Kunci-kunci Keselamatan

  • Whatsapp
Kunci-kunci Keselamatan

Penulis: Ustadz Abd Rauf LCAbd. Rauf, Lc
(Penghulu Ahli Madya Bontoala Kota Makassar)

Selamat dunia akhirat adalah cita-cita setiap orang muslim. Hal tersebut kita buktikan dengan selalu membaca doa keselamatan dunia akhirat setiap selesai shalat lima waktu bahkan sepanjang waktu.

Bacaan Lainnya

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya:  “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan (keselamatan) di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Kunci-kunci Keselamatan

Demi menggapai cita-cita tersebut kita berusaha menempuh jalan-jalan yang ditunjukkan oleh Allah dan Rasulnya-Nya. Banyak petunjuk dalam agama untuk menggapai keselamatan tersebut. Di antaranya hadis Uqbah sebagai berikut:

عن عقبة بن عامرٍ – رضي الله عنه – قَالَ : قُلْتُ : يَا رسولَ اللهِ مَا النَّجَاةُ ؟ قَالَ : (( أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ ، وابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ )) . رواه الترمذي

Artinya: “Dari Uqbah bin Amir ra. dia berkata, saya bertanya kepada Rasulullah SAW: wahai Rasulullah, apa itu [kunci] selamat?. Nabi bersabda: “Jagalah lidahmu, merasa lapanglah di rumahmu dan tangisilah kesalahanmu” (HR. Tirmidzi)

Berdasarkan hadis ini, Nabi menyebutkan tiga kunci keselamatan, yaitu:

Pertama, Menjaga Lidah.

Tentu kita akrab dengan peribahasa (سلامة الإنسان في حفظ اللسان) “Selamatnya manusia karena menjaga lidahnya” dan juga pepatah “Mulutmu Harimaumu”. Ini menunjukkan betapa pentingya posisi lidah, dalam hal ini ucapan, dan kata-kata yang keluar darinya. Bahkan dalam satu riwayat disebutkan bahwa seluruh anggota tubuh kita pada pagi hari meminta kepada lidah untuk berhati-hati karena nasib anggota tubuh yang lain; baik buruknya, sengsara dan keselamatnnya tergantung kepada lidah. Nabi SAW bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ أَعْضَاءَهُ تُكَفِّرُ لِلِّسَانِ تَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّكَ إِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

Artinya: “Apabila manusia telah berada di waktu pagi, seluruh anggota tubuh mewanti-wanti sang lidah sambil berkata kepadanya: “Bertaqwalah kepada Allah akan kami karena nasib kami bergantung padamu, apabila kamu lurus kami juga akan lurus dan jika kamu bengkok maka kami akan ikut bengkok” (HR. Ahmad)

Seringkali lidah menyebabkan orang tersinggung kemudian membuatnya terluka perasaannya, luka yang sulit untuk disembuhkan. Luka yang lebih berbahaya dari terluka karena senjata atau pedang. Sebagaimana pepatah mengatakan: jika pedang lukai tubuh ada harapan untuk sembuh, jika lidah lukai hati kemana obat hendak dicari.

Lidah ibarat pisau bermata dua. Jika tidak digunakan dengan sebaik-baiknya bisa membahayakan penggunanya sendiri. Lidah bisa menjadi sebab masuk surga bisa pula menjadi penyebab masuk neraka. Lidah menentukan baik buruknya nasib sesorang. Dalam kisah Lukmanul Hakim disebutkan, ketika dia disuruh oleh rajanya untuk menyembelih seekor kambing, raja menyuruhnya mengambil yang terbaik dari binatang yang disembelihnya Lukman mengambil hati dan lidahnya. Dan ketika di kali lain dia disuruh sang raja mengambil yang terburuk dari hewan sembelihan, Lukman kembali mengambil hati dan lidahnya. Sang raja kaget, marah dan tersinggung dengan kelakuan Lukman. Raja meminta penjelasan padanya. Lukman berkata: “Wahai raja, tidak ada yang lebih baik jika keduanya baik, demikian pula tidak ada yang  lebih buruk jika keduanya buruk”. Artinya, kedua anggota tubuk itulah yang jika baik, maka baik pula seluruh anggota tubuh dan jika hati dan lidah tidak baik maka buruk pula perangai yang lainnya.

