”Jebakan” Lailatul Kadar, Topik Hangat Pesantren Ramadan Virtual UMI

  • Whatsapp
''Jebakan'' Lailatul Kadar, Topik Hangat Pesantren Ramadan Virtual UMI

MAKASSAR.UPEKS.co.id—Jebakan lailatul qadar jadi topik hangat acara Pesantren Ramadhan Virtual UMI yang berlangsung di hari ke-13 Ramadan. Narasumber Asisten Direktur III Pesantren Darul Mukhlishin Padang Lampe H.Abbas Ali Mayo, Lc.

Hadir Dr. Surani, M.A (WD4 Fak.Sastra), Drs.Abd. Hamid Sulaiman, M.Hum (Kabid.Masjid), KTU (Ir.Rusli Roy), sejumlah dosen dan mahasiswa UMI. Host Dr.M.Ishaq Shamad dan Dr.Nurjannah Abna.

Bacaan Lainnya

H.Abbas Ali Mayo menjelaskan, jika ingin menangkap burung, salah satu yang perlu disiapkan, jebakan yang jitu.

Demikian pula jika ingin mendapatkan fadhilah Lailatul Qadar, siapkanlah jebakan yang terbaik. Salah satu jebakan lailatul qadar, adalah setiap malam di malam-malam bulan Ramadhan (hari pertama sampai hari terakhir) selalu memaksimalkan ibadah kepada Allah Swt.

Tidak usah mempersoalkan malam keberapa datangnya dan apa saja ciri-cirinya, tetapi lakukanlah ibadah setiap malam dan amaliyah di siang hari dengan penuh keimanan dan keikhlasan, hanya mengharap ridha Allah Swt, maka pasti kita bisa menangkap lailatul qadar, jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Surani mengemukakan sejumlah umat yang salah kaprah, tentang besarnya jumlah pahala yang disiapkan pada malam lailatul qadar. Misalnya 1 amalan lebih baik baik dari 1.000 bulan, sehingga jika dihitung 83 tahun 4 bulan.

Dengan demikian, ketika ia sudah beribadah di malam lailatul qadar itu, ia tidak mau lagi berubah sesudah Ramadhan, karena ia menganggap sudah banyak sekali pahala yang diperolehnya.

Demikian pula, orang yang naik haji, 1 kali shalat di Mekah ia memperoleh pahala sama dengan 10 ribu kali shalat di tanah air, bagaimana hal itu?, tanyanya.

Host Dr.M.Ishaq Shamad menjelaskan ibadah yang dilakukan umat, sebaiknya tidak perlu menghitung-hitung jumlahnya dari sisi matematika. Sama halnya, ketika host naik Haji, ada jamaah yang mengejar target 50 kali umrah selama ia berada di Mekah, jadi dalam satu hari 3-4 kali melakukan umrah, sampai ia kecapaian.

Padahal pada jaman Nabi Muhammad Saw, ada shahabat yang ibadahnya siang malam, sampai kebutuhan istri dan keluarganya tidak dipenuhi, karena sibuk dengan ibadah shalat, puasa, dll.

Kemudian ia minta pandangan Nabi bahwa ia sudah berada di tingkatan berapa di dalam Syurga? Nabi Muhammad Saw menjawab, sebenarnya ia tidak masuk syurga karena ibadahnya yang siang malam itu, karena ada tanggung jawab terhadap keluarganya diabaikan.

Nabi Saw menyebut saudaranya yang menanggung keluarganya, justru dia yang masuk syurga, karena tanggung jawabnya lebih besar.

Selanjutnya, sahabat tersebut, kemudian merubah cara ibadahnya sambil memperhatikan tanggung jawab terhadap keluarganya. Ini menujukkan, ibadah yang dilakukan, apakah itu di malam lailatul qadar atau bukan, semuanya dilaksanakan demi keimanan dan hanya mengharap ridha Allah Swt (iymaanan wahtishaaban), maka
perangkapnya pasti kena, kuncinya. (rls).