Transaksi Keuangan Digital Jadi Primadona di Tengah Pandemi

  • Whatsapp
Transaksi Keuangan Digital Jadi Primadona di Tengah Pandemi

MAKASSAR, UPEKS.co.id– Pandemi Covid-19 membuat transaksi keuangan digital menjadi primadona masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itu tidak lain karena transaksi tunai dinilai berpotensi menjadi sumber penularan Covid-19.

Menurut Kepala OJK Regional VI Sulampua Moh Nurdin Subandi, pergeseran budaya masyarakat yang mulai beralih memilih transaksi keuangan digital saat pandemi, turut berpengaruh pada meningkatnya inklusi keuangan.

Bacaan Lainnya

OJK mencatat, target inklusi keuangan di 2019 sebesar 75% berhasil terlampaui.  Melihat kondisi itu, Presiden Joko Widodo meningkatkan target inklusi Indonesia menjadi di atas 95% pada 2024 mendatang.

“Tidak dapat dipungkiri, pandemi covid turut serta mendorong akselerasi digitalisasi sektor keuangan,” kata Subandi dalam webinar bertajuk Millenials Cashless Habits.

Sebagai tindak lanjut, OJK menetapkan tema prioritas dalam program literasi dan inklusi tahun ini yaitu mewujudkan masyarakat yang lebih cerdas dan inklusif dalam era keuangan digital.

Sementara Deputi Direktur Kemitraan Pemerintah Daerah OJK Sulampua, Ahma Murad mengaku, pandemi membawa dampak besar pada ekonomi digital. Pembayaran digital tumbuh selama pandemi covid-19 sebesar 65% berdasarkan BI juli 2020. Penjualan e-commerce naik 26% dari kuartal II 2019 mencapai Rp34,56 triliun. Penjualan e-retailing dan e-groceries meningkat 69%, serta e-health naik 41%.

Kendati demikian, pihaknya mengingatkan para milenial agar waspada dalam bertrasaksi di fintech, khususnya pengajuan pinjaman. Sebab dari data yang ada, fintech lending resmi baru mencapai 148 unit.  Sedangkan yang ilegal atau telah dibekukan oleh Satgas Waspada Investasi (SWI) mencapai 2.591 fintech.

Managing Partner Inventure sekaligus Pengamat Bisnis dan Pemasaran, Yuswohady mengatakan, di masa pandemi, transaksi keuangan digital mengambil peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan, uang tunai hingga pembayaran berbasis kartu cip perlahan akan mulai ditinggalkan.

Yuswohady pun memprediksi, millenial bak pembunuh berdarah dingin di era sekarang. Mereka mendominasi segala sektor mulai industri, produk, dan bisnis. Mau tak mau, semuanya harus beradaptasi dengan gaya hidup kaum milenial. Salah satunya cara pembayaran cashless atau dengan scan QR Code.

“Milenial enggan menggunakan kartu. Kenapa? semuanya ada di smartphone. Menurut mereka, pakai kartu itu cirinya generasi kolonial,” pungkas Yuswohady.

Regional Head OVO Kalimantan Sulawesi Imelda Christiana mengakui, cashless menjadi solusi yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini. Mengingat ada banyak pemasalahan dalam transaksi konvensional.

Karena itu, pihaknya menawarkan beragam kemudahan untuk pengguna OVO.  Terlebih, hampir seluruh lini dari makanan hingga kesehatan menggunakan QR Code sebagai alat pembayaran. (eky)

Pos terkait