Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Lingkungan Maspul Tagih Janji DPRD

  • Whatsapp
Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Lingkungan Maspul Tagih Janji DPRD

Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Lingkungan Maspul Tagih Janji DPRD

ENREKANG,UPEKS.co.id — Aliansi Mahasiswa Dan Pemuda Peduli Lingkungan Massenrempulu aksi bentang  spanduk bertuliskan “Menagih janji DPRD Kabupaten Enrekang.

Bacaan Lainnya

Hal ini dilakukan karena beberapa hari lalu mereka dijanjikan DPRD akan mengadakan Rapat Dengar Pendapat  terkait Revitalisasi Anjungan Sungai Mata Allo yang yang hingga saat ini masih belum terlaksana.

Gerakan bentang spanduk ini dilakukan di sekitaran lampu merah Enrekang, Kecamatan Enrekang, Kabupaten  Enrekang, Rabu ( 18/11/2020).

Aksi tersebut berlangsung mulai dari jam 16.30 wita yang dilanjutkan dengan pemasangan spanduk dan  membagikan selembaran kepada masyarakat yang melintas di sekitaran lampu merah.

Risman kordinator Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Maspul menjelaskan, Aliansi sudah mendatangi DPRD  Kabupaten Enrekang.

”Hari Senin, 9 November 2020 dan saat itu juga tuntutan aliansi direspon baik oleh pihak DPRD Kabupaten  Enrekang untuk siap menfasilitasi diadakannya RDP dengan menghadirkan semua stakholder yang terlibat dalam  perencanaan pembangunan revitalisasi anjungan tersebut dengan masyarakat yang terkena dampak. Tapi belum  ada kepastian sampai sekarang”. Kata Risman.

Janji yang dilontarkan Pimpinan DPRD pada saat audensi, akan mengadakan RDP minggu ini. Menurut Risman  mengatakan sampai sekarang belum ada tanda- tanda sama sekali.

“Kami menduga revitalisasi anjungan sungai Mata Allo Tahun Anggaran 2020 Pemerintah Kabupaten Enrekang  melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga yang menggelontorkan anggaran sebesar 13,8 Miliar tidak  tepat”.jelasnya.

Ia menambahkan dampak yang berpotensi akan timbul dikemudian hari, karena mengingat proyek tersebut  dibangun di atas tanah endepan yang berpotensi mengakibatkan pendangkalan dan pergeseran aliran sungai,  Belum lagi proyek tersebut dibangun diatas bantaran sungai .

“Beberapa tahun yang lalu tanggul di lokasi proyek di belakang kantor Cabang BRI Enrekang dan tanggul samping  Rujab Bupati pernah rubuh (longsor). Kami duga akibat pergeseran aliran sungai sehingga tanggul terkikis akibat  terjadi pendangkalan sungai sepanjang Jembatan lama hingga jembatan baru disebabkan tanah endapan”  pungkasnya.

Risman menjelaskan, 2019 juga terjadi banjir bandang sebanyak dua kali diarea perumahan Kukku, Batili dan  Bamba.

” Jika kita melihat kejadian itu, maka kita bisa berkesimpulan bahwa proyek tersebut justru berpotensi  memperparah keadaan. Jika diamati proyek tersebut justru sempitkan aliran sungai, karna membangun di  bantaran sungai dengan tiang pancang 46 tiang,” kata Risman.

Dengan adanya kegiatan itu, lanjutnya, regulasi yang dilanggar Perda nomor 14 tahun 2011 tentang Rencana Tata  Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang tahun 2011 hingga tahun 2031, Perda Nomor 1 tahun 2019 tentang  Rencana Pembangun Jangka Menengah Daerah Kabupaten Enrekang tahun 2018-2023.

Selain itu, PP Nomor 37 tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS, PP Nomor 38 tahun 2011 Tentang Sungai,  Permen PUPR nomor 28 tahun 2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau  dan undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH).  (Sry).

Pos terkait