FEBI UIN Alauddin Seminar Nasional Virtual “Menggagas Pola Pikir dan Pola Zikir Kaum Milenial”

  • Whatsapp
FEBI UIN Alauddin Seminar Nasional Virtual "Menggagas Pola Pikir dan Pola Zikir Kaum Milenial"

FEBI UIN Alauddin Seminar Nasional Virtual "Menggagas Pola Pikir dan Pola Zikir Kaum Milenial"

MAKASSAR,UPEKS.co.id–Kampus adalah tempat kaderisasi calon-calon pemimpin bangsa di masa depan.  Sudah sering disebutkan kampus, miniatur masyarakat dan itu memang tepat. Di kampus berbagai orang dengan  berbagai latar belakang, ras, agama, pemikiran, ideologi dan kepentingan berkumpul dalam sebuah sistem.

Bacaan Lainnya

Kampus sebagai tempat pengkaderan pemimpin masa depan bangsa dan pusat peradaban masyarakat modern.

Dimana dari kampuslah bermula berbagai gagasan, inspirasi, serta motor dalam hal ini sumber daya  mahasiswanya sebagai kaum milineal yang akan mewarnai dan menentukan arah perjalanan bangsa.

Kampus sebagai pusat peradaban masyarakat modern menjunjung tinggi integritas dan menjaga nilai-nilai Good  Governance jauh dari korupsi dan keculasan lainnya. Budaya korup baik itu dipraktekan oleh mahasiswanya  melalui nyontek saat ujian atau menitipkan absen atau juga pemalsuan data skripsi maupun oleh birokrat
kampusnya yang menyelewengkan dana mahasiswa nya adalah cerminan gagalnya proses pendidikan di kampus.

Sebuah ungkapan “Knowledge is power but character is more” mempertegas bahwa pengembangan karakter  melalui penjagaan integritas merupakan harga mati bagi sebuah institusi pendidikan.
Oleh katrena itu peran pola pikir dan pola zikir terhadap kaum milenial kampus atau kaum muda terpelajar adalah  sangat penting dan bahkan pola pikir dan zikir menjadi atmosfer bagi insan akademisi.

Hal ini dipertegas Rektor UIN Malang Prof. Dr. H. Abdul Haris, M.Ag, salah narasumber dalam seminar nasional  yang digelar secara virtual, kemarin.

Menurutnya, dua modal utama yaitu zikir dan pikir kuatkan jiwa. Zikir dengan sepenuh hati. Dengan pola duduk,  berbaring dan berdiri. Mengingat keagungan dan kebesaran ilahi.

Telah ciptakan semua yang ada termasuk diri sendiri. Dengan lisan dan hati bahkan secara sirri. Penuh asyik dan  mansuk cinta bahkan lebih. Boleh dengan media banyak aplikasi dalam TI. Zikir para milenial muda harus diformat  seperti sufi.

“Pikir sebagai konsekuensi. Sebuah relasi dan korelasi yang tinggi. Seperti Albert Eintein ilmuwan yang mengakui.  Sains tanpa agama buta tak bernilai. Agama tanpa sains pincang tak berarti. Zikir dan pikir dua pilar musti  integrasi. Kalau saja dichotomi terjadi pasti menjadi cerai berai,” jelas Prof Abdul Haris.

Kaum milenial musti terus didekati. Peradaban dibangun bertumpu pada kreasi. Dengan mulai kuatkan literasi  berbasis transendensi.

“Mari kita bangkitkan kaum milenial kini. Dengan zikir dan pikir simultan tanpa henti. Dengan pola dan gaya yang  disukai. Gunakan media teknologi informasi dengan banyak aplikasi. Membangun peradaban dunia berbasis  sains, teknologi dan religi,” jelas Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Narasumber lainnya, Prof. Dr. H. Abustani lebih menekankan kepada karakter dalam membangun peradaban  modern terhadap kaum milenial kampus sebagai generasi bangsa.

Diungkapkan, karakter adalah sifat/watak yang mempengaruhi segenap pikiran, prilaku, budi pekerti dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya.

Menurut Nurcholish Madjid, manusia pada hakikatnya memiliki dua sifat yang bertentangan. Hippocrates, seorang dokter masa Yunani Kuno juga menyebutkan ada 4 karakter dasar manusia, katanya.

Prof Abustani memaparkan keempat karakter itu, pertama Koleris adalah sosok pribadi tempramen yang ambisius,  kompetitif, focus dengannya dan sering “mendaki” ke posisi yang lebih tinggi. Kedua, sanguinis merupakan  karakter yang memiliki tempramen yang fleksibel dari karakter lainnya.

Ketiga, melankolis ialah orang bertempramen yang cenderung privat, introvert analitis dan factual dalam  berkomunikasi. Keempat, plegmatis adalah manusia tempramen yang cenderung pasif dan tidak begitu ambisius.

Lebih jauh Prof Abustani menjelaskan bahwa kaum milenial juga harus berwawasan intlektual, bermartabat dan  visioner.

Paling tidak ada beberapa hal yang meningkatkan intlektual, martabat dan visioner. Pertama, selalu berusaha  memperluas wawasan. Kedua, senantiasa berimajinasi. Ketiga, konsistensi belajar.

“Belajar adalah proses yang tidak pernah berhenti selama masih hidup. Nabi SAW. memerintahkan selalu belajar:

“Utlubul Ilmu minal Mahdi ilallahdi”. Bahkan dasar ke-Islaman kita didasari dengan perintah membaca “Iqraa bismi  rabbikalladzii khlalaq.

” Tentu saja dengan ke ilmuan tersebut memacu kemajuan diri sendiri, juga dengan secara kolektif umat Islam, al- islamu ya’lu walaa yu’laa alaih,” tandas Prof Abustani.

Seminar nasional virtual ini diharapkan memberikan kontribusi ilmiah terhadap kaum milenial kampus. Sedangkan yang bertindak moderator adalah Dr Amiruddin.

Dia mengatakan, kampus sebagai peradaban modern dapat melahirkan anak bangsa yang kekinian dan mampu  memadukan pola pikir dan pola zikir dalam bersikap dan bertindak. (rls)