Awalnya Ragu, Kini Baharuddin Yakin Pelayanan Pasien JKN-KIS Tidak Didiskriminasi

  • Whatsapp
Narasumber : Baharuddin
Narasumber : Baharuddin

Mamuju, Upeks.co.id – Nyeri saraf akibat peradangan dan cedera saraf oksipital di otak disebut juga neuralgia oksipital. Kondisi ini sering kali dikira migrain atau sakit kepala biasa karena gejalanya yang mirip. Hal ini pernah dialami oleh Baharuddin (64), peserta JKN – KIS segmen Pekerja Penerima Upah (PPU). Ia salah satu warga Kelurahan Rimuku di Kabupaten Mamuju.

“Dahulu saya sering mengalami tegang di bagian leher, saya biarkan untuk aktivitas yang cukup berat biasanya makin sakit, tapi setelah istirahat yang cukup akhirnya ketegangan di leher sudah mulai mereda tapi lama kelamaan dibiarkan menjadi kepala saya yang sakit,” ungkap Baharuddin, Jumat (18/06).

Bacaan Lainnya

Tidak ingin kondisi memburuk, keluarga membawanya berobat ke fasilitas kesehatan (faskes) di sekitar rumahnya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun setelah beberapa kali berobat ke faskes, kondisinya tak kunjung membaik.

“Setiap kali saya periksa, dokter belum tahu pasti penyakit yang saya alami dengan baik, akhirnya dokter kemudian memberikan surat rujukan ke RS Bhayangkara untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Ternyata saya harus melakukan CT scan untuk mengetahui penyebab sakit kepala yang saya alami yang tak kunjung sembuh ini. Akhirnya setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut saya pun akhirnya tahu bahwa penyakit yang saya alami adalah neuralgia Oksipital,” tutur Baharuddin.

Dari pengalaman pengobatan yang dijalani selama ini, ia pun mengaku bahwa dirinya dilayani dengan baik. Meskipun pada awalnya ia merasa takut dan ragu untuk menggunakan fasilitas dari program pemerintah ini karena kabar yang selama ini di dengarnya, namun semua kabar itu tidak benar, dan hingga saat ini setiap kontrol ia masih terus menggunakan fasilitas dari program JKN – KIS.

“Secara keseluruhan pelayanannya sangat baik. Selain tanpa biaya sama sekali, dirumah sakit pun saya tidak merasa dibeda-bedakan dengan pasien yang bayar sendiri. Saya merasa sangat beruntung dengan adanya program ini. Tak terbayangkan bagaimana saya bisa membayar biaya perawatan kalau saja harus membayar dengan biaya sendiri. Di sini saya baru mengerti apa arti dengan gotong royong semua tertolong yang menjadi dasar adanya program pemerintah ini,” tutur Baharuddin.(jamkesnews)

Pos terkait