Apresiasi Dampak Positif Covid-19, MUI Makassar Himbau Orang Tua Dampingi Anak Gunakan Gadget

  • Whatsapp
Apresiasi Dampak Positif Covid-19, MUI Makassar Himbau Orang Tua Dampingi Anak Gunakan Gadget

Makassar, Upeks.co.id–Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar kembali menggelar dialog publik dengan menghadirkan guru sekolah dan orang tua siswa dari 14 kecamatan guna mengantisipasi pandemi Covid-19 yang makin berkepanjangan menimpa warga dunia dan sampai detik ini pun belum ada vaksin yang ditemukan sebagai anti virus corona, di Hotel Aston Jalan Hasanuddin, Sabtu (12/09/20).

Dialog publik bertajuk “Optimalisasi peran orang tua terhadap pendidikan anak di masa pandemi” dibuka resmi Ketua MUI Makassar Dr.KH Baharuddin HS, MA. menghadirkan tiga narasumber masing-masing Dr. Hj. Amra Kasim,MA. seorang ahli tafsir alumni Al Azhar Kairo yang sehari-harinya sebagai dosen di UIN Alauddin berdampingan Dr. Mustamin,S.Pd,M.Pd,MM. (praktisi digital dan penggiat pendidikan masyarakat) dan Tenri A. Palallo, S.Sos,M.Si. (Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Makassar),

Bacaan Lainnya

Ketua MUI Mkassar anregurutta Dr.KH. Baharuddin HS, MA. dalam sambutannya mengingatkan, hendaknya wabah virus ini tidak disepelehkan karena ibarat orang berperan kita sudah mulai kehabisan energi disebabkan waktunya sudah cukup lama dan bahkan tidak diketahui hingga hari ini kapan berakhirnya.

“Kita lagi berjihad di jalan Allah namun musuh kita tidak tampak di depan mata dan satu-satunya jalan yang dapat menyelematkan kita dari serangan adalah mengikuti protokol kesehatan, yaitu disiplin mengenakan masker, rajin mencuci tangan, dan jaga jarak,” pinta Kiai Baharuddin.

Hanya saja lanjut Rois Syuriah NU mengigatkan, bahwa sekalipun virus ini telah membatasi kita dalam pergaulan sehari-hari namun sebagai orang beragama wabah ini tidak membuat seseorang jadi cemas dan pasrah, tapi senantiasa berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meyakini bahwa setiap cobaan itu selalu ada hikmah di dalamnya. Diantaranya, dengan pandemi ini kita diminta lebih baik tinggal di rumah dari pada berada membuang waktu sia-sia di luar.

“Makanya kita menggelar dialog publik ini yang dikhususkan kepada kaum ibu, termasuk ibu guru, karena merekalah yang selama ini lebih banyak dekat dengan anak-anaknya sehingga program belajar dari rumah secara virtual mendorong orang tua lebih dekat lagi dengan anak-anaknya, bahkan diharapkan dapat mendampingi saat belajar dengan menggunakan hp android,” tandasnya.

Dr. Hj. Amra Kasim,MA. yang tampil pertama mengingatkan kepada kaum ibu bahwa sejak zaman Nabi peran ibu sangat jelas sebagai kunci kesuksesan seorang anak. Mengutik sebuah pepatah Arab yang menyatakan bahwa ibu itu adalah madrasah (sekolah) yang menunjukkan betapa besar peran dan posisi seorang ibu di dalam mendidik anak-anaknya.

Dalam prosesi haji ada peristiwa sai yaitu saat itu Hajar ditinggal seorang diri oleh Ibrahim, dia berlari-lari kecil bolak balik sebanyak 7 kali antara bukit Safa dan Marwah guna menyelamatkan anaknya yang kehausan di tengah pada pasir yang gersang dan kering hingga suatu saat Ismail terbangun dan menyentak-nyentak tumitnya ke tanah sehingga datang pertolongan Allah SWT mengalirlah air dari bawah tanah yang tak pernah habis dan kering yang sampai saat ini dikenal dengan air zam-zam.

