Tim PPPUD Politani Pangkep Gelar Diversifikasi Olahan Bandeng tanpa Duri

  • Whatsapp
Tim PPPUD Politani Pangkep Gelar Diversifikasi Olahan Bandeng tanpa Duri

Tim PPPUD Politani Pangkep Gelar Diversifikasi Olahan Bandeng tanpa Duri

Pangkep, Upeks.co.id— Tim Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) Tahun ke-III dari Program Studi (Prodi) Agroindustri bekerjasama Kemenristek Dikti melaksanakan pelatihan diversifikasi olahan ikan bandeng tanpa duri (Batari Parape dan Batari Toppalada) kepada mitra UKM binaan di Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep.
Tim PPPUD Kabupaten Pangkep Tahun ke-III kerjasama Kemenristek Dikti tersebut diketuai oleh Dr. Ir. H. Muhammad Fitri, MP. Mitra terpilih dalam kegiatan ini adalah UKM Mentari Citra Lestari binaan Ratnawati Mentari, yang merupakan salah satu UKM yang memproduksi olahan ikan bandeng tanpa duri di Pangkep.

Bacaan Lainnya

Dr. Ir. H. Muhammad Fitri, MP selaku ketua tim PPPUD mengatakan, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) memiliki potensi kelautan dan perikanan yang cukup tinggi dan memiliki keragaman jenis ikan.

 

Hal tersebut menjadikan Sulsel miniatur kelautan dan perikanan di Indonesia.

 

Produksi ikan bandeng Sulsel merupakan yang tertinggi di Indonesia. Adapun capaian produksi bandeng tahun 2016 lalu, yakni sebesar 127.434,1 ton, atau setara dengan 18,9 persen dari produksi nasional.

Ikan bandeng, lanjut dia, merupakan komoditas perikanan di Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulsel, yang pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebanyak 28,759 ton.

 

Hal ini menunjukkan produksi ikan bandeng meningkat dari tahun ke tahun, nilai yang cukup tajam dengan kenaikan 13,9 persen.

 

Muhammad Fitri menjelaskan, dalam usaha pemanfaatan ikan bandeng, UKM Mentari Citra Lestari telah mengembangkan bandeng segar tanpa duri di Kabupaten Pangkep, sebagai potensi penghasil ikan bandeng di Sulsel.

 

Hanya saja, pengolahan bandeng tanpa duri masih perlu dilakukan pembinaan. Karena dalam hasil survei, masih banyak kendala yang dilakukan terutama dalam sistem rantai dingin, sanitasi dan hygiene alat serta pekerja dalam penanganan bahan baku sampai pada pengolahan yang belum dilaksanakan serta pengemasan, sehingga ini mengurangi mutu dari produk bandeng tanpa duri yang dihasilkan.

 

“Dari permasalahan yang dihadapi UKM mitra, maka tujuan PPPUD ini ada lima. Yakni, pertama adalah memberdayakan UKM mitra melalui alih teknologi. Kedua, meningkatkan kemampuan manajemen pemasaran sehingga memiliki daya tarik produk unggulan kepada masyarakat luas,” jelasnya.

 

Tujuan PPPUD yang ketiga, kata dia, adalah menghasilkan Diversifikasi olahan produk baru dan pendaftaran perijinan usaha dan analisis komposisi kimia produk dalam menjamin keamanan pangan. Keempat, yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat (penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan). Terakhir atau kelima, adalah peningkatan nilai aset dan omset mitra/UKM.

 

Muhammad Fitri mengungkapkan, UKM Mentari Citra Lestari telah dibina selama tiga tahun mulai tahun 2018 hingga 2020 melalui program pengabdian dari Menristek oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Politani Pangkep berupa program PPPUD.

 

“Bandeng merupakan ikan yang mempunyai rasa gurih sehingga biasa disebut fish milk, kandungan proteinnya tinggi. Tapi ikan bandeng mempunyai kekurangan, yaitu memiliki duri yang banyak sehingga kurang diminati oleh anak-anak,” ujarnya.

 

“Enam bulan berjalan atau mulai Januari sampai Juni 2020, produksi bandeng tanpa duri (Batari) rasa parape dan rasa toppalada, rata-rata mencapai 58 Kg/bulan. Harga ikan segar Rp20.000/kg, setelah dibuat batari rasa parape dan toppalada perbulan dijual Rp120.000/Kg. Jadi Rp120.000×58 Kg = Rp6.960.000. Pembelian ikan bandeng Rp20.000×58 Kg = Rp1.160.000.
Jadi total keuntungan bersih perbulan Rp6.960.000-Rp6.220.000 yaitu Rp740.000. Keuntungan bersih sama dengan keuntungan kotor dikurangi (bahan baku, bahan tambahan, es curah, air pan, gaji karyawan, pengemasan, listrik), jadi total selama enam bulan sebanyak Rp4.440.000,” sambungnya.

 

Produk diversifikasi batari ini, lanjut dia, diproduksi dan dikembangkan menjadi produk dendeng batari, batari rasa Parape dan rasa Toppalada.

 

“Produk ini tersedia dalam bentuk produk frozen yang higienis yang harganya sangat terjangkau dan pemasarannya sampai luar Sulsel,” ujarnya.

 

Muhammad Fitri menambahkan, keberhasilan PPPUD tersebut tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan Ketua LPPM Politani Pangkep, Dr. Ir. Dahlia, MP dan Direktur Dr. Ir. H. Darmawan, MP.

 

“Terima kasih kepada Kemenristek yang telah membantu kegiatan ini. Karena kegiatan ini sangat menyentuh langsung ke masyarakat dalam mengembangkan produk unggulan daerah,” ungkapnya.(rif)

Pos terkait