Kejari Enrekang Tetapkan Tersangka Korupsi Anggaran Pompanisasi Desa Lunjen

  • Whatsapp
Kejari Enrekang Tetapkan Tersangka Korupsi Anggaran Pompanisasi Desa Lunjen
Kasi Intel Kejari Enrekang, Andi Zainal Akhirin Amus dan Kasi Pidsus Kejari Enrekang, Meidy Wensen saat memberikan keterangan Pers

ENREKANG, UPEKS.co.id — Kejaksaan Negeri (Kejari) Enrekang merilis dengan menetapkan tersangka inisial AJ alias A (36) dalam perkara tindak pidana korupsi penyalahgunaan anggaran pengadaan pipanisasi jaringan air bersih dan teknologi Hidran air bersih di Desa Lunjen, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, yang bersumber dari anggaran dana desa tahun 2018 dan 2019.

Press release ini disampaikan Melalui Kasi Intel Kejaksaan Negeri Enrekang Sabtu malam (23/7/3021) diruang rapat Kejaksaan Negeri Enrekang.

Bacaan Lainnya

Selain itu saat ini Kejaksaan juga telah melakukan penahanan terhadap tersangka di Rutan Kejaksaan Negeri Enrekang selama 20 terhitung mulai tanggal 23 Juli sampai 11 Agustus 2021

Kasi Intel Kejaksaan Negeri Enrekang Andi Zainal Akhirin Amus yang didampingi Kasi Pidsus Meidy Wensen menjelaskan perihal AJ alias A sehingga ditetapkan menjadi tersangka.

AJ adalah Pelaksana kegiatan dalam pengerjaan dana desa tersebut dari CV LT yang beralamat di Kecamatan Baraka.

Andi Zainal menjelaskan secara rinci proyek bermasalah yang menggunakan dana desa tahun 2018 dan 2019 tersebut.

Dia mengatakan, pada tahun 2018 pompanisasi jaringan air bersih desa Lunjen dianggarkan sebesar Rp350 juta dan tahun 2019 dianggarkan pengadaan teknologi hidran air bersih senilai Rp607 juta.

Dari dua item proyek tersebut total anggaran yang dikucurkan sebesar Rp 957 juta.

“Tim Penyidik Kejari Enrekang sudah melakukan menetapkan dan penahanan terhadap saudara inisial AJ (36) selaku tersangka penyalahgunaan dana pengadaan pipanisasi jaringan air bersih dan teknologi hidran air bersih di Desa Lunjen, Kecamatan Buntu Batu tahun 2018 dan 2019,” kata Andi Zainal.

Dua item pekerjaan pompanisasi itu dianggap tak bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Apalagi satu item kegiatan sama sekali belum dilakukan sementara itu tersangka sudah membuat catatan laporan palsu jika proyek itu sudah dilaksanakan dengan melampirkan kuitansi palsu pembelian material untuk pekerjaan itu.

” Berdasarkan hasil audit internal Kejari Enrekang ditemukan kerugian Negara dalam dua pekerjaan itu sebesar Rp 497.441.000,” tegas Andi Zainal.

Ditempat yang sama Kasi Pidsus Kejari Enrekang, Meidy Wensen mengatakan, kegiatan itu memang sudah lama namun baru ditindak lanjuti oleh Kejari Enrekang atas laporan atau aduan dari masyarakat pada akhir 2020 lalu.

Meidy menjelaskan, dalam pengerjaan itu berdasarkan RAB harusnya direncanakan dua hidrant dimana harga satu pompa Hidran dianggarkan Rp220 juta.

Namun, ternyata fakta di lapangan hanya terpasang satu unit pompa hydrant, padahal dalam dokumen laporannya dan telah dicairkan disebutkan sudah terpasang dua unit hydrant.

Selain itu, Tersangka membeli alat bekas dari orang Bukan dari distributor namun tersangka mensiasati dengan kwitansi palsu seolah-olah barang tersebut dibeli dari toko.

” Kasus ini akan terus kita dalami dan kita kembangkan. Tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru dalam kasus ini”. Kata Meidy Wensen.

Tersangka untuk sementara disangkakan pasal 2 dan pasal 3 undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Tipikor dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (Sry).

 

 

 

 

Pos terkait