“Disini banyak hikmah yang dapat diambil, misalnya saja bagaimana seorang ibu bekerja keras mendidik anaknya sehingga mampu tumitnya meneteskan air. Sai itu sendiri bermakna usaha. Hajar dengan penuh keikhlasan dan upaya keras ingin menyelamatkan anaknya sehingga diberi berkah. Pertanyaannya sekarang adalah sudahkah kita mendidik anak-anak kita sehingga mampu keluar air di tumitnya,” ungkap Hj. Amra Kasim memaknai peristiwa Sai bagi seorang ibu dan anaknya.

Menurut Hj. Amra Kasim, seorang ibu di tengah pandemi Covid-19 ini memang harus memiliki kemampuan mendidik dan menguasai teknologi. Zaman sekarang tidak boleh ada seorang ibu yang masih gugup dengan teknologi dan harus mau bekerja keras di dalam mendidik anak-anaknya.

“Jika seorang ibu tidak mau bekerja keras mendidik anak-anaknya sebaiknya jangan menjadi ibu. Dari kata Sai tersebut saja memang bermakna kerja keras. Sebab jika tidak maka yakin saja tidak mungkin kita melahirkan generasi yang sukses menjalani kehidupannya di dunia dan di akhirat,” tandas istri almarhum Dr.KH.Mustamin Arsyad,MA. yang juga pernah memimpin Pesantren Puteri IMMIM Pangkep.

Kehkawatiran terhadap anak-anak di zaman milenium ini juga diungkapkan Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Makassar Tenri A. Palallo S.Sos,M.Si. Menurut mantan wartawan Harian Fajar ini dalam beberapa tahun terakhir perlindungan anak sangat penting jadi perhatian dan tanggung jawab kita bersama. Kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur semakin meningkat dari tahun ke tahun. Termasuk yang banyak ditangani pihaknya adalah perkawinan di bawah umur yang sangat membahayakan anak bersangkutan, baik dari segi kesehatan maupun dari perkembangan jiwa anak.

Ironisnya lanjut Tenri A. Palallo, pelecehan dan perlakuan yang tidak wajar itu justru menjadi model trend di tengah masyarakat, yaitu banyaknya orang tua yang sudah berusia lanjut menikahi anak-anak yang masih belasan tahun.

“Prilaku ini sebetulnya tidak benar dan sangat menyimpang karena secara fisik saja sudah tidak seimbang, apalagi dari aspek psikologi yang mempengaruhi kemampuan pembinaan rumah tangga. Heran juga saya, kenapa banyak kakek-kakek dan nenek-nenek menikahi anak yang umurnya sangat berbeda jauh,” ungkap Tenri A. Palallo.

Terkait dengan era pandemi lanjut Tenri A. Palallo, orang tua memang harus menjadi guru bagi anak-anaknya. Anak-anak bersekolah di rumah sehingga jika selama ini tugas-tugas sekolah banyak diselesaikan di bawah bimbingan guru di sekolah maka sekarang peran itu diganti oleh ibu di rumah. Disinilah pentingnya menguatkan komunikasi dengan anak secara terbuka, menjadi pendengar yang baik, melatih anak keterampilan dasar mengurus diri dan pekerjaan rumah senari-hari, dan mendampingi anak dalam pelaksanaan pekerjaan rumah dan beribadah.

Praktisi digital dan penggiat pendidikan masyarakat Dr. Mustamin,S.Pd., M.Pd., MM. Menguraikan topik “Revolusi digital” mengatakan, manfaat teknologi digital di era pandemi Covid-19 sebetulnya cukup banyak, setidaknya proses belajar bisa dilakukan dimana saja termasuk di rumah. Selain itu informasi informasi ilmu pengetahuan, literasi dan perpustakaan dapat diakses lewat gadget. Pertukaran pengalaman dan pengetahuan dapat berlangsung lintas batas sampai ke seluruh belahan dunia, sehingga media menjadi sarana bersosialisasi dengan teman dan memperluas jaringan pertemanan.

Namun lanjut Mustamin, peran orang tua tetap sangat dibutuhkan di dalam mendampingi anak-anaknya dalam memanfaatkan media digital. Orang tua perlu menjalin komunikasi dengan baik kepada anak-anaknya terutama di dalam memahami jiwa perkembangan anak yang sangat rawan di dunia siber disebabkan anak remaja memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru, dan sangat mudah menerima hal-hal baru yang aktual namun di sisi lain masih kurang pengalaman.(rls)

Pos terkait