Pertanyaannya ialah bagaimana cara menjaga lisan kita agar terhindar dari keburukan-keburukan, dosa dan maksiat? Cara yang efektif untuk menjaga lidah adalah dengan membaca al Qur’an, berdzikir dan memperbanyak kalimat-kalimat thayyibah (La ilaha Illallah, Subhanallah, Alhamdulillah, La haula wala quwwata illa billah dan sebagainya) melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, berkata-kata yang mubah (yang di ddalamnya tidak ada dosa) dan dengan diam. Diam adalah emas. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi bersabda:

الصَّمْتُ حِكْمَةٌ ، وَقَلِيلٌ فَاعِلَهُ

Artinya: “Diam adalah hikmah (sebentuk kebijaksanaan) tetapi sedikit yang melakukannya.” (Al Hadis)

Kunci keselamatan yang kedua adalah lapang ketika berada di rumah

Rumah harus menjadi tempat yang paling nyaman dan menyenangkan. Dari rumah kita melahirkan anak-anak generasi pelanjut. Rumah memilki fungsi dan peran peradaban. Oleh sebab itu rumah harus disiapkan sebagai tempat lahirnya manusia-manusia unggul. Rumah harus lapang dalam arti perasaan kita menjadi senang dan bahagia ketika berada di dalamnya. Rumah yang di situ penghuninya bisa berkata: “Rumahku Surgaku” rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah ( happy family life ).

Suatu keluarga bisa disebut sakinah jika dalam rumah tangga tersebut ada:

Orangtua/suami istri yang menjalankan fungsinya dengan baik. Suami yang bisa jadi imam dan teladan dalam rumah tangga, bahkan di lingkungan masyarakat sekitar. Istri salehah yang taat kepada Allah, taat pada suami dan pandai mengurus rumah tangga.

Anak-anak saleh yang sehat, cerdas berakhlak mulia yang bisa diharapkan di masa depan baik oleh keluarga maupun bangsa dan agama. Anaka-anak yang menjadi Qurrata A’yun (penyejuk mata dan hati bagi yang melihatnya) bagi kedua orang tuanya, bahkan di mata orang lain dan masyarakat secara luas.

Pengamalan agama yang dalam kehidupan sehari hari. Seperti shalat berjamaah di rumah, membiasakan mengucapkan salam ketika masuk dan keluar rumah, membaca Al Qur’an dan adab-adab islami lainnya.

Tempat tinggal yang layak, ekonomi yang cukup, sejahtera lahir dan batin.

Contoh terbaik untuk mendapatkan “Rumahku Surgaku” adalah Rasulullah SAW dan keluarganya. Meskipun rumah Nabi SAW terhitung sangat sederhana, bahkan sangat sempit, tetapi karena seluruh prasyarat untuk mendapatkan keluarga yang sakinah terpenuhi, maka rumah beliau benar-benar menjadi surga.

Kunci keselamatan yang ketiga adalah menangisi kesalahan di masa lalu.

Hal ini berarti seseorang harus menyesal atas dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu. Menyadari kemudian menyesal atas kekhilafan di masa lalu. Air mata yang tumpah karena penyesalan atas dosa-dosa di masa lalu adalah air yang mampu memadamkan murka Allah SWT dan memadamkam api neraka.

Setiap orang pasti pernah bersalah bahkan mungkin berdosa. Tidak ada yang ma’shuum (terpelihara dari dosa)  kecuali Allah dan Rasul-Nya. Adapun manusia biasa dipastikan pernah bersalah dan berdosa. Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Artinya: “Seluruh anak cucu Adam adalah pelaku salah dan sebaik-baik orang bersalah adalah yang bertaubat” (HR. Tirmidzi).

Menangis adalah bukti nyata penyesalan atas salah dan dosa. Dan ketika air mata penyesalan telah mengalir maka pada saat itu dosa-dosa juga berguguran bersamanya. Tangis penyesalan dari hati adalah bukti taubat. Tangis yang akan membuka pintu ampunan dan menghapus dosa-dosa. Dan ketika dosa seorang hamba diampuni oleh Allah SWT, maka pastilah dia selamat dari siksa dan azab-Nya.

Mari berlomba untuk selalu menjaga lisan, merasa nyaman ketika di rumah dan bersungguh-sungguh menangis atas kesalahan sebagai pertanda taubat kepada Allah SWT.

Itulah kunci-kunci keselamatan, segeralah memakainya!