Kewajiban Orang Tua Pada Anak

  • Whatsapp
Kewajiban Orang Tua Pada Anak

Menyiapkan generasi yang unggul dan saleh adalah kewajiban setiap orang tua. Allah Swt mengingatkan setiap orang tua jangan sampai meninggalkan di belakang mereka generasi pelanjut yang lemah. Allah swt berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 

Bacaan Lainnya

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An Nisa’: 9)Kewajiban Orang Tua Pada Anak

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini, menyebutkan riwayat bahwa Rasulullah Saw menjenguk Saad bin Abi Waqqas ra, kemudian Saad berkata: Wahai Rasulullah saya adalah orang yang berharta dan ahli warisku hanya seorang anak perempuan. Apakah saya bersedekah dengan 2/3 dari hartaku?  Beliau menjawab: Tidak boleh. Aku bertanya lagi: Dengan setengahnya? Beliau menjawab: Tidak boleh, dengan sepertiga saja. Dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang akan meminta-minta kepada manusia. (HR. Muslim) 1)

Orangtua diminta agar memperhatikan dengan sungguh-sungguh generasi setelahnya. Tidak boleh hadir generasi lemah sepeninggal orang tuanya. Ayat ini mengingatkan agar orang tua berhati-hati jika mati belum menyiapkan anak keturunan, sehingga mereka menjadi beban masyarakat dan zaman.

Meski An Nisa’: 9 khusus berbicara dalam konteks harta yang bermakna tidak boleh meninggalkan anak yang miskin, lemah ekonomi, akan tetapi terdapat kelemahan-kelemahan lain yang perlu dikhawatirkan terjadi pada anak-anak keturunan, generasi sesudah kita. Kelemahan-kelemahan yang perlu diwaspadai adalah lemah iman dan akidah, lemah akhlak dan budi pekerti, lemah ibadah, lemah ilmu dan skill, lemah ekonomi, lemah fisik lemah jiwa dan mental.

Dalam Islam setiap orangtua memiliki beberapa kewajiban asasi terhadap anak yang harus dilaksanakan.

Pertama, memberikan kepada anak nama yang indah. Yaitu nama yang mengandung doa dan harapan, optimisme dan kemualiaan. Jika seorang laki-laki diberi nama yang mengandung unsur kekuatan, kejantanan dan keberanian dan hal-hal yang identik dengan kelaki-lakian. Diriwayatkan bahwa kakek Rasulullah saw Abdul Muttalib ketika memberi nama Muhammad kepada cucunya itu, berkata: Aku beri dia nama Muhammad agar dia menjadi laki-laki terhormat, tangguh, mulia dan terpuji. Sebagai contoh nama yang baik adalah Abdullah, Abdul Rahman, nama-nama Nabi dan Rasul, orang-orang saleh, tokoh agama dan ummat.

Demikian pula jika anak perempuan diberi nama yang mengandung unsur keindahan, kecantikan, kelembutan dan sifat-sifat kewanitaan yang indah lainnya. Misalnya Maryam, Khadijah, isteri-isteri Rasulullah, dan wanita-wanita salehah serta tokoh-tokoh ummat, para pahlawan dari zaman ke zaman.

Kewajiban kedua adalah menafkahi dengan nafkah yang halal. Hendaklah setiap orangtua memastikan bahwa makanan dan minuman yang masuk ke mulut anak adalah barang halal dan berasal dari sumber halal saja.2) Anak-anak terutama yang masih kecil belum bisa memilah mana yang baik dan buruk, yang halal dan haram. Orang tua-lah yang memilih dan memilahnya. Perlu selalu diingat bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi akan menjadi daging dan tulang. Jika berasal dari barang yang haram maka di akhirat daging dan tulang tersebut akan dibakar api neraka. Nabi saw bersabda:

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مَنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Semua daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih pantas untuknya” (HR. Ahmad)

Oleh sebab itu, sejak awal setiap orang tua harus memastikan bahwa harta, barang dan uang yang masuk ke rumah hanya yang halal dan baik-baik saja.

