Bhinneka Tunggal Ika Perekat di tengah Gempuran Radikalisme

  • Whatsapp
Bhinneka Tunggal Ika Perekat di tengah Gempuran Radikalisme
Penulis bersama Abdon Atakari (Suku Alor Kalabahi, NTT) , menunjukkan keberagaman, Bersatu Indonesia Kuat.

Berbeda-beda namun satu jua itulah makna Bhinneka Tunggal Ika, yang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Bangsa yang dibangun di atas Perbedaan memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Nasionalisme atau semangat cinta tanah air dibingkai dalam Bhinneka Tunggal Ika, yang turut melahirkan sikap toleransi, saling menghargai di tengah perbedaan, saling menerima dalam keberagaman. Indonesia menjadi bangsa yang majemuk karena berhasil merangkai perbedaan suku, agama, ras, budaya, adat istiadat, bahasa dalam ikatan kebhinnekaan yang satu yakni Pancasila.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sensus penduduk tahun 2010 disebutkan terdapat 1331 suku di Indonesia, sementara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Badan Bahasa memetakan dan memverifikasi 652 bahasa daerah berdasarkan data 1991-2017.

Bacaan Lainnya

Selain itu, warisan budaya tak benda yang sudah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan sejak tahun 2013-2020 sebanyak 1.239, serta jumlah pulau di Indonesia yang tertera pada UU No 6 tahun 1996 tentang perairan Indonesia adalah 17.508, sementara yang tertera pada Gasetir nasional sebanyak 16.771 pulau.

Dengan keragaman tersebut, dapatlah dipahami bahwa Bhinneka Tunggal Ika telah mengakar dalam jiwa warga Negara Indonesia, inilah yang harus diwariskan kepada generasi, untuk menjadi pedoman, dan menjadikan Pancasila sebagai landasan hidup bernegara. Namun seiring waktu, kita perlu mengingat kalimat Presiden Pertama Indonesia Soekarno

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri “.

Kalimat tersebut menggambarkan situasi bangsa Indonesia saat ini yang menghadapi berbagai goncangan internal seperti gerakan intoleran, paham radikal, dan yang paling fatal adalah terorisme. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan 2,7 juta orang Indonesia terlibat dalam serangkaian serangan teror dan jumlah ini belum termasuk simpatisan jaringan terorisme artinya jumlahnya bisa lebih besar dari data tertulis (Tempo.co, 2016).

Di tahun 2021 tim Densus 88 terus melakukan upaya untuk menghentikan aksi terorsime, tercatat Mabes Polri telah menangkap 217 terduga teroris sejak januari-mei 2021, inilah fakta pentingnya mengamalkan nilai Bhinneka Tunggal Ika. Dari berbagai ancaman yang muncul terhadap bangsa Indonesia, tentunya sebagai generasi muda yang mewarisi jiwa patriotisme, semangat nasionalisme dan jiwa Pancasilais, Bhinneka Tunggal Ika harus semakin gencar disosialisasikan. Terkhusus kepada anak-anak negeri ini.

Anak-anak sejak dini harus dikenalkan dengan budaya bangsa Indonesia, dan memahami pentingnya menjaga kedaulatan RI, mengamalkan sila-sila pancasila sebagai warisan luhur dari para pendiri dan pejuang kemerdekaan. Pendidikan karakter juga harus diperkuat, nilai-nilai yang terkandung di dalam Bhinneka Tunggal Ika sebagai bentuk penyatuan dari perbedaan. Keberagaman adalah kekayaan bangsa yang harus terus dijaga dengan tekad, prinsip, nurani yang mencintai tanah air disertai tindakan nyata.

Bhinneka Tunggal Ika akan mengokohkan persatuan bangsa yang dibangun di atas perbedaan bila semua generasi memahami arti dari landasan Negara yakni Pancasila dan mengamalkannnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mari membangun bangsa Indonesia, dan memperkuat persatuan dan kesatuan yang dimulai dari lingkup keluarga, lingkungan masyarakat dan Negara, serta menanamkan kepada anak-anak negeri, bahwa Indonesia dibangun atas tetes darah perjuangan para pendahulu yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk kelangsungan generasi guna melanjutkan pembangunan. Saatnya berkontribusi untuk kemajuan bangsa Indonesia, kokohkan semangat Persatuan dan kesatuan. (*)

Penulis : Sartika Muchtar (Produser News Fajartv)