EDUKASI BUDAYA

FUPPI – Ponpes IMMIM Silaturahmi Pengelola Pesantren, Bahas Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka

 

SILATURRAHIM FUPPI. Kadis Diknas Makassar, HA Amaliah Malik, Kakan Kemenag Makassar dan Direktur Pesantren IMMIM Putra, Dr H Muhlis Muhtar saat silaturahmi Forum Ukhuwah Pengelolah Pesantren Indonesia
(FUPPI) di Aula Ponpes IMMIM Putra, Tamalanrea, Sabtu (8/8). IST.

MAKASSAR.UPEKS.co.id—Menyikapi berbagai dampak sosial yang mulai muncul serta besarnya harapan orang  tua santri agar anaknya segera dapat kembali masuk mondok pesantren dan belajar tatap muka mendapat atensi  pengurus dan anggota Forum Ukhuwah Pengelola Pesantren Indonesia (FUPPI).

Terkait itu, FUPPI kerjasama Pesantren IMMIM laksanakan webinar yang dipusatkan di aula Pesantren IMMIM  Putra, Tamalanrea, Sabtu 8 Agustus 2020.

Hadir Direktur Pesantren IMMIM Putra, DR H Muchlis Muhtar,MA . Kegiatan bertema “Pendidikan dan  Pembinaan Santri/santriwati pada masa pandemi covid-19”. Pemateri, Kadis Pendidikan Makassar, H A  Amaliah Malik, Kakan Kemenag Makassar, Arsyad Ambo Tuwo.

Pihak tim gugus Covid-19 juga diundang, namun hingga acara berakhir, belum sempat bergabung.

Turut serta dalam webinar itu, Ketua FUPPI yang juga Ketua YASDIC IMMIM, Ir HM Ridwan Abdullah,M.Sc, Ketua  YASDIC Divisi Kepesantrenan IMMIM, Ir Hj Nurfadjri FL. MPd, para pembina pesantren se-Makassar dan orang  tua santriI MMIM. Hadir pula, Sekretaris Pesantren IMMIM Putri Minasatene, Pangkep, H Abdul Rasyid Usman.

Pertemuan yang berlangsung dua jam lebih itu terbilang alot. Berbagai pemikiran/agasan mencuat. Namun pada  intinya, semua pengelola pesantren yang hadir berkeinginan kuat para santrinya kembali mondok dan siap  mematuhi protokol kesehatan dengan ketat.

Saat pertemuan, Pembina Pesantren Hidayatullah, Suwito Fatah menegaskan, sejumlah pesantren yang dikelola  Hidayatullah di Jawa Timur, santrinya telah kembali mondok dengan standar protokol kesehatan yang ketat.

Padahal secara nasional, Jatim itu bukan zona merah, tapi justru zona hitam akibat tingginya kasus covid-19.

”Alhamdulillah, berkat komunikasi yang harmonis antara pengelola pesantren dengan pemerintah setempat  terutama dengan tim ugus covid-19 Jatim, akhirnya sejumlah pesantren ditinjau dan yang layak, santrinya boleh  kembali mondok,” tandas Suwito Fatah.

Hal senada dikemukakan Sekretris Pesantren IMMIM Putri Minasatene, Pangkep, H Abdul Rasyid Usman.

Menurutnya, berkat intensnya komunikasi, akhirnya Ahad, 9 dan 11 Agustus 2020, santriwati IMMIM sudah  diperkenankan kembali mondok.

“Sebelumnya pihak Pesantren IMMIM PUTRI menyurat ke tim gugus covid-19 Pangkep atas keinginan kembali  memondokkan santri. Rupanya mendapat respon dan sekitar 40 anggota tim gugus covid-19 meninjau area  kampus pesantren,” ujarnya.

Keputusannya, kata Abdul Rasyid, Pesantren IMMIM Putri, diperkenankan kembali mondokkan santrinya.

Hal yang  menggembirakan IMMIM putri akan dijadikan sekolah percontohan di Pangkep,” kata Abd Rasyid Usman.