Ketiga, mendidiknya dengan baik. Ajarkan mereka hal-hal yang baik sejak awal, perkenalkan kepada Allah swt, Rasul-Nya, Al Quran dan ajarkan kepadanya akidah yang benar, ibadah dan akhlak mulia. Masukkan anak ke sekolah dan lembaga pendidikan yang baik, setinggi-tingginya sejauh-jauhnya yang kita mampu. Pendidikan yang mengembangkan secara optimal segala aspek sebagai manusia; akal, fisik, perasaan, emosi jasmani dan rohani secara optimal dan seimbang. Orang tua harus mengantar anaknya mampu menghadapi tantangan zamannya. Harus disadari bahwa tantangan hidup generasi kita berbeda dengan tantangan zaman orang. Dalam salah satu pepatah Arab disebutkan:

ربوا أبناءكم واعلموا أنهم خلقوا لزمان غير زمانكم

“Didiklah anak-anak kalian dan ketahuilah bahwasanya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zaman kalian.”3)

Menyiapkan anak-anak menjadi generasi yang berkwalitas adalah kewajiban setiap orang tua. Dan dunia pendidikan berupa sekolah dan perguruan tinggi adalah jalan terbaik dan paling umum untuk mewujudkan hal tersebut. Orang tua harus pandai memilih sekolah yang baik untuk anaknya, cocok untuk kondisi anak dan bakat-bakat yang dimilikinya.

Keempat menikahkan jika tiba waktunya.

Bila anak telah memasuki usia siap nikah, maka nikahkanlah. Jangan biarkan mereka terus tersesat dalam belantara kemaksiatan. Do’akan dan dorong mereka untuk hidup berkeluarga, tak perlu menunggu memasuki usia senja.

Bila muncul rasa khawatir tidak mendapat rezeki dan menanggung beban berat kelurga, Allah berjanji akan menutupinya seiring dengan usaha dan kerja keras yang dilakukannya, sebagaimana firman-Nya, 

وَأَنكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya.” (QS. An-Nur:32)5)

Apalagi jika seorang anak perempuan telah dilamar oleh orang baik-baik maka disegerakan pernikahannya agar tidak terjadi fitnah. Nabi bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

Apabila datang laki-laki (untuk meminang) yang kamu ridhoi agamanya dan akhlaknya maka kawinkanlah dia, dan bila tidak kamu lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Terkait kewajiban orangtua terhadap anak, berkata Abu Bakar Al Jazairy dalam kitabnya Minhajul Muslim:

Seorang bapak memiliki kewajiban yang harus ditunaikan kepada anaknya, seperti memilihkan ibu yang baik baginya, menamakannya dengan nama yang baik, mengaqiqahkannya, memberikannya pendidikan yang baik, memberikannya nafkah, mendidik dengan baik, memperhatikan pengajaran dan pembekalan ilmu, mendorong untuk belajar ilmu-ilmu islam dan melatihnya untuk menunaikan ibadah wajib sunnah serta adabnya. 

Kemudian menikahkannya apabila ia telah dewasa dan memberinya pilihan untuk tetap tinggal di bawah pemeliharaannya atau hidup mandiri, serta membangun citranya dengan tangannya sendiri. Allah swt berfirman:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. “ (Al Baqarah: 233)

Rasulullah Saw juga bersabda:

أكرموا أولادكم وأحسنوا آدابهم ، فإن أولادكم هدية الله إليكم 

“Mulaikan anak-anak kalian dan baikkanlah pendidikan mereka, karena mereka adalah hadiah bagi kalian.” (HR. Ibn Majah)

Nabi saw juga bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Suruhlah anak-anakmu melakukan shalat di waktu dia berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka kalau sudah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka (maksudnya antara anak laki-laki dan perempuan)”. (HR. Al Baihaqi)

Telah disebutkan dalam sebuah atsar (riwayat): di antara hak anak yang harus dipenuhi ayahnya adalah mendidiknya dengan adab yang baik dan memilihkan untuknya nama yang baik.6)

Umar bin Khattab ra mengatakan, “Di antara hak seorang anak terhadap bapaknya adalah mengajarkannya menulis dan memanah, serta tidak memberinya rezki selain dari yang halal dan baik.”

Beberapa kewajiban asasi orangtua yang telah disebutkan dapat menjadi pedoman dalam melaksanakan kewajiban orang terhadap anak. Ketika orangtua melaksankan kewajiban-kewajiban tersebut dengan penuh tanggungjawab maka akan memudahkan anak untuk tumbuh optimal lahir batin, akal, rasa, fisik dan spiritual secara layak dan seimbang. Melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut berarti mengantar anak-anak menjadi anak yang saleh salehah, sehat rohani dan jasmani, cerdas intelektual, spiritual dan kuat secara fisik, generasi berkwalitas dan unggul serta punya daya saing.(*)