Pesantren Ramadan Virtual UMI Bahas Urgensi Keimanan dan Tauhid

  • Whatsapp
Pesantren Ramadan Virtual UMI Bahas Urgensi Keimanan dan Tauhid

MAKASSAR.UPEKS.co.id—Hari ke-16, Pesantren Ramadhan Virtual UMI bahas “Keimanan dan Tauhid” menghadirkan Drs.H.M.Ilyas Upe, M.A (Wakil Dekan IV Fakultas Farmasi UMI, Rabu (28/4).

Hadir pula, WD4 Fak Kedokteran Gigi Dr.H.Syamsul Bahri, M.A, Asisten Direktur 1 Padanglampe H.M.Yunus Anwar, sejumlah Wakil Dekan IV, Dosen, karyawan dan mahasiswa UMI.

Bacaan Lainnya

M.Ilyas Upe menjelaskan pentingnya keimanan yang kuat dan tauhid kepada Allah Swt, sehingga membicarakannya lebih diutamakan.

Aqidah, adalah ikatan yang kuat serta keyakinan hati yang pasti dan tidak ada keraguan terhadap Allah, inilah tauhid.

Dikatakannya, Tauhid manifestasi keimanan kepada Allah Swt, sebagai Tuhan. Keimanan penting, karena menjadi pondasi agama. Nabi menyebut, Islam didirikan dari beberapa perkara, yakni syahadat, puasa, shalat, zakat, dan naik haji.

Selain itu, manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah Swt. Karena itu, inti dakwah dari para Nabi dan Rasul, adalah tauhid dan keimanan kepada Allah Swt. Dikatakan tauhid menjadi dakwah utama Nabi Muhammad Saw, lebih dari separuh waktu Nabi Saw untuk mendakwahkan keimanan dan tauhid, jelasnya.

Dr.Syamsul Bahri menambahkan aqidah, artinya ikatan terhadap hati manusia untuk beriman kepada Allah Swt. Jika hati manusia tidak diikat, maka ia akan liar, seperti liarnya binantang seperti kuda.

Jika kuda liar berlari bisa merusak macam-macam, sebutnya. Untuk itu diperlukan iman dan tauhid yang kuat untuk mengikat hati dan pikiran manusia, agar selalu berada di jalan Allah Swt, jelasnya.

Dr. Surani menambahkan, iman manusia keluar masuk, jika manusia beribadah, maka imannya kuat, namun jika ia berbuat maksiat, maka imannya hilang.

Selanjutnya Ahmad, M.Pd, mengomentari bahwa iman memang selalu keluar masuk. Karena itu dibutuhkan konsistensi dalam beribadah kepada Allah Swt.

Salah satu peserta Niar Arfah bertanya, bagaimana agar iman tidak menurun?. Dr.Syamsul Bahri menjawab dengan melakukan ibadah secara kontinyu. Misalnya selain shalat wajib, lakukan pula shalat sunnat tahajjud, dhuha, dan banyak membaca al-Qur’an, sehingga hati akan selalu tenang.

H.M.Yunus Anwar menambahkan, agar senantiasa banyak berzikir dan melakukan amal kebajikan, berusaha menghindari dosa dan kemaksiatan, jelasnya.

Host Dr.M.Ishaq Shamad menambahkan bagaimana jika ada orang yang tidak mampu menjalankan semua ibadah sunat tersebut, hanya yang wajib-wajib saja?.

Dijawabnya bahwa disinilah pentingnya syahadat, yakni menyaksikan kebesaran Allah Swt. Al-Qur’an menyebut ciri orang beriman, adalah apabila disebut-sebut nama Allah, maka bergetar hatinya, jika ia melihat dan menyaksikan kebesaran Allah, maka bertambah imannya, dan hanya kepada Allah ia bertawakkal.

Selanjutnya siapapun umat yang mampu menyaksikan kebesaran Allah Swt, dengan ilmunya, maka pasti ia akan khusyu dalam shalatnya, jelasnya. (rls).