Pesantren Ramadan Virtual UMI Bahas Makna dan Refleksi Diri

  • Whatsapp
Pesantren Ramadan Virtual UMI Bahas Makna dan Refleksi Diri

MAKASSAR.UPEKS.co.id—Hari ke-29 Pesantren Ramadhan Virtual UMI, Selasa (11/5) bahas “Makna dan Refleksi Diri”. Narasumber Ketua UPT PKD UMI Dr.H.M.Ishaq Shamad, MA.

Hadir Ketua LPM UMI Prof.Dr.Ir.H.Abd. Makhsud, DEA, Psikolog Syahrul, M.Psi, Kabid Masjid Drs.H.Abd. Hamid Sulaiman, Kabid Tahfizh Ahmad, M.Pd, sejumlah dosen dan karyawan UMI, Host Dr.Nurjannah Abna dan Ir.Rusli Roy.

Bacaan Lainnya

Dr.M.Ishaq Shamad menjelaskan perlunya memahami diri sendiri, agar mampu mengenal Tuhan, sebagaimana ungkapan para Sufi “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” (Siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhannya).

Refleksi diri tentang berbagai amalan dan ibadah yang dilakukan di dalam bulan Ramadhan, apakah amalan dan ibadah tersebut sudah lebih baik dari Ramadhan tahun lalu atau malah sebaliknya.

Lihatlah panca indra kita, apakah mata digunakan untuk banyak melihat mushaf al-Qur’an, mulut kita digunakan membaca al- Qur’an dan berkata benar untuk saling menasehati.

Lihat pula telinga dan pendengaran, apakah sudah sering mendengar taushiyah, dan hal-hal yang baik, dst. Intinya, semua panca indra digunakan untuk mengabdi kepada Allah Swt, jelasnya.

Kabid Masjid Drs.H.Abd. Hamid Sulaiman mempertanyakan bagaimana mengimplementasikan mengenal diri dan mengenal Tuhan.

Psikolog Syahrul menjawab dengan mengemukakan pentingnya “bercermin” dalam istilah psikologi, yakni melihat secara utuh diri kita dalam melaksanakan ibadah dan amalan kepada Allah Swt.

Dibutuhkan ibadah puasa yang ikhlas, ibadah shalat yang khusyu, dan tadarrus al-Qur’an yang konsisten, serta banyak berzikir kepada Allah Swt. Namun semua ibadah yang dilakukan, berujung pada ayat al-Qur’an “laqad kaana lakum fiy Rasulillaahi Uswatun Hasanah” (pada diri Rasulullah suri tauladan yang terbaik), yakni membentuk akhlaqul kariymah, jelasnya.

Hal ini dibenarkan oleh Kabid Tahfizh dalam kitab Asy Ary menjelaskan “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”, adalah perkataan ulama, yang harus didasari dengan iman yang kuat, Syariah/ibadah yang konsisten, dan adab atau akhlaq yang ditampilkan.

Sebab, tidak ada artinya iman dan Syariah, jika tidak dibarengi dengan adab atau akhlaqul kariymah, jelasnya.

Host Dr.Nurjannah Abna menambahkan dibutuhkan konsistensi dalam melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan untuk dilakukan di luar bulan Ramadhan atau istilah ustaz Ishaq “meramadhankan sebelas bulan di luar bulan Ramadhan”.

Dengan demikian, menjadikan kita manusia yang ahli ibadah dan dekat dengan Allah Swt, jelasnya.

Prof.Abd. Makhsud sangat setuju dengan ungkapan siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya, yang dalam Bahasa Bugis disebut “Is’al” atau “issengngi aleemu” (kenallah dirimu).

Hal ini mengandung makna yang sangat mendalam, jika kita mampu menerapkan “Is’al”, maka kita akan selamat hidupnya di dunia dan di akhirat, sebutnya.