan tes CPNS.

Namun, jika kelima orang tersebut melakukan sanggah dan mampu membuktikan bahwa meraka tidak curang.

Maka peserta itu akan diberikan kesempatan lakukan tes SKD ulang dengan pengawasan yang ketat.

Sementara jika ada ASN yang terbukti terlibat dalam dugaan kecurangan itu maka secara tegas mereka akan diberhentikan oleh KemenpanRB.

Terpisah salah satu peserta SKD Tilok Enrekang yang enggan disebutkan namanya, mengaku memang ada hal yang ganjil saat pelaksanaan tes SKD di Aula Kantor Bupati Enrekang beberapa waktu lalu.

Pasalnya, seorang rekannya saat tes sempat heran, lantaran dirinya diminta pindah dari kursi komputer yang telah ia tempati dan diarahkan ke kursi selanjutanya..

“Allahualam pak. Tidak bermaksud menuduh tapi ada betul begitu, entah kebetulankah disuruh pindah atau bagaimana tapi perasaannya dia harusnya duduk disitu,” ujarnya.

Sebelumnya juga diberitakan, sejumlah peserta seleksi CPNS di Kabupaten Enrekang mengajukan protes dan melaporkan dugaan kecurangan ke pihak Panitia seleksi (Pansel) yakni BKPSDM Enrekang, Minggu (3/10/2021) lalu.

Para peserta tersebut melaporkan bahwa mereka menemukan adanya seseorang yang menawarkan bantuan untuk bisa lolos seleksi CPNS.

Dengan cara membantu menjawab soal dengan cara sistem kloning dimana peserta yang bersedia akan dibantu dari jarak jauh dengan mengkloning sistem yang digunakan.

Salah satu peserta yang melapor, Nur Habibah, mengatakan pihaknya sudah menggali informasi melalui telepon terhadap orang yang menawarkan jasa itu.

Dari situ, dirinya mendapat informasi dari oknum tersebut jika di Enrekang sudah ada 9 orang peserta seleksi CPNS yang direkrut untuk mendapat bantuan menjawab soal-soal ujian.

“Saya hanya ingin memastikan saja apakah di Enrekang betul ada yang seperti itu, dan ternyata menurut oknum ini, sudah ada 9 orang yang dia daftar,” kata Habibah saat ditemui Upeks,Minggu (3/10/2021) siang.

Dari hasil percakapan oknum dengan calon korbannya via telfon, dia menjelaskan apa yang dimaksud Kloning.

Yakni peserta setelah masuk ruang tes hanya duduk diam saja, komputer akan dikendalikan dari luar oleh orang-orang profesional yang telah ditunjuk melakukan hal tersebut.

Oknum itu mengatakan peserta hanya formalitas saja masuk dalam ruangan dan para orang-orang itu yang akan mengendalikan jawaban lewat jarak jauh.

Bahkan, oknum itu berani menjamin tidak akan ketahuan karena sistemnya jaringan dihacker dengan adanya alat yang sudah terpasang di dalam rungan.

Oknum ini juga menjelaskan jika ketehuan paling jaringan saja yang diputus.

Habibah mengaku, cara itu sangat merugikan peserta lain yang berjuang mati-matian dengan cara belajar untuk mendapatkan nilai murni.

Untuk itu dirinya dan beberapa temannya memberanikan diri melaporkan hal tersebut kepada Pansel untuk ditindaklanjuti.

Ia mengatakan bagi mereka yang punya uang dan bodoh pastilah akan menempuh jalan itu.

Tapi bagi yang tak punya uang dan hanya mengandalkan kemampuannya akan merasa dirugikan.

“Oknum itu juga menjanjikan yang ikut bantuan Cloning nilainya dipastikan 450 keatas. Bahkan oknum itu mengatakan jika cara ini gagal maka dia yang akan bayar peserta Rp 10 juta per orang,” ujarnya.

Parahnya, oknum tersebut mengaku sudah mendapat dukungan dari Bupati Enrekang dalam melakukan aksinya.

Mereka memasang mahar Rp 200 juta atau lebih jika peserta itu berhasil lulus Tes SKB dengam sistem nanti lulus baru bayar.

Namun untuk mengikat peserta yang dia bantu, oknum tersebut meminta jaminan ijazah asli yang akan dipegang oleh oknum tersebut.

Peserta yang sudah fix akan menerima bantuan oknum ini dengan cara kloning juga akan mengikuti briefing untuk mendapatkan petunjuk saat masuk dalam ruang tes.(Sry)