Harapan lain dikemukakan Pembina Pesantren Darul Aman, Badri Abdul Djalil. Dia menegaskan, terus terang,  santri sudah lama merindukan pesantrennya. Mereka ingin ketemu para pembinanya, ingin shalat serta doa  bersama. Untuk itu, kami siap terapkan protokol kesehatan yang ketat.

”Tolong jangan jadikan santi bumerang, tapi jadikan santri sebagai solusi melalui doa-doanya. Untuk tahap awal,  izinkanlah santri kami terutama para penghafal quran (tahfidz) diperkenankan kembali mondok minimal 100 orang  dulu. Kami ingin mengaji dan doa bersama, agar bangsa ini lepas dari berbagai cobaan,” ungkap Badri Abdul  Djalil.

Menanggapi berbagai harapan tersebut, Kakan Kemenag Makassar, Arsyad Ambo Tuwo menadaskan,  mencermati pola pendidikan pesantren, dibanding sekolah umum, sebenarnya pesantren memang lebih aman  karena santrinya mondok. Apalagi ada sistem Halaqah bersama kyai sebagai mursyid.

Secara umum, Makassar memang masih zona merah, tapi fakta menunjukkan. ada titik tertentu di Kota Makassar  tidak status zona merah. Kuncinya perlu ada komunikasi yang lebih intens antara pihak FUPPI dengan tim gugus  covid-19,tutur Arsyad Ambo Tuwo.

Kadis Pendidikan Makassar, H A Amaliah Malik mengakui, saat ini banyak sekali permintaan minta agar sekolah  kembali dibuka untuk dapat belajar tatap muka, namun pemerintah belum membolehkannya, karena masih  pandemi covid-19.

Meski demikian, Kadisdiknas menyarankan, agar FUPPI segera menyurat ke tim Gugus covid-19 dengan  melampirkan surat pernyataan orang tua santri tak keberatan anaknya kembali mondok. Selanjutnya, kami siap  fasilitasi.

Tindaklanjutnya, diharapkan kelak, tim gugus melakukan peninjauan lapangan ke pesantren. Tujuannya untuk
mengetahui secara nyata/faktual, layak atau tidaknya sebuah pesantren untuk belajar versi tatap muka, tandas  Kadis Diknas.

Sebelumnya Ketua FUPPI, Ir Ridwan Abdullah mengemukakan, FUPPI yang terbentuk 2017, sejak awal tujuannya  jalin kerjasama internal. Selain itu sebagai mediator komunikasi ke pemerintah berbagai hal terkait kepesantrenan.

”Kali ini, FUPPI gelar silaturahmi, berangkat dari niat suci terlaksananya pembinaan SDM santri yang lebih optimal.
Pertimbangannya, mencermati realitas sosial, kini ada kecenderungan peserta didik terlalu bebas dan potensi  berujung keputusasaan dan putus sekolah,” tandas Ridwan Abdullah.

Senada dengan itu, Direktur Ponpes IMMIM, Dr Mukhlis Mukhtar,MA menegaskan, silaturahmi FUPPI ini untuk  menyamakan persepsi dan langkah sesama pengelola pesantren. Pasalnya, banyak orangtua bertanya, kapan  pesantren kembali dibuka?. Jawaban kami hanya satu padaortu santri, menunggu keputusan pemerintah.

Khusus Pesantren IMMIM, lanjut Mukhlis Muhtar, telah dirumuskan sistem protokol kesehatan yang sangat ketat.
Didalamnya mencakup pengelola,guru,santri,karyawan dan orang tua. Rohnya tetap merujuk protokol kesehatan  pemerintah.

”Salah satu item dari sistem protokol kesehatan versi IMMIM adalah, 14 hari sebelum masuk mondok, orang tua  harus isolasi anaknya 14 hari di rumah,” tegas Mukhlis Muhtar. (arf).

Loading...

#TRENDING

To Top