Protes Surat Edaran , Mahasiswa SEMMI Datangi Kantor Bupati

  • Whatsapp
Protes Surat Edaran , Mahasiswa SEMMI Datangi Kantor Bupati
MAJENE, UPEKS.co.id—Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Serikat
Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) di kabupaten Majene mendatangi
kantor bupati, Kamis (22/7/2021). Kedatangan mereka mendapat pengawalan pihak Kepolisian.

Mereka protes dengan adanya surat edaran Bupati Majene nomor:
450/777/2021, perihal penyelenggaraan malam takbiran, shalat Idul Adha
dan pelaksanaan Qurban Tahun 1442 H tahun 2021 yang dinilai meresahkan
masyarakat Majene.

Bacaan Lainnya

“Yang seharusnya hari Idul Adha ini diisi dengan kemenangan dan
kegembiraan, namun karena adanya surat edaran yang dikeluarkan pak
Bupati, akhirnya merayakan Idul Adha rasanya kurang lengkap lantaran
masyarakat harus shalat di rumah masing-masing dengan penuh
keterbatasan,” ungkap Muhammad Syukran Tahir selaku perwakilah
mahasiswa yang juga Ketua SEMMI Sulbar.

Syukran mengatakan, Dengan surat edaran itu, semangat untuk menekan
penyebaran Covid-19 sangat keliru, justru menambah titik-titik
penyebaran Covid-19 di daerah Majene yang tidak terkontrol,
dikarenakan ada sejumlah warga yang melaksanakan shalat secara
sembunyi-sembunyi di lorong, atau setapak atau rumah yang jamaahnya
membludak.

“Kenapa saya katakan demikian, karena kalau masyarakat shalat
sembunyi-sembunyi, atau shalat di rumah masing-masing itu tidak
terkontrol, apa ada petugas yang kontrol mereka ke tempatnya,”
katanya.

Ia juga mengatakan, Seandainya surat edaran ini diterbitkan diawal
pandemi pada bulan Maret 2020, dengan kasus pertama kali di Majene
mungkin masyakat maklum, karena saat itu belum ada vaksin dan hand
sanitaizer, tapi sekarang beda, sudah ada vaksin, ada hand sanitaizer
yang mudah didapatkan.

“Namun pemerintah masih Gagap melihat persoalan, apa gunanya vaksin
kalu begitu, apalagi ini menyangkut ibadah shalat yang hanya
dilaksanakan sekali setahun. Belum lagi kecemburuan masyarakat Majene
yang membandingkan dengan daerah lain yang membolehkan masyarakatnya
shalat di masjid, padahal Majene layak melaksanakan shalat idul adha
di Masjid, selain mudah juga dikontrol,”tandasnya.

Olehnya itu lanjut Syukran, Serikat Mahasiswa Muslim menuntut agar
bupati Majene mengeluarkan permohonan maaf secara resmi atas
kekeliruannya mengeluarkan surat edaran, memperkuat independensi
kelembagaan PHBI Majene, pemerintah harus mendudukung penuh kegiatan
keagamaan.

“Ini sesuai visi Majene Religius dan keberpihakan pak bupati Majene
dengan kegiatan hari-hari besar Islam dan ini menyangkut realisasi
dalam program 100 hari kerja bupati dan wakil bupati Majene, kami juga
menuntut agar pak bupati meminta maaf kepada masyarakat Majene, jika
hal ini tidak dilakukan, maka kami akan kembali mendatangi kantor
bupati dengan massa lebih banyak,”pungkasnya.

Menanggapi tuntutan para mahasiswa, Bupati Majene Andi Achmad Syukri,
yang didampingi wakil bupati, Arismunandar menjelaskaan, bahwa
sebenarnya jauh sebelumnya pihak pemerintah sudah merencanakan untuk
melaksanakan shalat Idul Adha di Masdjid dan di lapangan terbuka,

“Namun karena situasi saat sekarang ini, Majene mengalami peningkataan
kasus Covid-19, bahkan beberapa minggu lalu aadaa warga yang meninggal
karena Covid-19, makanya saya bersama pak wakil bupati meminta saran
dan pendapat dari semua pihak, termasuk Forkopindaa, MUI, PHBI dan
Satgas Covid,” terang Andi Syukri.

Setelah melakukan pertemuan, akhirnya diputuskan akan agar pemda
segera mengeluarkaan surat edaran yang isinya untuk pelaksanaan shalat
Idul Adha untuk sementara dialihkan di rumah masing-maing, bukan di
Masjid.

“Saya kira ini bukan kemauan saya semata, ini karena demi untuk
menjaga keselamatan warga Majane, apalagi Majene pada zona orange,
selain itu kita jugaa merujuk pada surat edaran kementerian Agama RI,”
ujarnya

Soal tuntutan permintaan maaf kata Andi Syukri, bahwa dalam kesempatan
ini secara pribadi maupun atas nama pemerintah Majene ia menyampaikan
permohonan maaf kepada masyarakat Majene dan terima kasih juga kepada
adek-adek mahasiswa yang sudah menyampaikan kritikannya.

“Terima kasih atas kritikannya, karena ini sesuatu yang positif untuk
pemerintah Majene, saya kira tidak ada masalah, soal permintaan maaf
saya selaku bupati Majene menyampaikan permohonan maaf pada
masyarakat, karena ini murni untuk keselamatan warga agar terhindar
dari penularan Covid, ”pungkasnya.(Ali)