Pesantren Ramadan Virtual UMI Hadirkan WR 2, Bahas Tiga Prinsip Pelayanan Islami

  • Whatsapp
Pesantren Ramadan Virtual UMI Hadirkan WR 2, Bahas Tiga Prinsip Pelayanan Islami

MAKASSAR.UPEKS.co.id—Pesantren Ramadhan Virtual UMI Bahas “Tiga Sifat Layanan Islami di Bulan Ramadhan” menghadirkan, Wakil Rektor (WR) 2 UMI Prof.Dr.H.Salim Basalamah,SE, M.Si, Senin (20/4).

Hadir sejumlah dosen dan mahasiswa serta calon mahasiswa baru UMI, dipandu Host Dr.M.Ishaq Shamad dan Dr.Nurjannah Abna.

Bacaan Lainnya

Prof.Salim Basalamah menjelaskan, tiga hal yang perlu diterapkan dalam melayani mahasiswa di UMI.

Diantaranya, sifat wara’, yakni sifat yang sederhana, tidak sombong dalam memberikan layanan, sebab mahasiswa ibaratnya raja yang dilayani. Tanpa mahasiswa, maka tidak ada pelayanan di kampus.

Selanjutnya sifat qanaah, yakni merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki, sehingga tidak ada ambisi untuk mendapatkan yang lebih. Tetapi sebaliknya sifat ketiga yang selalu bersyukur terhadap apa yang telah diperoleh, syukuri nikmat Allah Swt, akan ditambah nikmat olehNya, jelasnya.

Host Dr.M.Ishaq Shamad menambahkan jika sifat wara’ sangat penting dalam menjalankan ibadah puasa, sebab dengan begitu, akan menghindarkan kita segala perbuatan yang dapat menjerumuskan ke dalam dosa.

Puasa mendidik kita untuk mampu menahan diri dari segala godaan yang mengarah kepada sifat-sifat yang tercela. Namun ada pengembangan makna dan implementasi dari sifat wara’ ini, jika dulu para Sufi mengartikan wara’, artinya meninggalkan kehidupan duniawi, tidak mengejar harta dan jabatan.

Namun sekarang makna wara’, diartikan memiliki sikap yang tidak meninggalkan kehidupan dunia dan jabatan, tetapi ia tidak diperbudak oleh harta dan jabatan. Malah dengan harta dan jabatan yang ia peroleh, digunakan untuk membantu sesama dan berada di jalan Allah Swt.

Diceritakan dalam sejarah salah satu sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf, dikenal kaya, dan ia mau jatuh miskin dengan menggunakan hartanya membeli kurma busuk, tetapi ia gagal jatuh miskin, karena kurma busuk sangat laku dibeli dari negara tetangga yang sangat membutuhkannya untuk pengobatan.

Oleh karena itu, tidak apa-apa menjadi orang kaya dan pejabat, tetapi hati dan pikirannya tetap menegakkan keadilan dan kebaikan untuk umat dan kemanusiaan, jelasnya.

Host Dr.Nurjanna Abna menambahkan, salah satu ciri orang yang wara’, adalah memakan makanan dan minuman yang halal, dan ia menghindari hal-hal yang syubhat (tidak jelas halal-haramnya).

Dikomentari oleh Dr.M.Ishaq Shamad tentang seorang ulama besar bernama An Nukman yang melihat buah apel hanyut di Sungai. Ia kemudian mengambilnya, tetapi sebelum buah apel itu dimakan, terlebih dahulu ia menemui pemilik kebun apel tersebut dan meminta halalnya.

Namun pemiliki kebun tersebut sangat terkesan dengan adab dan akhlaq an Nukman, sehingga ia memintanya untuk menikahi putrinya, jika buah apel tersebut mau dihalalkan, dan akhirnya dinikahi. Ini memberi pembelajaran bagaiman seorang ulama menjaga diri dari memakan makanan yang tidak halal, jelasnya. (rls).