Darul Istiqamah, Pesantren Mandiri dengan Unit-unit Bisnis

  • Whatsapp
Darul Istiqamah, Pesantren Mandiri dengan Unit-unit Bisnis

Gandeng Pengembang Perumahan Modern hingga Bakso Santri

MAROS, Upeks–Pesantren Darul Istiqamah di Maccopa, Maros, sedang bertransformasi. Pesantren tersebut ingin berdiri di atas kaki sendiri, mengembangkan pendidikan dan dakwah dengan “daya dorong” yang dihasilkan sendiri.

Makanya, kata Pembina Yayasan Darul Istiqamah, Muzayyin Arif, pesantren melalui lembaga membuat beberapa langkah bisnis, yang keuntungannya kembali untuk kepentingan lembaga.

Bacaan Lainnya

Salah satu langkah ekonomi yang dibuat yayasan adalah merencanakan kawasan perumahan komersial. Menggandeng pengembang profesional. Ayah Muzayyin, KH Arif Marzuki yang merupakan pembina utama yayasan sendiri yang menandatangani nota kesepahaman dengan pengembang, beberapa tahun lalu.

“Sejak mulai bergabung mengelola pesantren, kemudian diangkat oleh abah (KH Arif Marzuki) sebagai pimpinan pada 2015, saya selalu bertindak atas nama lembaga dan semua gebrakan kami dipastikan atas restu dan persetujuan beliau,” tambah Muzayyin.

Perencanaan pun dijalankan perlahan. Dimulai dengan membangun kawasan perumahan Relief, namun belum menggunakan lahan pesantren. Yayasan dan pengembang membeli lahan masyarakat di samping pesantren. Pertimbangannya agar pihak-pihak di internal pesantren melihat bukti keseriusan. Maka berdirilah Relief, kawasan perumahan modern dengan desain minimalis.

Sayangnya pengembangan yang sudah hendak dilakukan harus ditunda sejak 2016. Muzayyin tak memungkiri ada resistensi. Terpaksa nota kesepahaman yang sudah dibangun dengan investor tak bisa direalisasikan semua poinnya.

Namun itu tak membuat impian yayasan untuk berdikari secara ekonomi diletakkan begitu saja. Beberapa program ekonomi tetap dibuat. Pertimbangannya adalah visi menjadi pusat pendidikan islami yang modern dan berkualitas, membutuhkan daya dorong. Kemandirian ekonomi juga bisa melepaskan citra pesantren hanya bisa “hidup” dari sumbangan umat.

Muzayyin menjelaskan, rencana unit-unit bisnis yayasan sebenarnya bukan hal baru. Sejak dahulu pihak yayasan melakukannya, namun diakuinya masih sangat konvensional. Misalnya melepas beberapa bagian lahan pesantren untuk dibanguni Perumahan Haji Banca. Pesantren juga membuat tanah kavling, dijual kepada masyarakat, dan hasilnya digunakan untuk operasional pesantren.

Sebagai bagian dari generasi pelanjut Darul Istiqamah, Muzayyin yang sampai saat ini masih di posisi dewan pembina yayasan (berdua dengan KH Arif Marzuki), coba membuat sentuhan yang lebih kekinian. Aspek lain yang juga sangat dia perhatikan adalah legalitas.

Sejak menjadi dewan pembina, aspek tersebut yang terus dia rapikan. Dia ingin segala aktivitas bergerak atas nama lembaga. Bukan pribadi. Bukan atas nama kiai. Alasannya, yayasan adalah badan hukum butuh legal standing. Sebab kolaborasi atau kerja sama apapun yang dilakukan dengan pihak luar, harus beres dari sisi legalitas.

“Pegangan kami dalam bertindak adalah dua poin itu. Restu orang tua sebagai pelanjut pesantren dari kakek. Kedua, kekuatan hukumnya,” ucap mantan Direktur Sekolah Insan Cendekia, Serpong, sekolah modern yang dibangun Tamsil Linrung itu.
Muzayyin menilai sudah saatnya pesantren dikembangkan dengan citra sebagai pilihan pendidikan berkualitas. Pihak pesantren tak boleh terus-menerus membiarkan publik menilainya sebagai opsi alternatif, kolot, terbelakang.

“Pesantren harus kuat. Harus mandiri,” kuncinya.

Ada satu rencana terdekat juga yang akan dikembangkan yayasan tersebut. Yakni bisnis kuliner Bakso Santri. Muzayyin menjamin warga pesantren maupun Maros pada umumnya akan mendapatkan bakso enak dan berkualitas (dan tentu saja sangat dijamin kehalalannya).

Langsung dua lokasi yang dibidik. Satu di kawasan pesantren. Satu di luar untuk melayani masyarakat luas. Keuntungan unit usaha itu akan masuk ke yayasan, sebagai yang sering dibahasakan Muzayyin, menjadi daya dorong untuk segala impian menghasilkan generasi islami dan berkompeten. (*)