Program Kolam Ikan Air Tawar Yayasan Hadji Kalla Bangkitkan Ekonomi Warga Desa

  • Whatsapp
Program Kolam Ikan Air Tawar Yayasan Hadji Kalla Bangkitkan Ekonomi Warga Desa

 

LUWU, Upeks.co.id–Yayasan Hadji Kalla Kembali melanjutkan program Desa Bangkit Sejahtera (DBS) di Desa Kaili, Kecamatan Suli Barat, Kabupaten Luwu. Lokasi tersebut memang merupakan desa binaan dalam kurun waktu setahun terakhir. Kali ini fokusnya ialah program kolam ikan air tawar.

Bacaan Lainnya

Sebagaimana yang diketahui bahwa kondisi geografis Kabupaten Luwu didominasi oleh wilayah daratan dan pegunungan. Hal ini tentu menjadi alasan kenapa masyarakat di kabupaten ini tidak banyak mendapat asupan gizi dari hasil laut berupa ikan karena memang daerahnya jauh dari wilayah laut. Di beberapa daerah, ikan menjadi hal yang sangat langka untuk ditemui. Oleh karena itu, melihat kondisi tersebut, Yayasan Hadji Kalla melalui DBS menginisisasi program kolam ikan air tawar.

“Tujuan dari program ini adalah agar masyarakat Desa Kaili bisa mendapatkan asupan gizi yang lebih banyak dengan ikan air tawar yang bisa dibudidayakan secara mandiri oleh masyarakat. Selain itu, ada pula nilai ekonomis yang tinggi dari program ini. Jika dalam prosesnya bisa dikelola secara mandiri dan berkelanjutan, maka masyarakat bisa menjual hasil panen ikan secara rutin yang tentu akan mendongkrak perekonomian di desa,” jelas Muh Taufiq Mustariawan, Fasilitator DBS Yayasan Hadji Kalla.

Sejak dimulai pada bulan September 2020 lalu, di Desa Kaili terhitung telah memiliki lebih dari 30 kolam ikan air tawar yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Dimana sebelumnya hanya ada 3 kolam percontohan yang dibuat di beberapa rumah warga dan rumah kepala desa. Setelah berjalan beberapa bulan dan berhasil di ketiga lokasi pertama, maka masyarakat Desa Kaili berangsur ikut dalam pengadaan kolam mandiri di rumah masing-masing dan setiap warganya mendapatkan pendampingan oleh fasilitator Desa Bangkit Sejahtera Muh. Taufiq Mustariawan dan Kardi. Sebelumnya, telah diadakan pelatihan untuk warga agar bisa lebih mengenal pengelolaan kolam ikan air tawar ini.

“Dari 30 kolam ikan air tawar yang ada, 90% kolam berisi ikan jenis lele, jenis tersebut dipilih karena pemeliharaannya yang lebih mudah dan efisien serta tidak membutuhkan perawatan khusus dan biaya besar.

Kebanyakan dari masyarakat Desa Kaili memiliki kolam lebih dari satu dengan tujuan untuk produksi dan hasil panen yang lebih besar,” ungkap Kaharuddin, Kepala Desa Kaili.

Selama berjalan, berita keberhasilan masyarakat Desa Kaili dalam pengelolaan kolam ikan air tawar sampai di telinga beberapa pihak dan telah ada beberapa kelompok usaha seperti rumah makan dari Belopa yang datang untuk meminta pasokan ikan lele. Namun, permintaan yang cukup besar hingga angka 1 ton (1.000 kilogram) setiap bulannya belum bisa dipenuhi oleh warga karena pengelolaannya yang masih rumahan.

“Dari pihak Pemerintah Desa Kaili sendiri telah berencana untuk melakukan rembuk bersama semua warga untuk menentukan beberapa hal dan membentuk kelompok usaha pengelolaan ikan air tawar agar bisa lebih teratur sehingga dalam kurun waktu dua bulan ke depan, permintaan dari luar sudah bisa kita penuhi,” jelas Kaharuddin.(rls)