EDUKASI BUDAYA

Tantangan dan Peluang Institusi Pendidikan Tinggi di Tengah Pandemi

MAKASSAR,UPEKS.co.id–Pandemi Covid-19 pengaruhi berbagai aspek kehidupan. Dunia pendidikan tinggi pun  tidak luput dari dampaknya.

Webinar Business Leadership Series #4 bertajuk Challenges in Education Sector, Sabtu (8/8/2020) dilaksanakan  untuk mendukung pembahasan aspek bidang tersebut.

Kegiatan yang diinisiasi Kafegama MM FEB UGM, MM FEB UGM, dan MMSA UGM ini menghadirkan tiga  pemateri, yakni Dekan FEB Universitas Paramadina Iin Mayasari, Kaprodi Manajemen Ubaya, Deddy Marciano,

Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, Suyatno, serta moderator Dosen FEB Universitas Hasanuddin Andi Nur  Bau Massepe.

“Bidang pendidikan dari segi kebijakan belum menjadi perhatian pemerintah di tengah pandemi Covid-19,” ujar Iin  Mayasari.

Ia menilai, hal ini terlihat dari belum ada konsep matang soal pembelajaran jarak jauh akses belajar, dan akses  yang membantu pendidik atau murid.

Menurutnya, pelaku usaha perlu memahami dinamika konsumen, dalam hal ini, mahasiswa, di tengah pandemi.  Pandemi Covid-19 bisa dianggap stimulus dalam membuat sebuah keputusan.

“Stimulus pengaruhi persepsi pengaruhi perilaku konsumen akan mengarah ke perubahan nilai dan sikap,”  ucapnya.

Ia menyebutkan ada tiga perubahan nilai dan sikap, yakni stay at home, fokus pada rasionalitas dan utility, serta  fokus pada nilai altruisme. Oleh karena itu, institusi pendidikan harus bisa mengambil peluang dari situasi ini.

Terkait strategi pemasaran, institusi pendidikan dapat memahami perubahan nilai, menyeimbangkan kurikulum  membuat orientasi sosial, menciptakan konten pembelajaran yang menarik dan kreatif.

Tidak hanya itu, para instruktur juga dibekali cara memberikan materi yang baik, institusi pendidikan bisa  bekolaborasi dengan pelaku usaha praktis, institusi pendidikan tinggi bisa memberi keringanan sistem biaya dan  membangun desain framing yang positif.

“Melakukan soft selling dengan webinar dan menjalin hubungan dengan alumni seperti yang dilakukan saat ini  juga menjadi salah satu cara,” tutur Iin.

Sementara, Deddy Marciano mengungkapkan institusi pendidikan tinggi menghadapi beragam tantangan di tengah  pandemi Covid-19. Kemunculan online short course pada 10 tahun lalu tidak diremehkan oleh perguruan tinggi  karena dianggap bukan pesaing.

Hosting Unlimited Indonesia

Namun, kini hal itu justru sebaiknya. Pandemi Covid-19 membuat kompetensi dan skill semakin dibutuhkan untuk  bertahan di dunia kerja, sehingga ijazah tidak menjadi prioritas utama.

“Online short course menawarkan ilmu yang bisa dipilih berdasarkan minat dengan waktu pembelajaran yang lebih
fleksibel ketimbang kuliah tatap muka langsung,” ujarnya.

Pembelajaran online yang menjadi keniscayaan di tengah pandemi Covid-19, membuat institusi pendidikan tinggi di  Indonesia bersaing ketat. Tidak hanya dengan institusi di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri.

Menurut Deddy, ada regulasi yang mengizinkan kampus asing beroperasi.

Persoalan kebijakan pengaturan anggaran sejak sebelum pandemi Covid-19 menjadi bom waktu bagi institusi  pendidikan tinggi saat ini.

Peraturan perpajakan untuk lembaga pendidikan tinggi yang memiliki kelebihan  anggaran mengharuskan dalam kurun waktu empat tahun menginvestasikan kembali dalam bentuk fasilitas
infrastruktur.

“Jadi, tidak bisa dikumpulkan menjadi endowment fund untuk membiayai operasional, padahal endowment fund  bisa menjamin keberlangsungan hidup perguruan tinggi di saat seperti ini,” ucapnya.

Berdasarkan laporan LLDikti, pandemi mengakibatkan ribuan dari 4.300-an perguruan tinggi di Indonesia yang tidak bisa membayar gaji dosen.

Secara teknis, ia juga menilai infrastruktur di Indonesia belum memadai untuk penerapan pembelajaran online, misal dari infrastruktur dan server.

Pembicara terakhir Suyanto mendapatkan cara institusi pendidikannya Universitas Amikom Yogyakarta bertransformasi menjadi universitas generasi keempat. Artinya, perguruan tinggi tidak hanya berhenti di riset,  melainkan pendidikan dan inovasi terbuka.

“Kami memiliki Taman Ekonomi Kreatif yang harapannya 75 persen pendapatan diperoleh dari sini,” tuturnya. Pembelajaran pun menerapkan bisnis digital. Nilai baik akan diberikan kepada mahasiswa yang berhasil  mengembangkan bisnis dan memperoleh pendapatan dari bidang itu. Menciptakan riset yang bernilai jual harus  mengusung nilai budaya.

“Ini yang disebut ekonomi kreatif, tidak hanya produk yang dihasilkan tetapi juga ada nilai yang ditawarkan,” kata  Suyanto.

Ia menambahkan konsep kampus merdeka tidak melulu pendidikan dengan kewirausahaan, melainkan juga artist  atau seniman. Jadi, tugas akhir yang dihasilkan tidak harus dalam bentuk skripsi, tetapi bisa diganti konten kreatif, produk, perencanaan bisnis, dan sebagainya. (rls)

#TRENDING

To Top