Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Enrekang Mulai Menurun

  • Whatsapp
Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Enrekang Mulai Menurun

 ENREKANG, UPEKS.co.id – Ini kabar menggembirakan. Angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Enrekang mulai menurun.

Hal itu berdasarkan data yang dihimpun Upeks dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Enrekang, Minggu (19/4/2021).

Bacaan Lainnya

Kepala DP3A Enrekang, Burhanuddin mengatakan tahun 2019 jumlah kasus kekerasan perempuan dan anak yang dicatat DP3A mencapai 22 kasus.

Sedangkan jumlah kasus di tahun 2020 jauh menurun dimana hanya tercatat 10 kasus kekerasan perempuan dan anak.

“Angkanya sudah mulai menurun. Tahun 2019 ada 22 kasus dan tahun 2020 sisa 10 kasus. Dari semua kasus kekerasan itu hampir semuanya adalah kasus pelecehan seksual,” kata Burhanuddin, Jumat (16/4/2021).

Menurutnya, dengan menurunnya angka kasus itu menandakan sudah mulai efektifnya program pencegahan yang dilakukan selama ini.

Meski begitu, Burhanuddin memprediksi tahun 2021 ini jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak akan kembali meningkat.

Sebab, masyarakat saat ini sudah berani melapor jika ada kejadian-kejadian kekerasan dan pelecehan seksual terjadi.

“Tapi ini sudah langkah positif bahwa masyarakat sudah punya keberanian dalam melaporkan sehingga hukum juga berjalan,” ujar Burhanuddin.

Untuk itu, Ia akan ke desa-desa membentuk Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).

Lembaga itu nantinya bisa berfungsi menyelesaikan permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Sehingga jika ada kasus, mereka bisa yang menangani terlebih dahulu dengan mediasi sebelum ditangani instansi terkait.

“Saat ini sudah ada 50 desa yang bentuk PATBM makanya kita harapkan semua ke depan bentuk lembaga masyarakat itu,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga masih gencar sosialisasi tentang perlindungan anak dan perempuan di masyarakat.

Dengan memberikan masyarakat pemahaman terkait bagaimana itu kekerasan dan hukumannya.

Termasuk mengingatkan orang tua agar menjaga terus anaknya dalam pergaulan, penggunaan gadget, serta memberikan pemahaman tentang sosialisasi parenting pola asuh anak.

Termasuk dengan memberikan sosialisasi ke anak-anak agar memberikan pemahaman bahwa bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain.

Sebab, hampir rata-rata kasus pelecehan seksual 90 persen dilakukan orang-orang terdekat.

“Makanya semua keluarga harus diberi pemahaman karena faktor penyebab kekerasan terhadap anak adalah orang tua kurang perhatian pada anak, mereka juga belum memahami kondisi anak,” jelasnya.

“Termasuk yang paling utama adalah memberikan pendekatan agama karena akan berpengaruh terhadap mental pelaku,” tambahnya. (Sry)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *