Peran Tindak Tutur Persuasif dalam Meminimalkan Tradisi Bullying di Dunia Pendidikan

  • Whatsapp
Peran Tindak Tutur Persuasif dalam Meminimalkan Tradisi Bullying di Dunia Pendidikan

Oleh: Abd. Rahman Rahim dan Andi Muh. Fadlan Abdillah

Masih segar dalam ingatan kita ketika beberapa hari yang lalu media ramai membicarakan tentang ulah seorang siswa SMA di Jakarta yang merekam gurunya pada saat berlangsungnya proses pembelajaran di kelas.

Bacaan Lainnya

Persoalannya bukan saja pada aksi mereka melalui telepon seluler melainkan hasil rekaman tersebut didubbing oleh anak yang bersangkutan dengan menggunakan kosakata yang tidak senonoh.

Berbagai pihak telah melontarkan pandangan-pandangannya mengenai aksi anak tersebut, baik yang bernada menghakimi maupun bernada toleransi, dengan berbagai alasan yang dikemukakan.

Sebenarnya peristiwa ini muncul bukan karena lemahnya pengawasan dari pihak guru melainkan aturan dari pihak sekolah yang membolehkan peserta didiknya masuk ke ruang belajar dengan membawa telepon seluler
Bullying bukan masalah baru dalam pendidikan Liputan media dan eksplorasi fenomena ini dalam literatur cukup banyak.

Bullying merupakan suatu kejadian yang seringkali tidak terhindarkan di sekolah. Bullying adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok. Suatu perilaku mengancam, menindas dan membuat perasaan orang lain tidak nyaman.

Seseorang yang bisa dikatakan menjadi korban apabila dia diperlakukan negatif (secara sengaja membuat luka atau ketidaknyamanan melalui kontak fisik, melalui perkataan atau dengan cara lain) dengan jangka waktu sekali atau berkali-kali bahkan sering atau menjadi sebuah pola oleh seseorang atau lebih.

Bullying seringkali terlihat sebagai bentuk-bentuk perilaku berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik maupun psikologis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih lemah oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih kuat.

Perbuatan pemaksaan atau menyakiti ini terjadi di dalam sebuah kelompok misalnya kelompok siswa satu sekolah.
Contoh perilaku bullying antara lain: kontak fisik langsung (meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya, memukul, menampar, mendorong, menggigit, menarik rambut, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain, pelecehan seksual).

Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip).

Tidak semua korban akan menjadi pendukung bullying, namun yang paling memprihatinkan adalah korban-korban yang kesulitan untuk keluar dari lingkaran kekerasan ini. Mereka merasa tertekan dan trauma sehingga mempersepsikan dirinya selalu sebagai pihak yang lemah, yang tidak berdaya, padahal mereka juga asset bangsa yang pasti memiliki kelebihan-kelebihan lain.

Anak tidak bisa belajar kalau dia dalam keadaan tertekan? Bagaimana bisa berhasil kalau ada yang mengancam dan memukulnya setiap hari? Sehingga amat wajar jika dikatakan bahwa bullying sangat mengganggu proses belajar mengajar.

Bullying ternyata tidak hanya memberi dampak negatif pada korban, melainkan juga pada para pelaku. Bullying, dari berbagai penelitian, ternyata berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademik, dan tindakan bunuh diri.

Bullying juga menurunkan skor tes kecerdasan dan kemampuan analisis para siswa. Para pelaku bullying berpotensi tumbuh sebagai pelaku kriminal, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak melakukan bullying.

Bagi si korban biasanya akan merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.

Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.

Dan yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, Mengapa semua ini terjadi? Dalam tinjauan sosologis, dapat ditelusuri lewat teorik interakraksi simbolik.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini mencoba mengurai fenomena bullying dalam tinjauan teori interaksi simbolik, menuju pendidikan yang berkeadilan. Tidak jarang anak merasa super kuat, kaya, berkuasa terhadap temannya. Hal ini membuat mereka dengan tanpa rasa bersalah melakukan bullying. Fakata-fakta ini cukup banyak di lapangan meskipun tidak terangkat ke permukaan.

Anak-anak yang merasa kaya, kuat, berkuasa dalam berinteraksi simbol-simbol itu selalu melekat pada dirinya. Sangat jarang alasan mereka melakukan bullying diluar simbol-simbol itu. Pertimbangan apapun, seperti dendam pasti tetap melekat simbol kaya, berkuasa, senior, bahkan pintar. Oleh karena itu, pencegahan dan penanggulangan perilaku bullying harus mengacu pada kesadaran intrasionis para individu.

Simbol-simbol senior, hebat, kaya, dan baginya harus ditanggalkan menjadi sebuah persaudaraan saling mengasihi. Menciptakan situasi damai lam interaksi akan menjauhkan diri dari bullying.
Semua orang bisa menjadi korban atau malah menjadi pelaku bullying.

Diperlukan Kebijakan menyeluruh yang melibatkan seluruh komponen sekolah mulai dari guru, siswa, kepala sekolah sampai orang tua murid, yang tujuannya adalah untuk dapat menyadarkan seluruh komponen sekolah tadi tentang bahaya terselubung dari perilaku bullying ini.

Oleh karena itu, cara-cara seperi kebijakan program anti bullying di sekolah antara dengan cara menggiatkan pengawasan, pemahaman konsekuensi serta komunikasi yang bisa dilakukan efektif antara lain dengan Kampanye Stop Bullying di Lingkungan sekolah dengan sepanduk, slogan, stiker dan workshop bertemakan stop bulying adalah kesemuanya ini dilakukan dengan tujuan paling tidak dapat meminimalisir atau bahkan meniadakan sama sekali perilaku bullying di sekolah.

Akan tetapi, sangat tidak cukup tidak jika tidak dibarengi penyadaran individu dengan interaksi yang mengedepankan kebersamaan yang menyaudara sehingga timbul kedamaian sebagai seorang saudara.

Kenyataan seperti uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya penanaman nilai-nilai karakter khususnya pada generasi muda. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan sebuah wadah sebagai bentuk penyampai pesan.

Secara bijak dapat dikatakan bahwa disadari ataupun tidak disadari, eksistensi bahasa sangat berperan penting dalam mencapai semua itu. Adanya bentuk hegemoni dalam bertutur dapat menyebabkan ketersinggungan dari pihak lain. Sebaliknya, dengan menggunakan tindak tutur yang persuasif, dapat meredam akses terjadinya fenomena bullying tersebut.

Sebagai pembina bahasa, semua pendidik seyogianya menjadi anutan bagi peserta didik khususnya dalam melakukan tindak ujar sehingga peserta didik dapat mencontohnya baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.

Akhirnya, izinkan saya mengutipkan sajak W.S. Rendra sebagai telaah kritis atas fenomena pendidikan kita.

Aku bertanya: Apakah gunanya pendidikan /bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya/ Apakah gunanya pendidikan/ bila hanya mendorong seseorang/ menjadi layang-layang di ibukota/ kikuk pulang ke daerahnya?/ Apakah gunanya seseorang /belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,/ atau apa saja/bila pada akhirnya, ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: “Di sini aku merasa asing dan sepi!” (*)