Tujuan Penciptaan Manusia

  • Whatsapp
Tujuan Penciptaan Manusia

 

 

Bacaan Lainnya

Penulis: Abd. Rauf, Lc

(Penghulu Ahli Madya Bontoala Kota Makassar)

Tidak ada yang dicipta sia-sia, semua ada hikmahnya. Masing-masing membawa risalah dan dia yang dicipta akan disebut sempurna jika menunaikan risalah itu dengan sempurna, dengan sebaik-baiknya. Jangankan manusia, makhluk kecilpun seperti burung, belalang, jamur, bakteri, jangkrik, kutu, nyamuk dan cacing, ada tujuan dari penciptaannya. Maka ketika kita merenungi alam semesta ini kita akan sampai pada kesimpulan:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًاسُبْحَانَكَ…

Artinya: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,… (Ali Imran: 192)

Manusia membawa tujuan (risalah) penciptaannya sendiri. Risalah itu melekat pada dirinya, digenggamnya sejak dia lahir hingga akhir hayatnya. Pengejawantahan misi tersebut dengan baik akan memuliakannya, mengangkat derajatnya. Pun jika risalah tersebut diabaikan akan menghinakan, bahkan menghancurkannya.Tujuan Penciptaan Manusia

  1. Ibadah

Mengenai tujuan penciptaan ini, Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ  مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (mengabdi) kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (Adzariaat : 56-57)

Ibadah dalam pengertiannya yang sempit dan pengertiannya yang luas. Dalam arti sempit, ibadah yang dimaksud adalah ibadah mahdhah (murni) seperti shalat, zakat, puasa, haji, umrah, qurban dan lain-lain. Maupun ibadah dalam pengertian yang luas, yang mencakup seluruh aktifitas sebagai manusia. Ibadah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah nama yang mencakup seluruh yang dicintai dan diridhoi oleh Allah SWT berupa perbuatan atau ucapan baik yang lahir (tampak) maupun batin. Profesi kita akan bernilai ibadah jika profesi itu halal dan diniatkan untuk mencari ridho Allah SWT.

  1. Khilafah (menjadi khalifah/pemimpin)

Untuk tujuan ini Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً …

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi….” (Al Baqarah: 30)

Khalifah menurut bahasa bermakna pengganti, juga berarti pemimpin atau imam. Manusia dalam konteks ini ditugaskan untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Secara ideal, hal ini menuntut manusia untuk menjadi teladan bagi masyarakatnya dan selalu berada di depan (imam). Seorang pemimpin, menurut Quraish Shihab dalam bukunya Menabur Pesan Ilahi, bukan saja harus mampu menunjukkan tetapi juga memberi contoh aktualisasi, sama halnya dengan imam dalam shalat memberi contoh agar diteladani oleh makmunnya. Atau dalam pilosofi pendidikan Kihajar Dewantoro “INMADYA MANGUN KARSO, ING KARSO SUNTULUDO, TUTWURI HANDAYANI”

  • Imarah

Imarah berarti membangun, memakmurkan mensejahterakan. Dalam hal ini memkmurkan bumi. Tujuan ini disebutkan allah dalam firman-nya:

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

Artinya: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya,” ( Hud: 61)

Menjadi pemakmur bumi berarti membangunnya, memperbaiki jika ada yang rusak sekaligus menjadikan seluruh penghuninya makmur dan sejahtera. Memakmurkan bumi berarti membangun seluruh yang dibutuhkan oleh manusia dalam rangka ibadah kepada Allah dan sarana yang diperlukan untuk megaktulisasikan diri sebagai khalifah di bumi.

Islam memerintahkan semua yang mendukung ke arah pencapaian tiga tujuan penciptaan tersebut. Memberi pahala semua amal perbuatan yang dilakukan dalam rangka tujuan-tujuan mulia itu. Sebaliknya islam juga melarang semua perbuatan yang merusak tiga tujuan penciptaan tadi. Mengharamkan dan menganggap dosa serta diancam dengan balasan neraka.

Mengapa mempersekutukan Allah dilarang? Karena bertentangan dengan tujuan penciptaan yaitu menyembah hanya kepada Allah tiada sekutu baginya. Mengapa memperbudak sesama manusia, melanggar hak asasi dilarang dalam islam? Karena manusia adalah pemimpin, terlahir merdeka dan perbudakan, pelanggaran hak asasi merusak status khalifah tersebut. Mengapa merusak lingkungan haram, bahkan dalam kondisi peperangan kita dilarang merubuhkan bangunan dan menebang pohon? Karena bertentangan dengan tugas dasar manusia sebagai pembangun, pemakmur bumi. 

Setiap kita berkewajiban menunaikan ketiga risalah tersebut dengan sebaik-baiknya. Semakin sempurna pelaksanaan kewajiban itu semakin mulia pula kita di mata Allah. Dan semakin rendah tingkat pelaksanaannya pada manusia, semakin jauh pula dia dari rahmat Allah SWT. Ketiganya adalah amanah di pundak setiap kita. Mari berlomba menjadi manusia termulia!