Pasca Divaksin, Seorang Anak di Enrekang Mengalami Demam Tinggi dan Tak Dapat Berjalan

  • Whatsapp
Pasca Divaksin, Seorang Anak di Enrekang Mengalami Demam Tinggi dan Tak Dapat Berjalan
Tim Kerja Vaksinasi dan TRC Dinkes Enrekang melakukan pemantauan terhadap kondisi Andi Muh. Dirga Erlangga Siswa SMAN 2 Enrekang yang mengalami Deman tinggi dan tak dapat berjalan pasca Vaksinasi Covid-19, Minggu (22/9/2021). (Foto: Sry/Upeks)

ENREKANG, UPEKS.co.id — Sesaat setelah menerima informasi warga, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang, Sutrisno segera memerintahkan Tim Kerja Vaksinasi dan TRC Dinkes Enrekang melakukan penelusuran terhadap seorang anak yang mengalami deman tinggi dan tak dapat berjalan setelah mendapat vaksinasi tahap 1.

Andi Muh. Dirga Erlangga (15), Siswa kelas 10 IPS 2 SMAN 2 Enrekang ini mendapatkan vaksinasi tahap 1 pada Kamis (2/9/2021) di SMAN 2 Enrekang.

Bacaan Lainnya

Setelah mendapat vaksinasi Andi Dirga merasa sakit pada leher bagian belakang hingga ke tulang belakang. Namun Andi Dirga tak menghiraukan dan tetap pergi ke sekolah pada Senin (6/9/2021).

Namun 3 hari setelah vaksinasi yakni Rabu (8/9/2021) Andi Dirga mulai demam tinggi hingga hari Jumat. Selain demam Dirga juga sudah tidak bisa berjalan lagi. Saat berdiri dia merasa kesakitan di kedua lutut dan pergelangan kakinya. Untuk menuju toilet terpaksa Dirga harus merangkak.

Mengetahui Putranya demam tinggi dan tak dapat berjalan, Andi Ernawati sebagai orang tua langsung panik. Apalagi dia tak tahu jika Putranya ini sudah divaksin karena tak mendapatkan informasi dari pihak sekolah.

Pasca Divaksin, Seorang Anak di Enrekang Mengalami Demam Tinggi dan Tak Dapat Berjalan

” Saya panik setelah melihat kartu vaksin anak saya, ternyata tanpa sepengetahuan saya dia sudah di vaksin. Setelah saya kasih minum obat penurun panas dan panasnya tidak turun juga saya langsung menghubungi dokter Nindi dan menceritakan perihal ini,” kata Andi Erna yang juga salah satu Wartawan di Enrekang.

Sementara itu, Salman salah satu Tim Kerja Vaksinasi Dinkes Enrekang mengatakan kondisi seperti yang dialami Dirga disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Hal seperti ini kerap terjadi kepada orang yang telah divaksin yaitu mengalami demam, nyeri pada tulang dan sebagainya.

“Kalau orang divaksin itu kan yang dimasukkan ke dalam tubuhnya adalah virus Covid-19 yang sudah dilemahkan. Jadi biasanya akan muncul gejala mirip penyakit Covid-19 tapi dengan gejala ringan. Nah, dialami Andi Dirga ini gejalanya agak sedikit keras karena menyebabkan dia tak bisa berjalan,” jelas Salman.

Untuk itu Tim ini akan melaporkan secara berjenjang hasil penelusurannya kepada Komda KIPI Sulsel. Pihaknya juga akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kesehatan Andi Dirga.

“Kita juga akan menyampaikan hal ini kepada Tim Dokter dari KIPI yang ada di Enrekang. Kita juga akan konsultasi dengan Spesialis penyakit dalam. Insya Allah kondisi ini masih bisa diatasi apalagi Dirga sudah melewati fase demam tinggi,” ujar Salman.

Dengan adanya kejadian ini, Andi Erna meminta kepada Pihak sekolah atau siapa pun yang melakukan vaksinasi terhadap anak sebaiknya menyampaikan kepada orang tuanya terlebih dahulu.

“Sehingga kita selaku orangtua bisa mendampingi anak-anak kami, terlebih saat melalui proses screening memantau ada riwayat penyakit anak kami yang tidak bisa dia jelaskan, jadi kami orang tuanya yang akan menjelaskan,” pungkas Andi Erna.

Namun Kadis Kesehatan mengatakan, pemberian vaksinasi terhadap anak tak harus didampingi orangtua karena hal itu justru akan menimbulkan masalah baru yakni menimbulkan kerumunan orang.

“Bayangkan saja jika 1.000 anak di vaksin ditambah 1.000 orang tua yang mendampingi, ini sangat rawan menjadi penyebaran Covid-19,” kata Sutrisno.

Untuk itu Kadiskes meminta kepada pihak sekolah agar memantau perkembangan siswanya yang telah divaksin. Jika ada Siswa yang setelah divaksin tak masuk sekolah, maka harus dipertanyakan apakah siswa tersebut mengalami KIPI atau dalam kondisi baik-baik saja. (Sry)