Gerakan Sejuta Koin, Gerakan Membangun Pesantren 

  • Whatsapp
Gerakan Sejuta Koin, Gerakan Membangun Pesantren 

Makassar, Upeks.co.id–Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel melakukan gerakan membangun madrasah dan pondok pesantren lewat program Wakaf Pendidikan Gerakan Sejuta Koin Madrasah dan Pondok Pesantren.

Gerakan tersebut tersebut sudah disampaikan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil Kemenag) KH Khaeroni, kepada Pemerintah Provinsi Sulsel saat audiens, akhir Februari 2021 lalu.

Bacaan Lainnya

Selanjutnya, tahap awal dari program pengumpulan koin itu melalui kotak amal yang ditempat di Kantor Kemenag kabupaten/kota akan dibuka saat peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Mahyajatul Qurra Lassang Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sabtu 13 Maret 2021.

Pondok Pesantren Mahyajatul Qurra adalah salah satu pesantren yang dijadikan Kakanwil KH. Khaeroni sebagai pilot project Gerakan Sejuta Koin.

Gerakan Sejuta Koin, Gerakan Membangun Pesantren 
Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kemenag Sulsel H Masykur.

Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kemenag Sulsel H. Masykur, mengatakan, Gerakan Sejuta Koin adalah untuk membangun sejumlah madrasah berbagai model. Seperti Madrasah Edukasi Alam di Kabupaten Soppeng. Madrasah Luar Biasa (MLB) di Kota Makassar. “Ada juga Asrama Anak Pulau, di Kabupaten Selayar. Ada Madrasah program kebahasaan,” ungkapnya, belum lama ini,” ungkapnya.

Program ini disebutnya menyasar 24 madrasah berkembang di Sulsel. Untuk membangun ini semua, kata H Masykur, akan diharapkan bisa melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan di Sulsel dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Tak hanya itu, program ini juga mendapat dukungan dan respon positif dari sejumlah Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam diantaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI), PWNU Sulsel, PW. Muhammadiyah Sulsel, DDI Sulsel dan Pengurus Pusat As’adiyah bahkan telah mendapat Rekomendasi dari Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prov. Sulsel.

Tahap dari pengumpulan koin dari kabupaten/kota hasilnya 70% disumbangkan ke pesantren yang dibangun 30% diserahkan ke kabupaten. Nanti setelah selesai pesantrennya di balik 30% ke pesantren 70% ke daerahnya, ” terangnya. (rls)