Perempuan dalam Keberlangsungan Tenun Ulos

  • Whatsapp
Perempuan dalam Keberlangsungan Tenun Ulos

MAKASSAR, UPEKS.co.id — Benar adanya, jika Indonesia dicatut tanah kaya. Kaya akan alam dan budaya. Satu diantara kekayaan yang dimiliki adalah wastra nusantara.

Istilah wastra sendiri berasal dari Bahasa Sangsekerta yang memiliki arti sehelai kain. Dimana setiap wastra memiliki motif, pola, dan warna yang berbeda antara satu dan lainnya serta memiliki filosofi dan cerita tersendiri.

Bacaan Lainnya

Daerah Batak Toba misalnya, memiliki wastra tersendiri, yang dikenal dengan nama Ulos.

Sayangnya, popularitas Ulos masih ada di bawah Batik dan Tenun Ikat Sumba untuk level nasional dan internasional.

Pada fenomena tersebut, Kerri Na Basaria, perempuan yang memiliki kecintaan terhadap tenun terinspirasi membentuk ekosistem untuk keberlanjutan tenun Ulos.

Perihal ini, ia perkuat dengan mendirikan PT Toba Tenun Sejahtra. Dan pada wadah tersebut, Kerri berkomitmen memperkenalkan dan melestarikan tenun Ulos sebagai salah satu warisan budaya tekstil Indonesia.

Sejak tahun 2020, ia menyebutkan, PT Toba Tenun Sejahtra merintis 3 fokus usaha secara paralel untuk perkuatan ekosistem tenun di Sumatra Utara, yaitu Tobatenun untuk platform distribusi produk tenun Sumatra Utara; BORU untuk usaha pengembangan dan komersial produk turunan tenun seperti ready to wear, accessories dan home decor; dan Jabu Bonang untuk usaha pengembangan komunitas artisan kain tenun di Sumatra Utara.

Ditanyai terkait peran perempuan dalam keberlanjutan tenun, ia menjelaskan, jika tenun pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari peran penenun yang mayoritas adalah perempuan.

“Partonun (penenun) perempuan merupakan sumber daya manusia utama untuk menghasilkan tenun berkualitas,” jelasnya.

Dalam hal ini, partonun adalah penjaga budaya yang bekerja demi kelangsungan warisan budaya, menjaga filosofi hidup orang Batak, serta kemahiran tradisional.
Yang dimana kata dia, tenun tradisional adalah salah satu bidang di mana pengetahuan berharga diwariskan dari para ibu ke anak-anak perempuan mereka secara turun-temurun.

“Dan saat ini, sektor tenun tradisional ini termasuk tenun Ulos bertahan berkat generasi perempuan muda Indonesia yang dinamis, yang memadukan kreativitas artistik dengan keterampilan bisnis,” pungkasnya.

Sehingga dengan memahami pentingnya peran partonun dalam ekosistem Ulos, PT Toba Tenun Sejahtra konsisten memberdayakan Partonun untuk dapat meningkatkan potensi dan keterampilan diri sehingga dapat semakin kuat dalam menjaga, mewariskan dan melestarikan Ulos
pastinya.

Selain memfasilitasi para partonun untuk mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan, PT Toba Tenun Sejahtra juga memberikan dukungan dan pendampingan lewat Jabu Bonang serta memberikan solusi kepada para partonun yang memiliki banyak tantangan di lapangan seperti kurangnya akses terhadap bahan baku, rumitnya pemasaran, hingga kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang kerap dialami para partonun.

Hal ini pun dirasakan manfaatnya oleh Denita Manihuruk, Mitra Partonun & Champion Jabu Bonang.

Ia mengaku menjadi mitra partonun membuka banyak jalan untuk kehidupan yang lebih baik. Bersama Tobatenun, saya telah mengikuti Lokakarya Tenun Motif Ulos dan Pewarnaan Alami.

Katanya, tidak hanya menambah keahlian tetapi juga pengetahuan holistik yang berhubungan erat dengan kehidupan partonun seperti gerakan fisioterapi sederhana dan kesehatan reproduksi.

“Tentunya fasilitas dan pendampingan yang berkelanjutan ini sangat membantu bagi kami para perajin untuk meningkatkan kemampuan baik menjadi penenun maupun kewirausahaan,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, sedikitnya 50 penenun lainnya turut merasakan pendampingan PT Toba Tenun Sejahtra.

“Besar harapan kami, agar semakin banyak partonun mendapatkan kesempatan yang sama seperti yang saya dapatkan sehingga nantinya ekosistem tenun semakin besar, kuat, dan berkualitas dan berdampak kepada peningkatan perekonomian hidup kami,” pintanya.

Sekadar diketahui, hingga akhir tahun 2021 sekaligus menyambut Hari Ibu Nasional, PT Toba Tenun Sejahtra akan melakukan rangkaian aktivitas untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap warisan kain wastra nusantara, khususnya tenun dan ekosistem artisan yang terlibat dibaliknya yang didominasi oleh perempuan. (Mimi)