ANEKA

Korban Dokter Elisabeth Bakal Melapor ke KY

MAKASSAR, UPEKS.co.id —Korban suntik filler berinisial ADF melalui kuasa hukumnya, Achmad Rudyansyah  rencana melayangkan laporan ke Komisi Yudisial (KY) Republik Indonesia di Jakarta.

Hal itu akan dilakukan karena korban merasa kecewa dengan putusan bebas Ketua Majelis Hakim pada terdakwa  dokter Elisabeth, Rabu (1/7/20) lalu.

Pengacara korban dari Plural Law Form, Achmad Rudyansyah dikonfirmasi mengatakan, upaya tersebut dilakukan  lantaran korban belum mendapatkan keadilan yang diharapkannya di Pengadilan Negeri Makassar.

Mejeli Hakim kata dia, justru mengabaikan banyak sekali fakta sidang dan bukti-bukti yang menunjukkan  perbuatan melawan hukum terdakwa dapat terpenuhi.

Akibat perbuatan nyata terdakwa, Rudy menilai, Hakim dengan putusannya itu justru seolah olah menyalahkan  korban dan memberi tekanan baru pada mental korban.

“Kita kan tahu Jaksa menuntut empat tahun penjara. Ini malah bebas. padahal fakta sidang sudah sangat jelas,  terdakwa mengakui tidak melakukan prosedur berupa kesepakatan tertulis dan tidak memberikan penjelasan rinci  terkait risiko tindakan medisnya, ” kata Rudy, Jumat (3/7/20).

Tapi, saat dijatuhi hukuman, hakim malah mengabaikan kondisi korban yang telah nyata mengalami kebutaan  permanen di mata kirinya. Padahal itu memberi tekanan baru pada psikologi korban.

Selama ini, sebagai pihak yang mencoba menuntut keadilan, Rudy mengaku memang sudah melihat gelagat  mencurigakan. Empat kali sidang putusan justru ditunda untuk digelar.

“Benar saja, kecurigaan kami terbukti. Hakim membebaskan pelaku dan miris bagi kami karena dalam putusan  tersebut, hakim menilai kebutaan permanen mata kiri klien saya bukan disebabkan kelalaian dan kesalahan  tindakan medis pelaku. Malah menganggap apa yang menimpa korban tidak lain merupakan risiko tindakan medis
kedokteran saja,” sebutnya.

Rudy menuturkan, jika Hakim benar-benar objektif, seharusnya fakta dan bukti-bukti terkait perbuatan pelaku  diganjar dengan hukuman yang setimpal.

Sebab menurutnya, sudah sangat nyata, dokter Elisabeth pada faktanya bukan merupakan dokter spesialis kulit.  Dia hanya menjalani beberapa pelatihan.

Tak hanya sampai disitu saja, Rudy juga mengungkapkan dalam sidang, dokter Elisabeth juga terbukti tidak  memberikan penjelasan mengenai risiko dari tindakan medis yang akan dilakukannya pada korban.

Bahkan sudah sangat terang, pelaku yang merupakan dokter biomedik tersebut, kata Rudi sama sekali tidak  melakukan dan menjalankan prosedur umum tindakan medis kedokteran.

“Tidak ada surat pernyataan, berupa kesepakatan tertulis untuk disetujui terlebih dahulu sebelum dilakukannya tindakan medis suntik filler. Padahal dimana-mana, dan sesuai dengan undang-undang praktik kedokteran, itu jelas jelas diharuskan untuk dilakukan untuk tindakan medis kedokteran yang berisiko,” ujarnya.

Lebih disesalkan lagi kata Rudy, tuntutan empat tahun dan putusannya malah bebas. Itu dimana-mana Jaksa tidak  perlu pikir-pikir dan repot-repot meminta petunjuk pimpinannya, itu hukumnya wajib. Jaksa secara otomatis menyatakan kasasi.

Melihat hal tersebut, Rudy mengaku khawatir, upaya kasasi Jaksa juga tidak akan berjalan sesuai yang  diharapkan. Sehingga selain akan melaporkan ke Komisi Yudisial, pihaknya juga akan bersurat pada Komisi Kejaksaan.

“Kami berharap agar Komisi Kejaksaan memberi atensi dalam kasus ini. Saya terus terang khawatir, walaupun Jaksa nantinya nyatakan untuk kasasi, tapi melihat bagaimana perkara ini berat sebelah, saya khawatir memori  kasasinya diulur-ulur dan akhirnya kasasi tersebut tidak diterima,” tutupnya.(Jay)

#TRENDING

To Top