Pesantren Ramadan Virtual UMI Bahas Konsep Tawadhu Dalam Islam

  • Whatsapp
Pesantren Ramadan Virtual UMI Bahas Konsep Tawadhu Dalam Islam

MAKASSAR.UPEKS.co.id—Pesantren Ramadhan Virtual UMI di hari ke-10 membahas “Konsep Tawadhu dalam Islam”. Narasumber Dr.Ir.H.Asbar, M.Si, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UMI).

Hadir Dr.dr.Nasruddin A.Mappawere, SpOG, Wakil Dekan 1 Fak.Kedokteran UMI, Dr. Nursetiawati, M.Ag, Ph.D, Wakil Dekan IV Fak.Teknik UMI, sejumlah dosen, karyawan dan mahasiswa UMI, dipandu Host Dr.M.Ishaq Shamad dan Dr.Nurjannah Abna.

Dr.Ir.Asbar menjelaskan konsep tawadhu dalam Islam, sikap merendah kepada Allah Swt, kepada para Nabi dan Rasul, Ulama, guru dan orang tua. Sikap rendah hati, ditandai tidak angkuh dan tidak sombong.

Rasulullah bersabda, tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji saarh. Tanda orang tawadhu jika mampu menempatkan dirinya sesuai kondisi.

Misalanya jika diberi amanah, maka ia terima dengan ikhlash tanpa protes. Demikian pula, jika ia berada di depan guru/orang tua, maka harus bersikap rendah hati.

Orang tawadhu, adalah orang yang pasrah dan meneriman kebenaran yang ditemuinya, walaupun kebenaran itu datang dari siapapun, sebagaimana pepatah Arab “lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat orangnya”, jelasnya.

Dr.Nursetiawati menanyakan, bagaimana sikap kita, jika ada yunior yang baru semester 1 di S3, namun ia sudah sombong dan merendahkan orang yang sudah selesai S3.

Dr.Ir.Asbar menjawab dengan mengemukakan pentingnya memiliki sifat seperti padi, semakin berisi semakin menunduk. Itulah sebabnya ada orang, baru mengetahui satu ilmu, maka ia sudah sombong dengan ilmunya itu, padahal msih ada ribuan ilmu lainnya yang ia tidak ketahui.

Ibaratnya, ilmu kita, hanya setetes air dibanding air lautan yang sangat luas, jelasnya.

Dr.Nasruddin menambahkan sangat penting bagi manusia untuk sujud dalam shalatnya, karena dengan sujud, kepala orang yang shalat serendah dengan kaki, dan ternyata aliran darah yang mengalir ke otak orang yang sujud itu akan lancar, sehingga akan membuat pikirannya lebih jernih.

Dengan demikian, akan mengurangi kesombongan manusia. Kita sangat butuh peningkatan ilmu pengetahuan walaupun sudah selesai kuliah S-3, tetapi tetap kuliah lagi demi menambah ilmu, karena memang anjuran ajaran Islam untuk rajin menuntut ilmu.

Oleh karena itu, banyak sekali ajaran Islam sangat sesuai dengan ilmu Kesehatan, misalnya bayi yang baru lahir ternyata bayi tersebut juga telungkup seakan ia sujud kepada Allah Swt.

Demikian pula suami-istri yang telah melakukan jimak (tentu saja di malam hari di bulan Ramadhan), kemudian mandi junub, itu sangat sehat dibanding orang Barat, mereka mandi dulu baru melakukan hubungan suami istri, jelasnya.

Host, Dr.M.Ishaq Shamad menambahkan sangat penting menjadi manusia tawadhu, manusia yang mampu bersikap rendah hati dihadapan Allah Swt dan rajin beribadah, terutama ibadah shalat, dan tawadhu dihadapan manusia lainnya, saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Terutama dalam hal keilmuan, yang dikenal istilah “di atas langit masih ada langit”, tutupnya. (rls).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *