Covid-19 Berdampak Pada Pendidikan dan Tenaga Honorer

  • Whatsapp
Covid-19 Berdampak Pada Pendidikan dan Tenaga Honorer

Covid-19 Berdampak Pada Pendidikan dan Tenaga Honorer

MAKASSAR, UPEKS.co.id— Covid-19 sampai saat ini masih mewabah di Indonesia. Sudah bukan cerita baru lagi  jika Covid-19 memberi dampak yang besar bagi hampir di setiap sektor. Termasuk pendidikan. Sekolah-sekolah  akhirnya ditutup. Pembelajaran dilakukan secara daring.

Bacaan Lainnya

Proses pembelajaran daring di era Covid-19 juga bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Jufri selaku tenaga  honorer di suatu sekolah mengatakan, pembelajaran daring adalah model pendidikan yang tak pernah ia sangka  akan digelar menggantikan pembelajaran tatap muka.

“Mungkin awalnya sekolah daring bisa cepat berlalu dan berjalan beberapa bulan saja. Tapi ternyata tidak. Orang  tua murid mengeluh. Coba nayangkan tiga anaknya dia urus setiap hari untuk belajar online,” ujarnya saat  diundang jadi pembicara dalam diskusi Lawan Covid-19 Bersama Harian Ujungpandang Ekspres, di Gedung  Graha Pena, lantai 3, Jumat (20/11/2020).

Pembelajaran daring akhirnya berlangsung tidak maksimal, karena banyak siswa yang tidak memiliki sarana  teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

“Handphone-nya hanya satu unit tapi anaknya tiga yang mau pakai
handphone tersebut. Orang tua mengeluh katanya sudah capek mengajar anaknya,” ujar pemuda yang juga aktif  di Ikatan Putra Putri Indonesia itu.

Beban tersebut tak hanya dirasakan oleh siswa dan orang tuanya, namun juga tenaga honorer. Jufri  menceritakan, tenaga honorer kesulitan menggelar pembelajaran daring secara terus menerus yang juga  membutuhkan biaya kuota internet. Namun, gaji tak memadai untuk menyediakan sarana pembelajaran daring.

“Guru honorer betul-betul merasakan dampaknya. Karena bertambahnya kebutuhan kuota. Bayangkan setiap hari  ada 3 kelas. Dan zoom banyak menarik kuota. Ini beban berat honorer yang hanya digaji per 3 bulan,” ujarnya.

Sosok yang juga aktif dalam produser house pembuatan film itu juga mengeluhkan jika bantuan kuota yang  diberikan oleh Pemerintah Pusat tidak cukup. Karena kuota tersebut hanya bisa digunakan untuk mengakses Zoom dan sejenisnya. Sementara pembelajaran daring memiliki banyak perangkat yang harus dipakai.

“Tapi kalau  ada tugas dari guru tidak bisa digunakan maka orang tua keluarkan lagi dana,” ujarnya.

Jufri berharap pemerintah segera memerhatikan masalah ini, terlebih masa dengan guru honorer.

“Ada guru  honorer dua tahun mengabdi belum terangkat, ada yang belum dua tahun sudah terangkat. Kalau pemerintah lihat  pengabdiannya. Kalau honorer sudah berapa tahun mengabdi langsung diangkat. Akhirnya terakomodir yang  mengabdi,” tandasnya. (jir)

Pos terkait