Keharuan Warnai Idul Fitri di Masjid Al Adewiyah Kompleks Perumahan UMI

  • Whatsapp
Keharuan Warnai Idul Fitri di Masjid Al Adewiyah Kompleks Perumahan UMI

MAKASSAR.UPEKS.co.id—Suasana hikmad dan haru mewarnai pelaksanaan salat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H di Masjid Al Adewiyah Kompleks Perum UMI Makassar.

Tampak penerapan protokol kesahatan ketat dan tetap diawasi satgas covid 19 Kota Makassar.Jamaah tanpa antusias mengikuti rangkain pelaksanaan salat id.

Bacaan Lainnya

Diawali gema takbir yang dikumandangkan remaja dan pengurus masjid diikuti seluruh jamaah.

Salat Idul Fitri dipimpin Imam, Ferdiansyah, SQ,SE. (Pembina Tahfidz Al Adewiyah), sedangkan Khatib Abdul Majid, S.Sos,M.Si/Wakil Dekan 3 Fakultas Sastra UMI.
.
Susana berbeda tahun sebelumnya, karena khatib dengan semangat menyampaikan khutbah dalam tiga Bahasa (Arab, Indonesia dan Bugis), disambut antusias penuh hikmad, keheningan dan suasana isak tangis karena perasaan haru jamaah.

Terlebih lagi saat khatib menyinggung betapa besar perjuangan sosok ibu dan bapak dalam pendidikan dan karakter seorang anak, serta pentingnya memuliakan orang tua. Selain itu diberengi kisah dan narasi yang menyentuh nurani jamaah masjid.

Khatib Abdul Majid juga mengulas, bagaimana menyikapi musibah pandemi covid 19 yang melanda dunia Internasional, sekitar 215 negara termasuk negara muslim Arab Saudi termasuk Indonesia. Menyusul musibah silih berganti di Indonesia.

Khatib mengingatkan, agar manusia jangan sombong, patuhi aturan, ikhtiar dan taqarrub, berdoa dan mengambil Ibrah dan pelajaran agar bisa tetap semangat dan segera keluar dari pandemi covid 19.

Menyikapi munculnya berbagai musibah di Indonesia terhusus di Makassar, Khatib menyampaikan pentingnya membersihkan hati, menjauhkan diri dari dengki, jangan ada dendam, serta perlunya saling memafaatkan.

Selain itu, khatib menegaskan, hari ini kta kembali ke titik nol lagi, dan kembali berjuang dan istiqomah karena iblis dan balatentaranya telah terbebas dari belenggu dan borgol pasca Ramadhan.

Iblis sudah mulai menjajakan pengaruhnya, seperti kemunafikan, sumpah palsu, kedurhakaan, iri hati, dan gosip serta kemaksisatan. Sehingga hanya orang yang kuat imannya akan bebas dan tak terpengaruh bujuk rayu.